Ribut Lupiyanto. (BP/Istimewa)

Oleh Ribut Lupiyanto

Mudik menjadi tradisi rutin yang terjadi di setiap menghadapi lebaran. Mudik tahun ini diprediksi naik signifikan mengingat sudah dua tahun terbatas dilakukan akibat Pandemi Covid-19.

Kebijakan mudik tahun ini masih dalam suasana pandemi namun sudah jauh lebih longgar dibandingkan sebelumnya. Musim mudik acap ditandai dengan fenomena menumpuknya sampah.

Volume sampah di perkotaan diprediksi melonjak hingga 10% per hari selama musim mudik lebaran. Penyumbang sampah terbesar berasal dari kawasan objek wisata dan pusat keramaian.

Pemudik diharapkan sadar untuk ramah lingkungan sebagai bentuk pembuktian ibadah Ramadan dan cinta daerahnya. Kementerian Perhubungan mencatat jumlah pemudik selama Lebaran 2021 sebanyak 1,5
juta orang. Para pemudik tersebut nekat mudik meski pemerintah sudah mengeluarkan larangan mudik yang berlaku sejak 6 hingga 17 Mei 2021.

Angka pemudik tersebut lebih sedikit dibandingkan potensi pemudik sebelum pemerintah mengeluarkan larangan mudik. Kecenderungan masyarakat jika dibiarkan, sebesar 33 persen mereka akan mudik. Kalau akan dilarang turun menjadi 11 persen dan saat pelarangan, saat kampanye sudah dilakukan turun jadi 7 persen.

Baca juga:  Menanamkan Edukasi Prokes pada Anak

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran 2022 meningkat menjadi 85,5 juta orang. Jumlah ini naik tajam dibandingkan kondisi normal sebelum pandemik. Jumlah pemudik tahun 2019 hanya 23 juta orang.

Tahun ini bisa menjadi ajang balas dendam setelah dua tahun tidak bisa mudik lebaran. Arus puncak mudik diperkirakan akan terjadi pada 29-30 April 2022 pukul 7-9 pagi sedangkan puncak arus balik mudik terjadi pada 8 Mei 2022 pukul 7-9 pagi. Provinsi asal pemudik yang terbesar dari Jawa Timur sebanyak 14,6 juta orang atau 17 persen dari total pemudik.

Kemudian disusul Jabodetabek sebanyak 14 juta orang atau 16 persen. Asal pemudik terbanyak selanjutnya yaitu Jawa Tengah sebesar 14 persen atau 12,1 juta orang, Jawa Barat non Bodebek 11 persen, dan Sumatera Utara 5 persen atau 4 juta orang.

Sementara untuk tujuan pemudik terbanyak adalah ke arah Jawa Tengah sebanyak 23,5 juta orang atau 28 persen, Jawa Timur sebanyak 16,8 juta orang atau 20 persen, Jawa barat non Bodebek sebanyak 14,7 juta orang atau 17 persen, dan Jabodetabek sebanyak 5,9 juta orang atau 7 persen.

Baca juga:  Revolusi Industri 4.0 di Tengah Bonus Demografi

Bentuk Keramahan

Pemaknaan filosofis dan teologis Lebaran sering kali disalahterapkan. Lebaran sebagai perayaan kemenangan acap ditampilkan dengan hidangan
aneka makanan-minuman berlebihan serta acara suka ria yang mengarah pesta pora.

Semua fenomena tersebut lebih identik dengan hadirnya kemubaziran. Ajaran Islam justru melarang praktik kehidupan yang memproduksi kemubaziran.
Kekhidmatan ritual dan kesakralan tradisi Lebaran perlu dijaga dari tingkah laku kontra produktif.

Pengekangan hawa nafsu yang sukses dilakukan selama Ramadhan diuji untuk dibuktikan. Kesuksesan tidak berkata kotor sebagai bentuk sampah verbal mesti diikuti upaya bertindak ramah terhadap lingkungan.

Pertama, ramah terhadap lingkungan fisik. Fenomena paling menonjol sebagai dampak aktivitas mudik lebaran adalah sampah yang menggunung. Ramah lingkungan atas potensi sampah dapat dilakukan dengan pengurangan budaya konsumtif dan berlebihan.

Baca juga:  Inovasi Alternatif Perwajahan Bahan Bacaan

Pemerintah dituntut menyiapkan fasilitas memadai untuk mengelolanya, khususnya di lokasi wisata dan
fasilitas publik. Kedua, ramah lingkungan sosial budaya.

Budaya Lebaran yang harus dijunjung adalah silaturahmi. Interaksi sosial budaya semestinya tetap mengedepankan norma dan adat istiadat.

Ketiga, ramah lingkungan ekonomi.Pelaksanaan Lebaran diikuti syariat diwajibkannya membayar Zakat. Zakat merupakan bentuk pensucian diri dan harta sekaligus pemupuk kedermawanan sosial.

Hasil studi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2012 menunjukkan bahwa Indeks Perilaku Peduli Lingkungan (IPPL) masih berkisar pada angka 0,57 (dari angka mutlak 1). Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita baru setengah-setengah berperilaku peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat Islam saatnya memberikan keteladanan bahwa
ajaran Islam ramah pada lingkungan. Semoga hikmah ekospiritual Ramadan dan Lebaran dapat mendukung terciptanya lingkungan fisik, sosial budaya, dan ekonomi yang nyaman dan lestari ke depan.

Penulis Deputi Direktur Center for Public Capacity Acceleration (C-PubliCA)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *