Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali telah mengeluarkan instruksi tentang perayaan rahina Tumpek Wayang dengan upacara Jagat Kerti dan Atma Kerti sebagai pelaksana tata titi kehidupan masyarakat Bali. Berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Nangun Sat Kerti Loka Bali dalam Bali Era Baru.

Instruksi yang dijalankan sejak setahun lalu akan diimplementasikan lagi pada Tumpek Wayang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wayang, Sabtu (1/10) mendatang. Banyak yang belum paham ternyata pangeruwatan Tumpek Wayang pada intinya adalah pembersihan diri sendiri dan jagat Bali.

Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Dr. I Made Adi Surya Pradnya, S.Ag., M.Fil.H., saat berbicara pada Dialog Merah Putih Bali Era Baru di Warung Bali Coffee 63 Jl. Veteran Denpasar, Rabu (28/9) kemarin memberikan apresiasi kepada Gubernur Bali Wayan Koster, karena setiap tumpek selalu dirayakan sehingga bisa membumikan makna tumpek itu. Menurutnya, Tumpek Wayang merupakan implementasi dari Atma Kerti. Tumpek Landep untuk menyucikan sarana logam.

Tumpek Wariga dengan menyucikan tumbuh-tumbuhan sehingga bisa memberikan buah atau sari kepada masyarakat Bali. Kemudian Tumpek Kuningan, bagaimana menyucikan Bhuana Agung. Tumpek Klurut yang dimaknai sebagai hari cinta kasih. Tumpek Uye atau Tumpek Kandang untuk menyucikan hewan. Nah, Tumpek Wayang sangat tepat untuk pemaknaan penyucian diri dan jagat Bali. ”Mestinya ini sangat urgen dilakukan, saat Tumpek Uye, binatang saja dihias, saat Tumpek Wayang diri sendeiri harus dihias dengan hati yang suci,” tegasnya.

Dia mengatakan dalam diri manusia begitu lahir, dia sudah punya perwatakan atau wayang, yang disebut wayang jaba dan wayang jero (dalam diri sendiri). Ini yang selalu membuat manusia itu lebih eksis menghadapi kehidupan di dunia. Namun perlahan wayang jaba ini, diketahui sebagai kanda pat atau nyama pat. Karena semakin hari semakin besar manusia ini, tentu akan mengalami banyak persoalan, sering marah, sering benci emosi. Energi wayang Jaba ini akan meredup yang mengakibatkan kesialan, apa yang dikerjakan tidak berhasil.

Baca juga:  Musim Hujan, Aktivitas Penyeberangan di Kedisan Menurun

Oleh karena itu, setiap Tumpek Wayang seharusnya Wayang Jaba ini harus  disucikan kembali. Sehingga wayang Jaba akan kembali mendapatkan suplai energi. Wayang Jero dalam diri manusia akan lebih disucikan lagi, agar  terhindar dari hal hal yang kurang baik. “Dengan adanya Tumpek Wayang ini, kita memberikan edukasi kepada masyarakat untuk menyucikan diri kita. Ini merupakan implementasi wujud Atma Kerti itu sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, untuk pembersihan di hari Tumpek Wayang, bukan hanya dilakukan bagi yang lahir di Wuku Wayang saja, melainkan semua orang bisa melakukan pembersihan diri. Ini sesuai dengan sastra Mahakala Tatwa dan Maha Aji Sudamala. Bahkan kata dia, ada 60 jenis pangeruwatan yang harus dilakukan, baik karena kelahiran, jam lahir atau sebagainya. Tiap orang dipastikan masuk dalam 60 jenis pangeruwatan tersebut.

Dia menegaskan kalau Budaya Bali saat ini terus berkembang dinamis, dengan adanya visi Nangun Sat Kerti Loka Bali. Masyarakat Bali saat ini lebih dinamis dengan mengikuti perkembangan zaman tanpa menghilangkan esensi dan spirit Bali yang luar biasa.

Jero Mangku Dalang I Putu Gede Santika yang dikenal sebagai dalang Dug Byor asal Keramas, Gianyar menyampaikan apresiasi atas dikeluarkannya instruksi Gubernur Bali soal Tumpek Wayang. Seorang pemimpin telah mengingatkan masyarakatnya, dengan tujuan mengedukasi dan makin mencerahkan masyarakat Bali lewat dialog dan kebijakan. Makanya dia mengajak kita bersama-sama untuk membersihkan diri saat Tumpek Wayang.

Baca juga:  Siklon Lili, Masyarakat Diminta Waspada Gelombang Tinggi
I Putu Gede Santika. (BP/kmb)

Dia juga memaparkan terkait sapuh leger yang konsepnya adalah prayascita dan prastista. Prayascita disebut pembersihan, kalau sudah bersih baru akan dilakukan prastista atau diadegang. Oleh karena itu, pangelukatan Tumpek Wayang itu bermakna pembersihan diri dan jagat alias bumi.

Tumpek Wayang diadakan pada Saniscara Kliwon Wuku Wayang memiliki tiga makna.

Saniscara memiliki urip 9, letaknya di Selatan dengan Dewa Brahma yang sifatnya Pencipta. Sementara untuk Kliwon uripnya 8, Dewanya Siwa, warnanya mancawarna, lokasi di tengah, sifat sebagai Pelebur. Sedangkan Wuku Wayang, uripnya 4, letaknya Utara, Dewanya wisnu, warna hitam, sifatnya Pemelihara. Di sinilah terjadi konsep Purusa Tri Murti.

Dia menegaskan inti dari pangeruwatan Tumpek Wayang ataupun Sapuh Leger adalah pangelukatan sudamala. Sapuh berarti memberikan, dan leger artinya tuntas. Artinya membersihkan sampai tuntas baik diri sendiri maupun jagat ini.

Lalu bagaimana jika belum pernah melakukan pangelukatan Tumpek Wayang, dalang calonarang yang kini mendalami pengusada ini mengatakan dikembalikan lagi pada keyakinan pada Tuhan adalah segala-galanya. ”Mari kita lakukan pakem-pakem yang telah ditentukan sehingga akan membawa kerahayuan bersama,” tegasnya.

Dia juga mengatakan dari segi upakara bisa dilakukan sesederhana mungkin tanpa mengurangi tetandingan, yang penting maknanya tersurat dan tersirat.

Nah, siapakah yang berhak melakukan pangeruwata? Made Adi Surya Pradnya dan Jro Mangku Dalang Dug Byor mengatakan dari aspek religius, dikembalikan ke masing-masing desa kala patra atau daerah. Keduanya menegaskan yang lumrah dan berhak membuat tirtha pangelukatan adalah jero mangku dalang. Sebab tak semua dalang bisa melakukan hal ini sebelum berstatus jro mangku dalang yang diawali dengan tapa brata pemangku dalang.

Baca juga:  Soal Teluk Benoa sebagai Kawasan Konservasi, Kepmen Selaras dengan Perpres

Pengamat agama Hindu dari SMAN 3 Denpasar yang juga Guru Ajeg Bali, I Wayan Phala Suwara, S.Pd.H, M.Pd., mengapresiasi salah satu program Pemprov Bali berkaitan perayaan Tumpek Wayang. Tentu ini merupakan terobosan sehingga apa yang menjadi tujuan dari pelaksanaan Tumpek Wayang dan tata titi kehidupan masyarakat Bali, bisa menjadi benteng yang kuat bagi masyarakat Bali.

I Wayan Phala Suwara, S.Pd.H, M.Pd. (BP/kmb)

Lewat momentum baik ini, kita perlu meyakini proses pendidikan tidak hanya dalam teori saja namun harus ada pelaksanaan praktik di lapangan. Dengan adanya implementasi dari pelaksanaan tumpek-tumpek yang ada, membuat gambaran secara langsung bagi peserta didik utamanya siswa dan generasi muda menjalankan dharmaning agama secara benar.

Melalui surat edaran gubernur tentu ini akan memberikan ruang agar generasi muda bisa kembali memahami. Inilah momen bagus untuk memberikan pemahaman supaya tidak hanya mule keto. Sekaligus benteng bagi generasi muda yang sudah canggih dengan penggunaan teknologi agar tidak tergerus budayanya. “Mereka juga bisa mengakses semua ilmu pengetahuan melalui aplikasi, namun dalam penerapan sehari-hari harus diberikan pemahaman lebih lanjut,” ucapnya.

Dia menegaskan Tumpek Wayang adalam momen yang tepat untuk menyucikan diri dan kembali ke jati diri. Taksu di dalam diri kita dibangkitkan lagi, disucikan lagi dilanjutkan dengan penyucian bumi Bali. Makanya pas juga langkah Pemprov Bali serangkaian Tumpek Wayang, semua komponen diajak melakukan aksi membersihkan sampah plastik di Bali pada Jumat (30/9) secara serentak di Bali. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN