Suasana ngaben massal di Desa Adat Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Desa Adat Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, kembali menggelar ngaben massal tahun ini. Puncaknya berlangsung pada Sukra Umanis Merakih, Jumat (29/7). Desa Adat Nyanglan ada di perbatasan antara Kabupaten Bangli dan Klungkung, sehingga setiap kegiatan adat secara turun temurun berlangsung unik, menyatukan dua kabupaten dan dilaksanakan bersama-sama.

Prosesi ngaben massal ini, diawali dengan prosesi ngebet atau ngangkid tulang di setra setempat, Selasa (26/7). Prosesi ngangkid ini, ditandai dengan menggali kembali kuburannya untuk diambil tulangnya dan ditempatkan di bade. Bendesa Gede Desa Adat Nyanglan, Jero Mangku Nengah Suanda saat ditemui di lokasi upacara mengatakan, prosesi ngaben massal sawa prenawa dan atma wedana yang digelar setiap lima tahun sekali.

Baca juga:  Krisis Kepsek, Puluhan SD Masih Dijabat Pelaksana Tugas

Tahun ini jumlah sawa prenawa ada sebanyak 57, sedangkan total atma wedana sebanyak 88 pitara. Dalam prosesi ngangkid ini, kuburan krama yang akan diaben, langsung dibongkar. Bagian tulang diambil dan dikumpulkan, untuk diproses lebih lanjut. “Proses diawali dengan mapiuning ke pura kahyangan desa dan dadia hingga merajan/sanggah masing-masing. Dilanjutkan dengan mapiuning di Pura Dalem, baru dilakukan prosesi ngangkid,” katanya.

Pada proses ngebet ini, beberapa sawa masih ada ditemukan dalam kondisi utuh. Ada juga yang kondisinya separuh utuh. Terutama mereka yang meninggalnya sebelum satu tahun dan diformalin. Ada pula mayat yang terkubur masih dalam peti, terutama dari mereka yang sebelumnya meninggal karena terpapar Covid-19. Selain dalam peti, mayatnya sebelumnya juga dimasukan dalam kantong jenazah yang berbahan plastik tebal oleh petugas BPBD terdahulu.

Baca juga:  Dihempas Ombak di Pantai Kelingking, WN Ukraina Cidera

Tulang-tulang yang sudah digali, semuanya diletakan di tempat khusus yang sudah dibuatkan sebelumnya di setra. Jero Mangku Nengah Suanda menambahkan tiga bade besar sudah dipersiapkan untuk mengusung seluruh alang-alang yang disimbolkan sebagai tulang. Sampai di setra digantikan dengan tulang yang asli kemudian dipindahkan ke kotak tempat pembakaran.

Upacara dilaksanakan bergotong royong dalam satu desa adat, setiap orang yang diabenkan hanya menghabiskan dana sebesar Rp5 juta. Warga juga diberikan kemudahan, untuk mengangsur pembayarannya. Bahkan bagi warga yang tidak mampu, diangkat bersama-sama dengan bantuan warga lainnya, sehingga proses pengabenan rutin 5 tahunan di desa ini berjalan lancar.

Baca juga:  Desa Adat Bandung Lestarikan Bendungan Peninggalan Belanda

Setelah prosesi ngaben massal, juga dilangsungkan prosesi mamukur. Prosesi ini nantinya juga diikuti dengan proses matatah massal serta ritual manusia yadnya lainnya, seperti tiga oton, tiga bulan anak dan lainnya. Biasanya dilakukan bagi krama yang sudah dewasa yang saat usia anak dulu belum pernah mengikuti ritual tersebut akibat keterbatasan biaya. Ngaben massal selama ini sangat membantu para krama. Seluruh prosesnya pun sudah berjalan dengan lancar. (Bagiarta/balipost)

BAGIKAN