
DENPASAR, BALIPOST.com – Pertemuan Hari Suci Buda Wage Kelawu dengan Tilem Kasanga tahun ini dimaknai sebagai momentum refleksi mendalam bagi umat Hindu, khususnya dalam memaknai penggunaan kekayaan atau kesejahteraan.
Penyuluh Agama Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H, menyampaikan bahwa pertemuan hari-hari suci dalam kalender Bali bukanlah hal yang asing. Namun, yang terpenting bukan sekadar merayakan, melainkan memahami pesan spiritual yang terkandung di dalamnya.
“Setiap pertemuan hari suci membawa energi dan makna tersendiri. Umat tidak cukup hanya melaksanakan, tetapi juga harus mampu memaknai dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata,” ujarnya, Rabu (18/3).
Akademisi Unhi Denpasar ini menjelaskan, Buda Wage Kelawu merupakan hari suci berdasarkan sistem pawukon yang identik dengan pemujaan kepada Dewi Sri atau Dewi Laksmi sebagai simbol kemakmuran dan kesejahteraan. Dalam lontar Sundarigama, hari ini juga menjadi momentum untuk mengendalikan indria serta memohon anugerah kesejahteraan melalui yoga dan semadhi.
Sementara itu, Tilem Kesanga merupakan hari penting dalam rangkaian Hari Raya Nyepi yang ditandai dengan pelaksanaan Tawur Agung Kesanga, sebuah upacara Bhuta Yadnya untuk menetralisir kekuatan alam agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan.
“Upacara ini dilakukan dari tingkat rumah tangga hingga provinsi, sebagai bentuk nyata menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam,” jelasnya.
Dari pertemuan kedua hari suci ini, lanjutnya, tersirat pesan kuat terkait penggunaan uang atau kekayaan. Menurutnya, uang memiliki posisi yang sangat krusial karena dapat menjadi sumber kebaikan maupun keburukan, tergantung cara memperoleh dan menggunakannya.
“Uang hendaknya digunakan untuk yadnya, membangun kesejahteraan bersama, dan menjaga kelestarian alam. Bukan untuk eksploitasi, perpecahan, apalagi peperangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam situasi global yang penuh dinamika dan ketegangan, penting bagi setiap individu untuk tetap berpegang pada nilai dharma. Kekayaan harus dikelola dengan dasar kebenaran, ketulusan, dan tanggung jawab terhadap alam semesta.
Dengan demikian, kesejahteraan tidak hanya dinikmati secara pribadi, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan bersama serta menjaga keberlangsungan alam.
“Gunakanlah kekayaan untuk keharmonisan, bukan perpecahan. Itu pesan utama yang bisa kita petik dari pertemuan Buda Wage Kelawu dan Tilem Kasanga,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)










