Anna Surti Artani, S.Psi, M.Si, Psi. (BP/iah)

DENPASAR, BALIPOST.com – Masa pandemi COVID-19 menyebabkan sosialisasi anak terganggu. Hal ini tak terlepas dari pembatasan aktivitas masyarakat sehingga otomatis interaksi anak dengan sebayanya berkurang drastis.

Kondisi ini, menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Artani, S.Psi, M.Si, Psi akan berdampak pada tumbuh kembang anak. Sebab, anak tidak memiliki pengalaman berinteraksi langsung dan lebih banyak bermain gadget.

Di tengah melandainya kasus COVID-19 dan sudah diizinkannya pembelajaran tatap muka, ia menilai, keterampilan sosialisasi anak perlu diasah. Dalam workshop digelar Tokopedia “Manfaatkan Libur Sekolah untuk Tingkatkan Kemampuan Sosialisasi Anak dan Melepas Kejenuhan Anak,” ia menyarankan beberapa tips yang bisa diterapkan orangtua selama anak menjalani liburan sekolah.

Anna yang memaparkan tips dipantau virtual, Selasa (28/6), mengatakan orangtua sebaiknya menjadwalkan waktu berkegiatan bersama anak saat libur sekolah ini. Tips selanjutnya, menunjukkan kerja sama baik antara kedua orangtua, menjaga pergaulan agar menjadi contoh untuk anak, dan melakukan drama sederhana dengan anak untuk mengajarkan cara bersosialisasi. Dengan tips ini, diharapkan anak bisa lebih meningkat kemampuan sosialisasinya saat ajaran baru, terlebih pandemi sudah melandai dan PTM diberlakukan.

Baca juga:  Latih Empati, TK Alit Kirana Ajak Anak Berbagi

Dalam kesempatan itu, ia mencontohkan sejumlah kegiatan yang bisa menumbuhkan keterampilan bersosialisasi anak. Salah satunya playdate dengan teman sebaya. Untuk mendorong keberanian anak bersosialisasi, interaksi tatap muka penting dilakukan sejak usia dini, terutama di bawah tujuh tahun. “Di tengah pandemi, sangat penting untuk selalu mengingatkan anak mematuhi protokol kesehatan saat bermain, mulai dari menggunakan masker, mencuci tangan hingga menjaga jarak,” saran Anna.

Berdayakan kehadiran keluarga besar, manfaatkan teknologi untuk bersosialisasi, dan rencanakan kegiatan virtual bersama juga penting dilakukan.
Ia mengatakan pemanfaatan teknologi secara tepat justru bisa meningkatkan kemampuan sosialisasi anak dan keterampilan lainnya. Misal, dengan bantuan orangtua, sesama anak bisa saling berbagi atau mengirim camilan ke teman sebaya atau melakukan workshop kerajinan tangan secara virtual.

Baca juga:  100 Atlet PON Jalani Tes Psikologi

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan penggunaan gadget berdasarkan usia anak. Misalnya, untuk anak usia 2-6 tahun, penggunaan gadget dibatasi satu jam sehari dan harus didampingi orang tua. “Ikuti juga aturan 20:20:20, yaitu 20 menit melihat layar gadget, lalu istirahatkan mata anak dengan menjauhkan gadget sekitar 20 kaki selama 20 detik,” katanya.

Sementara itu, Head of Category Development Tokopedia, Ramadhan Niendraputra mengungkapkan kebutuhan keluarga memiliki porsi yang besar dalam transaksi di e-commerce itu. Bahkan kategori Ibu dan Anak serta Rumah Tangga masuk kategori produk terlaris pada kuartal II 2022.

Baca juga:  Selandia Baru Kewalahan Hadapi Lonjakan Pasien COVID-19 dan Flu
Ramadhan Niendraputra. (BP/iah)

Ia mengatakan untuk tren belanja kebutuhan keluarga, yang paling banyak dicari adalah botol susu dan dot, kemudian mainan edukasi dan musikal untuk bayi, alat makan bayi, sikat gigi dan pasta gigi bayi, serta mainan luar ruangan bayi. Selain itu, benih bibit tanaman, toples makanan, keran air, pupuk, seprei dan bed cover juga banyak dibeli dalam kategori kebutuhan keluarga.

Untuk itu, menyambut Hari Keluarga Nasional yang dirayakan tiap 29 Juni, pihaknya menggelar workshop terkait keluarga dan anak. “Para orangtua dapat memperoleh wawasan dan saling berbagi informasi melalui webinar atau talkshow seputar anak dan keluarga yang melibatkan para ahli lewat Tokopedia Parents. Topik yang dibahas mulai dari bakat anak, sekolah, investasi, manajemen finansial dan masih banyak lainnya,” ujarnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *