Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga Provinsi Bali, Dr. Drs. I Made Gede Putra Wijaya, S.H., M.Si. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Panca Marga Provinsi Bali, Dr. Drs. I Made Gede Putra Wijaya, S.H., M.Si., mengatakan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November harus dimaknai sebagai bentuk refleksi bagaimana para pejuang angkatan 1945 memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Terlebih di tahun politik 2024.

Oleh karenanya, sebagai pemuda penerus bangsa, utamanya para keturunan para pejuang angkatan 1945, harus menyikapi dengan bijak hiruk pikuk pelaksanaan Pemilu Serentak Tahun 2024 untuk pemilihan Presiden dan Wakil Presiden maupun pemilihan anggota legislatif. Bagaimana pun juga pemuda harus menjaga keutuhan NKRI dengan cara menghormati hukum yang ada.

Ia mengatakan sebagai warga negara yang baik mestinya semua taat dan tunduk kepada Undang-Undang Pemilu yang berlaku. Sehingga, apa yang dicita-cita oleh para pahlawan dan para pejuang pendiri Republik Indonesia ini bisa dilanjutkan. “Seperti misalnya, bagaimana kita tidak ikut dalam adu domba antara partai politik, karena bagaimana pun bahwa Pemilu aman berjalan dengan lancar menjadi harapan kita semua. Apabila terjadi chaos, maka yang rugi adalah masyarakat, sementara kita tidak mendapatkan apa-apa,” ujar Putra, Kamis (9/11).

Sebagai pimpinan Pemuda Panca Marga Provinsi Bali, Putra Wijaya berharap di Hari Pahlawan 10 November ini seluruh masyarakat Indonesia agar mentaati aturan dan mengingat semangat jiwa nilai-nilai 1945.

Baca juga:  Hari Pahlawan 2018, Diisi Heningkan Cipta 60 Detik

Di bidang pendidikan, Ketua YPLP Kabupaten PGRI Badung ini berpesan kepada generasi muda agar terus semangat menempuh pendidikan untuk memerangi kebodohan sesuai dengan cita-cita para pahlawan. Terlebih, dunia pendidikan saat ini sudah didukung dengan perkembangan teknologi yang serba canggih.

Teknologi yang ada harus dimanfaatkan dengan bijak untuk menghasilkan kreativitas yang inovatif. Jangan sampai kecanggihan teknologi yang ada dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif yang menyebabkan generasi muda terjebak di dalamnya. Apalagi, banyak berita bohong (hoax) berseliweran di media sosial yang dapat memicu adu domba di tengah masyarakat.

Rektor Unwar Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, MP., mengatakan Hari Pahlawan merupakan tonggak perjuangan Bangsa Indonesia. Di dalamnya, ada semangat persatuan untuk berjuang, bebas menentukan nasib  sendiri, Bangsa Indonesia bangsa besar, ada rasa bersatu untuk menang, ada rasa kebangsaan, dan ada rasa kebahasaan yang menjadi kekuatan yang tidak terbatas untuk maju dan merdeka.

Oleh karena itu, generasi muda mesti memaknai nilai-nilai hari pahlawan ini untuk Bangsa Indonesia yang lebih tangguh ke depan. Jangan sampai generasi muda mudah terprovokasi dengan isu-isu yang negatif di media sosial. Terlebih di tahun politik saat ini.

Baca juga:  Peringati Hari Pahlawan, Wakapolresta Serahkan Reward

Prof. Pandit mengajak generasi muda terutama mahasiswa terus menggelorakan persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat untuk membangkitkan semangat menuju Indonesia Jaya.

Sekretaris DPP Peradah Indonesia Provinsi Bali, I Ketut Eriadi Ariana, mengatakan ada beberapa hal yang perlu diteladani dari spirit Hari Pahlawan oleh generasi muda. Pertama, melalui Hari Pahlawan pemuda Bali hendaknya dapat terus merawat dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa, terlebih pada tahun 2024 kita akan menyongsong tahun politik. Pemuda Bali wajib mengambil peran menggelorakan Pemilu yang damai, aman, bebas, jujur, dan adil sejalan dengan nilai-nilai demokrasi dan semangat reformasi. “Pemuda wajib terlibat dalam politik negeri ini, meskipun tidak harus pada ruang politik praktis. Pemuda harus berani mengawal kebijakan pemerintah serta memberi solusi terhadap berbagai permasalahan sosial,” ujar Penyarikan Duuran Batur ini.

Kedua, Hari Pahlawan dapat dimaknai sebagai momentum perjuangan dan pengorbanan bagi bangsa dan negara. Pemuda Bali penting mengingat sejarah bagaimana Republik ini didirikan melalui jasa dan perjuangan para pahlawan.

Perjuangan pemuda pada era ini tentu tidak lagi menghunus senjata atau bergerilnya di hutan, tetapi memperjuangkan masalah masyarakat yang lebih nyata. Kemajuan teknologi adalah modal pemuda Bali untuk memperjuangkan masalah kebangsaan.

Baca juga:  Terdakwa Jaringan Ribuan Ekstasi Hanya Dihukum 12 dan 13 Tahun Penjara

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membangun soliditas dan solidaritas masyarakat dalam mengurai persoalan sosial. Pemuda dengan kemudahan akses media sosial dapat menjadi penyambung lidah bagi kalangan menengah ke bawah yang tidak tersentuh oleh pemerintah maupun instansi formal. Gerakan berbasis digital terbukti ampuh mampu menyuarakan suara rakyat kecil dan menghimpun gerakan massa untuk bergerak bersama membangun solidaritas sosial.

Ketiga, momentum hari pahlawan juga dapat diunduh sebagai ruang mempertajam daya kritis dan kepercayadirian pemuda. Dalam arus komunikasi digital, kerentanan penyebaran berita bohong sangat tinggi. Oleh karena itu, pemuda dapat mengambil peran sebagai agen penyaring informasi sehat. Pemuda idealnya melek teknologi beserta etis di dalamnya, sehingga dapat membimbing masyarakat menyeberangi samudera ketidakpastian informasi.

Dan keempat, Hari Pahlawan juga menjadi ajang milenial untuk mengambil peran sebagai agen propaganda untuk memasyarakatkan nilai-nilai ke-Nusantara-an. Digitalisasi dapat menjadi media kekinian dalam mewariskan kearifan nusantara. Nilai-nilai ke-Nusantara-an adalah modal dasar membangun karakter bangsa yang tangguh dan unggul sebagai jalan menjemput bonud demograsi menuju Indonesia maju. (Winatha/balipost)

BAGIKAN