Desa Adat Kayubihi selama ini mengimbau warganya agar memanfaatkan bahan lokal. Salah satunya dalam hal pembuatan penjor. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Desa Adat Kayubihi selama ini mengimbau warganya agar memanfaatkan bahan lokal. Salah satunya dalam hal pembuatan penjor.

Menurut Bendesa Adat Kayubihi, Nyoman Tamba, membuat penjor untuk hari raya Galungan atau upacara keagamaan lainnya tidak perlu jor-joran. Yang penting harus diperhatikan adalah kelengkapannya.

Diakuinya, warga di Desa Adat Kayubihi sempat ikut trend membuat penjor dengan menggunakan bahan seperti daun lontar. Ada juga yang memakai styrofoam. Untuk
mendapatkannya, warga harus membeli. Sebab bahan tersebut tidak banyak tersedia di Desa Kayubihi. “Itu pernah terjadi 2-3 kali Galungan. Karena bahannya banyak yang harus beli, biaya yang harus dikeluarkan masyarakat juga banyak. Rata-rata satu juta ke atas. Bagi
yang mampu mungkin tidak masalah, tapi bagi yang tidak, itu mahal dan cukup berat,” ujarnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Resmikan Gedung MDA Kabupaten Bangli

Karena itu pihaknya pun mengimbau masyarakat agar kembali memanfaatkan bahan lokal untuk pembuatan penjor. Sebagaimana penjor yang dibuat masyarakat Kayubihi terdahulu. Bahan lokal yang dipakai di antaranya janur, ambu, plawa dan lainnya.

Bahan-bahan itu masih mudah didapat di wilayah Kayubihi. Selain hemat biaya, juga ramah lingkungan. “Walaupun ada warga yang harus beli, tapi belinya pada warga lokal di Kayubihi. Jadi perputaran uangnya lokal di sini,” jelasnya.

Tamba mengatakan warganya selama ini cukup patuh terhadap imbauan yang dikeluarkan desa adat. Sejak lima tahun terakhir, warga di Desa Adat Kayubihi selalu membuat penjor menggunakan bahan lokal dengan model penjor ala Kayubihi.

Baca juga:  "Karya Mapadudusan Agung dan Tawur Manca Sanak Agung” di Pura Samuan Tiga

Diakuinya karena menggunakan bahan lokal, penjor terlihat sederhana. Tidak wah. “Yang penting jangkep (lengkap). Ada pala bungkah, pala gantung, plawa. Kalau soal seni itu ada wadah tersendiri. Ada lomba penjor hias. Kalau untuk upacara yang terpenting lengkap,”
kata pria yang sudah empat tahun ngayah sebagai Bendesa Kayubihi itu. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *