Sekaa Teruna Werdi Mandala Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, membuat ogoh-ogoh berbentuk mobil. (BP/gik)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Budaya membuat ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi masih ramai dilakoni masyarakat Bali. Bentuknya pun beragam, ada yang dengan sosok seram, tokoh pawayangan, ada juga bentuk yang tak lazim dan unik. Seperti ogoh-ogoh buatan Sekaa Teruna Werdi Mandala Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, ogoh-ogoh mereka berbentuk mobil.

Para pemuda setempat secara khusus membuat ogoh-ogoh dengan bentuk mobil, yang bagian rodanya bisa bergerak karena menggunakan sistem mesin. Pembuatan ogoh-ogoh ini bukan tanpa alasan.

Perancang ogoh-ogoh ini, Teja, Rabu (15/3) mengatakan ogoh-ogoh ini merupakan bentuk kritik agar tidak ada lagi perburuan liar, utamanya burung. Sehingga alam lebih lestari dengan burung yang berkicau. Terlebih perburuan juga dilarang secara adat di desa tersebut.

Baca juga:  Bila Meletus dalam Waktu Dekat, Ini Daerah Terdampak Abu Gunung Agung

Walaupun berbentuk mobil, di dalamnya tetap ada bentuk raksasa yang dijadikan pengemudi dari kendaraan tersebut. Konsep pembuatannya seperti memiliki makna yang mendalam terhadap suatu fenomena yang tengah terjadi di lingkungan sekitar.

Ogoh-ogoh sebagai media kritik juga membuat keberadaannya punya makna lain, selain hanya merefresentasikan visual buta kala, yang dianggap selalu mengganggu manusia. Ide langka dari para penggagas ogoh-ogoh unik ini, juga disusun dari berbagai bahan alami dan mudah terurai.

Baca juga:  Dharma Santi Nyepi Kabupaten Jembrana Digelar di Wantilan Pura Jagatnatha

Tidak menggunakan bahan plastik atau sterofoam. Ogoh-ogoh yang dibuat campuran alami dan bahan mudah terurai, sudah digarap selama dua bulan lebih dengan biaya sekitar Rp 20 juta.

“Konsepnya adalah dilarang berburu, kalau berburu hama boleh. Kebanyakan ogoh-ogoh butakala, ini kita bikin mobil. Ini di dalamnya ada sopir, ada raksasanya juga, ceritanya orang berburu didatangi makhluk gaib. Pengerjaan sudah dua bulan dari Januari. Biaya habis sekitar Rp 20 juta,” kata Teja.

Baca juga:  Pembangunan Bandara Bali Utara Diminta Segera Realisasi

Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1945 akan dilaksanakan pada 22 Maret mendatang. Semua ogoh-ogoh diarak keliling desa sore hingga malam sehari jelang Hari Raya Nyepi. Hampir setiap banjar di desa-desa, sejak dua bulan terakhir disibukkan dengan membuat ogoh-ogoh. Ini sebagai salah satu budaya seni dari masyarakat yang terus tumbuh dan makin modern. Sosok-sosok yang lahir dari para seniman pun bermacam-macam, dengan keunikan dan latar belakang masing-masing, sesuai situasi di desa adat. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *