Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana. (BP/Ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Keberanian Gubernur Bali, Wayan Koster untuk memutuskan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-44 tahun 2022 secara offline diapresiasi Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana dan Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali, Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si. Keduanya sepakat itu merupakan upaya mengapresiasi kreativitas seniman sekaligus pemulihan ekonomi.

Menurut Prof. “Kun” Adnyana, keberanian Gubernur Koster tersebut menunjukkan dedikasi dan komitmennya dalam mengapresiasi kreativitas dan inovasi seniman, pekerja kreatif, pengrajin, dan juga pelaku IKM di Bali. Seperti diketahui bersama, bahwa PKB merupakan wahana tahunan mengaktualisasikan capaian kekaryaan berbasis kearifan lokal, seni budaya tradisi, dan estetika klasik.

Selama dua tahun, kegiatan seni budaya dilakukan dengan daring. Andaikan pun dikombinasi dengan kehadiran langsung, jumlahnya sangat dibatasi. “Keberanian Gubernur Bali Bapak Wayan Koster ini tentu dengan kalkulasi dan pertimbangan objektif terkait kondisi pandemi Covid-19 yang mulai awal Maret 2022 telah terkendali dan stabil. Terkait langkah komitmen dalam pemajuan seni budaya Bali ini, Gubernur Koster memang telah melakukannya dari hulu ke hilir. Sejak 2019 telah dilakukan pembaharuan penyelenggaraan PKB, dari pengayaan materi kegiatan, materi sajian, dan juga tata kelola,” ujar “Kun” Adnyana, Selasa (14/6).

Baca juga:  Health Tourism: Pendekatan Baru Pariwisata Bali

Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini, mengatakan, lembaga pendidikan seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tentu berada pada haluan komitmen yang sama. Yaitu menyajikan yang terbaik pada ajang PKB, sekaligus sepenuhnya mendukung penyelenggaraannya.

Termasuk, memanfaatkan panggung-panggung pementasan di ISI Denpasar sebagai ruang rekasanada (pergelaran) maupun arena pawimba (lomba). “Secara otomatis pergelaran PKB menjadi laboratorium praktik seni, aktualisasi kreatif, dan juga ajang apresiasi bagi mahasiswa dan dosen,” tandasnya.

Ketua Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali, Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si., mengatakan, gelaran PKB ke-44 Tahun 2022 yang digelar secara offline menjadi sinyal simbolik yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gubernur Koster bersama Wakil Gubernur Bali, Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) bersama masyarakat Bali bahwa situasi pandemi COVID-19 di Bali sudah aman. Bahkan, Bali sudah sangat siap menerima kunjungan wisatawan mancanegara dengan penerapan protokol kesehatan (prokes).

Baca juga:  Ayo Bangkit Baliku!

Apalagi, capaian vaksinasi ketiga (booster) di Bali tertinggi di Indonesia. “Saya melihat bahwa pergelaran PKB ke-44 yang digelar secara offline ini sebagai tonggak bagi bangkitnya pariwisata Bali. Bahkan, saya pernah bertanya kepada masyarakat Ubud, dimana sekarang Ubud sudah mulai macet, dan masyarakat Ubud sangat senang apabila Ubud macet, karena ketika Ubud macet itu berarti pariwisata bangkit. Hal yang sama mungkin juga sudah terjadi di Kuta dan di daerah tujuan pariwisata lainnya di Bali,” ujar tokoh Puri Siangan, Ubud, Gianyar ini.

Oleh karena itu, Wisnumurti berharap agar masyarakat Bali mendukung pergelaran PKB ke-44 agar bisa berjalan sukses dan sesuai dengan harapan untuk kebangkitan pariwisata untuk pemulihan ekonomi Bali. Sebab, nafas kehidupan masyarakat Bali adalah pariwisata.

Baca juga:  Pelabuhan Benoa Buka Pendaftaran Kapal Ikan

Apabila dalam perjalanan pelaksanaan PKB ada yang terpapar COVID-19, penanganannya mesti harus cepat dilakukan secara profesional, guna menekan agar penyebarannya tidak masif. “Saya pikir rasa ketakutan yang berlebihan akan menurunkan imunitas kita. Jadi, menjaga diri masing-masing hal yang penting dilakukan, sehingga gelaran PKB ke-44 bisa berjalan sesuai dengan harapan,” tandasnya.

Terkait dengan status pandemi menjadi endemi di Bali, Wisnumurti sangat setuju. Menurutnya, saat ini situasi dan kondisi COVID-19 di Bali sudah landai.

Di samping didukung tingkat prokes masyarakat Bali sangat tinggi, juga capaian vaksinasi booster di Bali juga sudah tinggi dibandingkan daerah lainnya di Indonesia. “Tapi dengan catatan status endemi itu bukan berarti kita mengabaikan protokol kesehatan. Mulai sekarang kita harus tetap menjadikan protokol kesehatan sebagai pola hidup kita,” tandasnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN