Belasan delegasi dari Thailand, Vietnam, dan Timor Leste mengunjungi Kelurahan Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Rabu (28/6) lalu. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Sebanyak 15 orang delegasi dari Thailand, Vietnam, dan Timor Leste mengunjungi Kelurahan Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Rabu (28/6). Kedatangan para delegasi tersebut untuk mempelajari Tsunami Ready Community (TRC) Tanjung Benoa.

Kunjungan tersebut diterima oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Badung yang p-ada kesempatan tersebut diwakili Plt. Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan I Wayan Netra, didampingi Kepala Forum Pengurangan Resiko Bencana Kelurahan Tanjung Benoa, I Wayan Deddy Sumantra. Plt Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Badung I Wayan Netra mengatakan, Tanjung Benoa telah mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari Unesco sebagai TRC.

Hal ini lantaran telah memiliki kesiapsiagaaan menghadapi bencana yaitu ketika terjadi tsunami. “Hal inilah yang ingin dipelajari oleh para delegasi. Di negaranya, contoh baik di Tanjung Benoa akan diterapkan. Ini adalah hal baik bagi Kabupaten Badung untuk mensosialisasikan, baik itu pariwisata, utamanya pariwisata yang siaga terhadap tsunami,” ujar Netra.

Baca juga:  Meninggalnya WN Jepang saat "Fly Fish", Polisi Sebut Belum Ditemukan Kelalaian

Menurutnya, para delegasi ini pun telah mengakui bahwa Kabupaten Badung itu indah dan berkomitmen akan datang kembali. Selain itu para delegasi tersebut juga akan menjadi duta bagi daerahnya untuk menyampaikan, bahwa datang ke Badung telah aman karena siaga terhadap tsunami. “Karena sudah aman, sudah ada shelter sebagai tempat tujuan mereka untuk evakuasi, dan mereka sudah diarahkan dengan rambu-rambu. Mereka sudah nyaman ke Bali, itu testimoni mereka tadi, nah kita menyambut baik,” ungkapnya.

Ia menyatakan akan mengembangkan TRC di desa/kelurahan yang berada di pesisir Badung. Lebih lanjut Netra menyatakan, terkait kebencanaan ini tidak terlepas dari peran Bupati dan Wakil Bupati Badung.

Baca juga:  Eks Warung Makan di Jalan Sibang Gede Terbakar

Sehingga Tanjung Benoa menjadi salah satu ikon dunia yang mendapatkan penghargaan Unesco sebagai TRC. “Ini berkat semangat dan dorongan dari Bapak I Nyoman Giri Prasta dan I Ketut Suiasa, maka kami terus bergerak. Astungkara sampai saat ini Tanjung Benoa mendapatkan penghargaan TRC. Ini berkat kepemimpinan beliau yang memberikan support dan semangat kita bekerja di lapangan,” jelasnya.

Ketua FPRB Tanjung Benoa I Wayan Deddy Sumantra menerangkan, kunjungan para delegasi terkait mitigasi bencana yang ada di Tanjung Benoa. Kemudian para delegasi ini juga ingin melihat bagaimana kerjasama dengan 7 hotel yang sudah memiliki MoU. “Mereka sangat tertarik dengan kegiatan yang dilakukan. Karena di Tanjung Benoa jika terjadi gempa di laut dan berpotensi tsunami, evakuasi vertikal atau hotel itu lah sebagai tempat evakuasi sementara,” terangnya.

Baca juga:  Berdampak pada Masa Depan, Penting Tanamkan 7 Sikap Ini Sejak Dini

Dalam kunjungan tersebut, disebutkan juga melihat secara langsung sirine tsunami di Tanjung Benoa. Kemudian juga meninjau kegiatan simulasi tsunami di SMP Negeri 3 Kuta Selatan.

Para delegasi tersebut juga diajak untuk melihat laut yang mengitari Tanjung Benoa, dengan harapan dapat mengetahui kondisi riil di Tanjung Benoa. “Harapan kami kedepannya dari FPRB agar delegasi negara dapat memberikan vibrasi yang positif terkait peningkatan dan kemajuan pariwisata di Tanjung Benoa. Kita pun akan mem-branding sebuah pariwisata baru, Tanjung Benoa tidak hanya terkenal dengan wisata tirta atau pariwisata bahari, tetapi kita akan membanding sebuah pariwisata yang baru yaitu pariwisata destinasi, mitigasi, siaga bencana,” jelasnya. (Adv/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *