Kepala Desa Tibubeneng I Made Kamajaya (tengah) didampingi Anton Hilman (kanan) dan Edgar. (BP/may)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Canggu sejak beberapa tahun terakhir telah berubah menjadi wilayah yang macet dan padat. Namun kondisi itu tak menyurutkan minat investor untuk berinvestasi.

Kepala Desa Tibubeneng I Made Kamajaya mengaku senang dengan kehadiran investor karena akan menambah warna baru bagi segmen akomodasi. Investasi yang dibutuhkan di Tibubeneng, katanya, bukan hanya dari sisi jumlah namun juga keberlanjutan pariwisata di wilayah itu. “Yang penting buat saya, semakin banyak investasi maka semakin banyak partner yang diajak untuk berpartisipasi dalam menjaga desa ini agar terus menjadi tempat yang menarik,” jelasnya.

Hingga saat ini baru ada 4 hotel besar yang berdiri di Canggu. Rata-rata jumlah kamar mencapai 200 unit.

Baca juga:  Pandemi, Jembrana Mampu Tarik Investasi dan Serap Ribuan Lowongan Kerja

Diakui ia tak membatasi investasi yang masuk, yang bisa dilakukan hanya memberi arahan agar selalu memperhatikan dampak lingkungan, menghormati budaya dan adat penduduk lokal agar perkembangan terarah, tidak tercerabut dari akar.

“Kebanyakan hotel butik yang memang punya perbedaan dan ada juga tempat usaha yang mendatangkan pengunjung hingga ribuan wisatawan seperti beach club akan saling melengkapi sehingga orang datang ke Tibubeneng dapat menikmati desa. Jadi kami tidak melihat dari banyaknya kamar tapi kualitas,” ujarnya.

Permintaan akan pembangunan hotel maupun investasi dalam bentuk lainnya pun diakui terus ada dan bertambah banyak. Jumlahnya mencapai ratusan.

Salah satu investor, Anton Hilman, Kamis (23/11), menyampaikan bahwa Canggu adalah tempat yang paling terkenal di Indonesia dan Bali saa ini. Maka dari itu ia ingin berpartisipasi dengan membawa sesuatu yang berbeda. “Kita ingin tunjukkan bahwa Indonesia mampu berkelas dunia dan diterima masyarakat internasional,” ujarnya.

Baca juga:  Penantian 100 Tahun, Gubernur Koster Keluarkan Sertifikat Tanah Gratis ke Warga Tanjung Benoa

Ia pun mengutarakan pihaknya mendirikan The Luc yang perusahaan asli Indonesia itu dihadirkan dengan konsep baru, hotel dan resort dengan komersial area. Komersial area yang biasanya diisi dengan barang branded impor, diisi dengan brand terkenal dari Indonesia. Menurutnya hal itu dilakukan untuk membantu UMKM naik kelas dan dikenal masyarakat Internasional.

Dengan kepadatan atau kemacetan yang terjadi di Tibubeneng dan Canggu, ia menilai tak terlalu dipersoalkan karena menurutnya kondisi itu tidak hanya terjadi di Bali. Meski demikian ia berupaya mengurangi kemacetan itu dengan membangun basement yang kapasitasnya sangat besar. “Karena itu tanggung jawab kita untuk bisa menyiapkan lahan parkir yang kondusif, yang nyaman,” tandasnya.

Baca juga:  BPR Lestari Group Akuisisi BPR (lagi) di Jogjakarta

Director of Develeopot Indonesia Tui Blue, Edgar Trutung mengatakan pihaknya menargetkan wisatawan domestik dan mancanegara. Untuk wisman, khususnya Eropa. “Karena kekuatan kami creating destination, jadi nanti kita arrange aktivitas makanya kita juga kerja sama dengan ritel dan juga aktivitas di desa ecotorusim dan beach club. Kita akan gabungkan menjadi package,” imbuhnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN