I Gusti Ayu Ngurah Lita Rumiati. (BP/Istimewa)

Oleh I Gusti Ayu Ngurah Lita Rumiati

Teknologi digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi manusia saat ini. Teknologi Digital tidak sekadar menjadi platform bagi masyarakat untuk
berinteraksi dan menyebarkan informasi, namun juga untuk bekerja.

Meskipun teknologi digital terlihat memberikan kemudahan dan kebebasan akses bagi semua orang, pada dasarnya teknologi ini juga masih diwarnai oleh kesenjangan khususnya bagi kaum perempuan. Kesenjangan ini antara lain dipicu akibat sebagian kaum perempuan wajib menanggung peran ganda, yaitu melaksanakan kewajiban “domestik”-nya untuk mengurus rumah tangga dan sekaligus sebagai pekerja.

Mengingat berbagai jenis pekerjaan telah semakin terkoneksi dengan teknologi digital, maka kaum perempuan harus siap dan menyesuaikan diri dengan pesatnya perkembangan teknologi digital. Literasi digital adalah kemampuan seseorang untuk mampu memahami, menggunakan, melibatkan, mentransformasi teks, dan menganalisis informasi dalam bentuk dgital beserta perangkatnya.

Literasi digital akan berpengaruh di segala aspek kehidupan masyarakat. Dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy, Gilster (1997) menjelaskan bahwa literasi digital adalah kemampuan seseorang memanfaatkan informasi dalam berbagai bentuk, baik dari perangkat komputer atau ponsel.

Baca juga:  Karma Politik Indonesia

Menurut Rai (2019) literasi digital berarti memiliki keterampilan yang tepat dalam menggunakan teknologi digital untuk mencapai tujuan. Keterampilan digital meliputi pengetahuan dan kemampuan seputar atribut teknologi digital yang memungkinkan individu untuk meningkatkan potensi belajar, kehidupan dan pekerjaan mereka di era digital.

Adopsi teknologi digital dan literasi digital di Indonesia nampaknya masih didominasi kaum laki-laki. Data BPS tahun 2019 menunjukkan proporsi individu pengguna internet di Indonesia terdiri atas laki-laki sebesar 50,50 persen dan perempuan 44,86 persen. Data tersebut merefleksikan masih adanya kesenjangan digital berbasis (gender digital divide) yang bila ditelusuri lebih dalam, mungkin saja berakar pada kesenjangan secara structural secara politik, sosial dan ekonomi.

Baca juga:  Harapan Lepas Landas Ekonomi

Data itu tidak semata merefleksikan kesenjangan digital antar gender. Kondisi ini tentu perlu perhatian semua pihak, bukan semata mendorong adopsi teknologi digital oleh kaum perempuan tanpa disertai adanya literasi digital.

Peningkatan kemampuan kaum perempuan dalam menggunakan perangkat teknologi digital yang diperkuat literasi digital akan memberikan berdampak positif terhadap kehidupan keluarga serta perekonomian masyarakat. Kaum perempuan yang memiliki kemampuan literasi digital akan mampu melindungi diri sendiri serta keluarga dari berbagai informasi negatif yang demikian banyak di dunia digital.

Perempuan yang memiliki kemampuan dalam mengakses teknologi dan menguasai literasi digital akan mampu bersaing di bidang ekonomi dan mampu meningkatkan perekonomian keluarga.

Sayangnya, beban ganda yang secara sosiologis seolah-olah dilimpahkan kepada kaum perempuan menjadi kendala atau hambatan dalam peningkatan kemampuan dan literasi digital. Sebagian kaum perempuan merasakan adopsi teknologi digital tidak mudah, atau tidak ada manfaat yang dirasakan, karena tidak tersedia waktu untuk belajar akibat beban pekerjaan rumah tangga.

Baca juga:  Dukung Pemberdayaan Perempuan demi Kesetaraan Gender, Konjen Australia Gelar Webinar Hybrid

Walaupun masih ada pandangan bahwa teknologi merupakan dunia para lelaki, sebagian kaum perempuan, khususnya yang telah bekerja di sektor formal telah menunjukkan kemampuannya di bidang
teknologi. Kondisi ini harus membuat kaum perempuan bergerak aktif untuk belajar agar dapat memanfaatkan teknologi digital dengan lebih baik sehingga mampu bersinergi secara setara dengan kaum lelaki.

Di era ekonomi digital, kaum perempuan akan tetap berperan penting. Oleh sebab itu kaum perempuan harus pro aktif meningkatkan kompetensinya dengan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan
lainnya. Untuk meningkatkan adopsi dan literasi digital kaum perempuan diperlukan keberpihakan melalui edukasi literasi digital sejak dini serta pendidikan dan pelatihan berbasis digital.

Penulis, Analis Kebijakan Ahli Muda pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kabupaten Badung

BAGIKAN