Petugas BKSDA melaksanakan patroli untuk mencegah kebakaran hutan saat musim kemarau. (BP/ist)

BANGLI, BALIPOST.com – Masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan di Kintamani dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran seperti membakar sampah atau sisa hasil pertanian. Pasalnya aktifitas tersebut sangat rentan memicu terjadinya kebakaran hutan saat musim kemarau.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Bali Sulistyo Widodo, Selasa (8/8), mengungkapkan bahwa berdasarkan pengalaman selama ini, kasus kebakaran hutan di Kintamani ditenggarai banyak disebabkan karena adanya aktifitas pembakaran sampah/sisa hasil pertanian oleh warga di sekitar hutan. Selain itu faktor lainnya yang juga memicu terjadinya kebakaran adalah karena adanya perilaku buang puntung rokok sembarangan di dekat/sekitar hutan.

Baca juga:  Satu Keluarga “Ngubu” di Kawasan Hutan

Agar kebakaran hutan tidak lagi terulang saat musim kemarau ini, Sulistyo mengaku pihaknya telah melakukan upaya preemtif dengan sosialisasi dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk waspada dan ikut menjaga hutan dengan baik. Pihaknya juga memperbanyak pemasangan spanduk yang berisi peringatan dan himbauan supaya masyarakat tidak melakukan kegiatan yang rawan menimbulkan kebakaran hutan. Spanduk tersebut dipasang di titik-titik rawan. “Upaya preventifnya dengan mengintensifkan patroli,” ujarnya.

Baca juga:  Bulan Bahasa Bali 2019, Momentum dan Langkah Nyata Pelestarian Bahasa dan Aksara Bali

Patroli dilaksanakan oleh petugas polhut bersama masyarakat peduli api yang dibentuk dan dibina BKSDA. Patroli dalam rangka pencegahan kebakaran sudah mulai intensif dilakukan sejak dua bulan lalu. “Kalau kegiatan patroli untuk menjaga keamanan hutan rutin kami laksanakan,” terangnya.

Sulistyo menyebutkan hutan yang rawan mengalami kebakaran saat kemarau berada di sekitar Gunung Batur. (Dayu Rina/Balipost)

BAGIKAN