I Nyoman Gede Anom. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kementerian Kesehatan mengumumkan temuan dua subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Bali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Nyoman Gede Anom, Senin (13/6) menjelaskan empat kasus yang terdeteksi merupakan dua subvarian itu.

Ia menjelaskan terdeteksinya subvarian ini bermula saat kegiatan 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) di Nusa Dua. Pada saat itu ada kurang lebih 6.000 orang yang hadir.

Sesuai protap, semua peserta menjalani tes PCR. “Dari hasil pengujian, saat itu ada beberapa delegasi yakni sebanyak 22 orang ditemukan positif COVID-19. Begitu ditemukan positif, kemudian mereka diminta untuk melakukan isolasi di hotel masing-masing,” katanya.

Baca juga:  Tingkatkan Penggunaan Uang Digital, Telkomsel Selenggarakan Bazaar

Dikatakan, pada acara yang digelar 23-28 Mei 2022 itu, pasien tanpa gejala tetap mengikuti kegiatan secara daring. Setelah 5 hari menjalani isolasi, kemudian dilakukan tes ulang dan semua dinyatakan negatif.

Setelah isolasi, sejumlah pasien sudah pulang ke negaranya. Kemudian pada 9 Juni 2022, dua minggu setelah acara, ada rilis dari Kemenkes bahwa dari sampel yang positif sebelumnya, ditemukan ada 4 orang yang terpapar subvarian baru.

Dari 4 orang ini, 3 orang merupakan WNA dan sudah pulang ke negaranya. Sedangkan 1 orang dari Jakarta dan tidak ada dari warga Bali. “Dari berakhirnya event itu, kami menegaskan kalau di Bali tidak terjadi lonjakan kasus dan tidak ada kasus varian baru seperti itu,” tegasnya.

Baca juga:  Jadi Negara Eropa Barat Pertama, Belanda Kembali Jalani "Lockdown"

Menurutnya, dari mereka yang positif ini, datang tanpa gejala, hanya satu yang punya gejala ringan. Dalam artian, mereka dalam kondisi baik-baik saja.

Untuk subvarian ini, kata dia, memang tidak memiliki gejala. Pihaknya mengimbau agar masyarakat Bali tidak panik mendengar informasi ditemukannya subvarian baru Omicron. “Yang penting tetap jaga kondisi, jangan lupa mengikuti vaksinasi booster. Karena itu satu-satunya yang akan memperkuat imun tubuh untuk mencegah apabila ada lagi varian-varian baru,” ujarnya.

Saat ini di Bali, cakupan vaksinasi booster sudah mencapai 70 persen, dan tertinggi di Indonesia. Ini kata dia, akan kembali digenjot kalau Bisa mencapai 80-90 persen, atau setara dengan cakupan vaksin 1 dan 2. “Walaupun sekarang kondisinya sudah aman-aman saja, tentu vaksinasi booster sangat penting untuk menjaga imun tubuh dalam melawan munculnya varian baru,” katanya.

Baca juga:  Mantan Ketua Kadin Bali Laporkan Penerima Dana

Sementara itu, meski pemerintah telah melonggarkan aturan penggunaan masker saat di ruangan terbuka, ia berharap lansia, orang dengan komorbid atau orang yang sedang sakit, agar tetap menggunakan masker.

Terkait kesiapsiagaan Rumah Sakit (RS), pihaknya memastikan saat ini tetap siaga apabila diperlukan untuk perawatan kasus COVID. Di Bali saat ini, angka kasus sudah sangat kecil. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN