Press conference penangkapan pelaku jambret dan copet oleh Polresta Denpasar dilakukan di Monumen Ground Zero, Kuta. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Intensitas kriminalitas di kawasan Seminyak, Legian dan Kuta (Samigita) kian meningkat sejak menggeliatnya dunia periwisata Bali.  Wisatawan baik domestik dan mancanegara mulai mengunjungi Kampung Turis yang terkenal di dunia tersebut.

Polri, pemerintah daerah dan masyarakat bersusah payah menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah ini setelah 2 tahun dihantam gelombang Covid-19. Tapi sayang, kerja keras membangkitkan pariwisata justru dirusak oleh pelaku kriminal yang didominasi orang Bali sendiri. Mereka nekat melakukan penjembretan, pemerasan, dan lainnya.

Masyarakat terpaksa turun tangan membubarkan orang-orang yang nongkrong di sana. Pasalnya warga Kuta tidak terima citra wilayahnya tercoreng oleh pelaku kriminal tersebut.

Kapolresta Denpasar Kombes Pol. Bambang Yugo Pamungkas ingin menunjukkan keseriusan kepolisian khususnya Polresta menangani kasus-kasus kriminal yang terjadi di Kuta. Caranya, memamerkan lima pelaku jambret dan copet asal Karangasem berhasil ditangkap di Monumen Ground Zero, Kuta, Senin (8/8).

Bahkan Kombes Yugo mengancam pelaku tindak pidana yang berani beraksi di Kuta akan ditindak tegas terukur atau ditembak. “Kami sangat menyayangkan pelaku copet atau jambret yang selama ini beraksi di Kuta ternyata orang Bali. Ini sangat memalukan,” tegas Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu Ketut Sukadi, Selasa (9/8).

Mestinya, lanjut Sukadi, krama Bali turut andil menjaga keamanan dan ketertiban. Tujuannya agar Bali bisa cepat bangkit dari keterpurukan akibat Covid-19.

Baca juga:  Ratusan Anjing di Ketewel Divaksinasi Rabies

Ia berharap para pelaku tersebut bisa sadar dan tidak mengulangi perbuatan yang melanggar hukum itu. “Menjaga keamanan bukan semata-mata tugas kepolisian saja, tapi seluruh masyarakat Bali. Kalau Bali aman, pariwisata cepat pulih, ekonomi bangkit dan masyarakat sejahtera,” ujarnya.

Sementara perwakilan MDA Badung, Nyoman Astawa menyampaikan terima kasih atensi Kapolresta Denpasar terhadap masyarakat Bali dan Kuta pada khususnya. Dia berharap semua unsur bersinergi menjaga keamanan. “Kalau di desa adat ada Bankamda, Sipandu Beradat, pecalang dan linmas. Juga ada Jagabaya,” ujarnya.

Menurutnya, siapa pun kerja yang positif di Bali, tidak masalah. “Ketika ada orang melakukan tindakan yang merusak keamanan dan lainnya pasti kami di desa adat akan melakukan tindakan-tindakan terukur seperti disampaikan Kapolresta Denpasar,” tandasnya. Dia berharap Kuta dan Bali aman seterusnya. Pariwisata bangkit, apalagi Bali akan menyambut G20.

Bendesa Kuta Wayan Wasista juga menyampaikan terima kasih kepada Kapolresta Denpasar dan jajarannya, termasuk Polsek Kuta menangani kasus-kasus yang selama ini meresahkan para wisatawan. “Jadi kami selalu mohon agar bersinergi untuk sama-sama mengamankan wilayah Kuta yang notabene tujuan wisatawan. Kalau wisatawan tidak merasa nyaman, tentu mereka enggan datang kembali,” ucapnya.

Wasista berharap ada kolaborasi menjaga Kuta kembali aman dan nyaman bagi wisatawan. Semoga apa yang disampaikan Kapolresta Denpasar tentang ketegasan terhadap pelaku-pelaku tindak kriminal bisa dibuktikan. Karena masyarakat Kuta merindukan keamanan.

Baca juga:  Cegah Klaster COVID-19, Polsek Ubud Wajibkan Masyarakat Buat Ini Jika Gelar Upacara

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Legian, Kuta, Badung, Wayan Puspa Negara menjelaskan, maraknya kriminalitas di kawasan Samigita karena pariwisata mulai tumbuh. Jenis-jenis kriminalitas  identifikasi ada 8 yaitu copet dan jambret, penipuan money changer liar, spa ilegal yakni menaruh terapis di trotoar berpakaian seksi merayu wisatawan lalu ditipu, lady boy dan gigolo ujung-ujungnya menipu, pengepang rambut dan cat kuku, ojek liar, gepeng dan penjual tisu liar, serta orang kumpul-kumpul depan toko.

“Kondisi ini atau persoalan muncul saat pandemi melandai, copet dan jambret marak ada Juni dan Juli sangat masif. Bahkan sehari dua kali kejadian. Tidak satupun bisa ditangkap hanya pengaduan dari tamu melalui pihak hotel atau restoran. Umumnya yang dicopet HP dan uang,” ujarnya.

Kalau money changer ilegal, menurut mantan anggota DPRD Badung ini, juga sangat marak. Biasanya tamu asing tiba di Bali sudah diimbau oleh pihak hotel agar tidak menukar uang sembarangan, tapi tidak digubris karena melihat rate-nya. Kalau spa liar menawarkan harga murah, merayu tamu lalu dompet tamu diiris pakai silet. “Banyak sekali celah-celah kriminalitas,” ungkapnya.

Sementara pihak kepolisian khususnya Polsek Kuta, personelnya terbatas sekali. Cuma tujuh anggota patroli di wilayah lima kelurahan. “Artinya melihat polisi saja tidak mampu apalagi kita. Kami lega dengan ditangkapnya pelaku jambret,” tandas Puspa Negara.

Baca juga:  Tren Kenaikan Kasus Harian COVID-19 Nasional Masih Berlanjut

Menyikapi kondisi tersebut, LPM Kelurahan, Lurah, Bankamda, Sipandu Beradat, linmas,  penerepti, asosiasi security hotel, perwakilan banjar melakukan patroli gabungan. Mengantisipasi kondisi ini secara sosio-kultural. Patroli gabungan tersebut disupervisi Bhabinkamtibmas dan Babinsa. “Kami melakukan patroli 24 jam mulai 2 Agustus sambil dievaluasi. Hasilnya penipuan money changer tidak terdengar lagi, copet juga. Patroli swakarsa atau pam swakarsa ini lakukan secara stabil, periodik dan berkelanjutan sambil evaluasi. Antisipasi penyakit destinasi,” ungkapnya.

Puspa Negara berharap pemangku kepentingan dalam hal ini kepolisian membuat mode patroli, respons sistem lebih cepat. Demikian juga pemprov  dan Pemda Badung. Selain itu mesti ada penanganan bersifat komprehensif yang bisa mengasistensi masyarakat dalam kasus-kasus seperti ini, terutama dalam rangka menumbuhkan efek jera.

Terkait pelakunya orang Bali, Puspa Negara berharap ada komunikasi dari hulu ke hilir. Ada koordinasi dengan pemda asal pelaku. Maksudnya, gubernur mengajak koordinasi dengan bupati bersangkutan untuk beri peluang pekerjaan agar mereka tidak ke mana-mana. “Memang daerah mereka ekonomi sulit tapi koordinasi lintas bupati sangat penting agar dipahami warganya menjadi bagian penyakit destinasi,” tutupnya. (Kerta Negara/balipost)

BAGIKAN