Nyoman Parta memegang sapi Bali yang menjalani program penggemukan. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Guna mengurangi ketergantungan akan impor daging sapi yang dari tahun ke tahun makin bertambah, sejumlah anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Bali berinisiatif menggemukan Sapi Bali. Upaya penggemukan ini dilakukan di 4 kabupaten. Demikian dikemukakan salah satu anggota DPR RI yang menginisiasi upaya ini, Nyoman Parta, Rabu (5/10).

Ia mengatakan dirinya bersama 5 anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Bali berupaya melakukan penggemukan dengan memberikan pakan khusus yang dikembangkan seorang peneliti, dr. David. Penggemukan sapi Bali berjumlah 30 ekor dikembangkan di kandang rakyat yang ada di 4 kabupaten. Rinciannya, 10 ekor di Gianyar, 10 ekor di Tabanan, 5 ekor di Badung dan 5 ekor di Bangli.

Parta mengutarakan pengemukan sapi Bali dikarenakan daging yang dihasilkan berkualitas. Sapi Bali pun memiliki berbagai kelebihan, yakni bisa hidup di berbagai iklim, bisa makan apa saja dari setrat, tumbuhan hijau hingga jerami kering, dan kesuburan sapi betina bisa sampai 17 kali mempunyai anak.

Baca juga:  Selama 2020, Segini Korban Lakalantas¬†

Juga terdapat buliran lemak (marbling) di dalam daging yang membuat aroma daging tercium hingga jarak yang jauh. “Sayangnya, populasi Sapi Bali terus menerus berkurang, karena petani mengganti sapi dengan traktor untuk membajak lahan,” jelasnya dalam rilis yang diterima.

Selain itu, ukuran sapi yang relatif lebih kecil dan dagingnya yang tidak empuk membuatnya jarang digunakan di hotel dan restoran. “Kebanyakan standar daging yang digunakan chef di Indonesia mengunakan standar negara penghasil daging sapi. Jadi, walaupun Bali didatangi banyak turis, tetap saja yang dikonsumsi adalah daging sapi impor, Wagyu Jepang, Brahman India, Limosin dan Sapi Belgia,” sebutnya.

Baca juga:  Terkesan Sepak Terjangnya, Sego Buatkan Lagu untuk Nyoman Parta

Secara potensi, sapi Bali dikatakannya layak untuk dikembangkan. Sebab, konsumsi daging sapi di Indonesia sebesar 2,57 kg per kapita atau mencapai 706.388 ton. “Produksi nasional hanya sebesar 436.704 ton, sehingga ada defisit sebesar 207.199 ton,” ungkap Parta.

Saat ini, populasi sapi di Indonesia mencapai 18,05 juta ekor pada 2021. Angka ini lebih besar 3,52 persen dibanding tahun 2020 yang berjumlah 17,44 juta ekor.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor daging sapi sebesar 223.420 di 2020. Sedangkan pada 2021 sebesar 211.430 ton dan kuota impor pada 2022 mencapai 266.065 ton.

Ia pun mengatakan pada hari ini dilakukan pemotongan 2 ekor sapi yang kenaikan beratnya cukup signifikan. Berat awal sapi 1 sebesar 412 kg dan Sapi 2 mencapai 444 kg.

Baca juga:  Taman Rekreasi Mulai Kesulitan Beri Makan Satwa

Setelah diberikan pakan khusus selama 32 hari, berat sapi 1 menjadi 457 kg dan sapi 2 menjadi 497 kg. “Ini merupakan kenaikan yang sangat signifikan untuk kelas sapi lokal,” jelasnya.

Setelah dipotong, darah, daging dan kotoran sapi akan diuji Lab oleh Tim Lab Terpadu IPB Bogor dan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) Kementerian Pertanian untuk kualitas dan kandungan yang ada di dalam daging hasil penggemukan ini. Daging ini kemudian akan dilakukan proses pelayuan kemudian akan dinikmati bersama stakeholder terkait.

Treatment yang digunakan untuk penggemukan ini, disebutnya, membuat kotoran sapi sedikit mengandung gas metan sehingga bisa langsung diaplikasi ke lahan pertanian. Jadi tidak membutuhkan waktu untuk fermentasi lagi. (kmb/balipost)

BAGIKAN