I Gede Loka Santika. (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UKM Perindag) Karangasem mencatat ada sebanyak 335 Koperasi di Karangasem. Dari jumlah tersebut, ada seratusan koperasi yang tak aktif.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan Karangasem (Diskop UKM Perindag) Karangasem, I Gede Loka Santika, mengungkapkan, yang tak aktif berjumlah 108 koperasi. Ia merinci koperasi yang tak aktif itu, yakni di Kecamatan Karangasem sebanyak 36 koperasi, Rendang 20, Manggis 16, Bebandem 9, Kubu 8, Selat 6, Abang 5, dan Sidemen 1.

Baca juga:  Ini, Sikap Gubernur Koster Soal UU Cipta Kerja

“Koperasi yang tak aktif ini, sesuai dengan ketentuan mereka tidak melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebanyak tiga kali,” ucapnya belum lama ini.

Loka menambahkan, pihaknya telah melakukan penjajakan kepada koperasi yang dinyatakan tak aktif ini. “Dari yang tidak aktif 108 koperasi, setelah kita jajaki tujuh koperasi itu menyatakan siap beroperasi kembali , 101 mau dibubarkan atau dibenahi. Kita harap berharap, koperasi-koperasi yang lainnya itu mereka mau hidup kembali,” katanya.

Baca juga:  Tiga Solusi Perkuat Koperasi

Ia mengingatkan agar koperasi aktif melakukan RAT sampai Maret. Ia menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan koperasi tak aktif, salah satunya kepengurusan sehingga membuat koperasi menjadi tak terurus dengan baik. Ada juga, karyawannya menyambi di tempat lain lantaran penghasilan di koperasi itu tidak mencukupi.

Selain itu juga, koperasi bangkrut karena ada permainan di daam. Artinya orang dalam yang memakai uangnya untuk yang lainnya.

Baca juga:  Pilbup Karangasem 2020, Dari Pasang Target Tinggi hingga Siap "Puputan"

“Sementara, untuk koperasi yang baru didirikan ada 11 koperasi,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pihaknya berharap koperasi tak hanya bergerak di bidang simpan pinjam. Lebih digalakkan di sektor riil, paling tidak menyediakan kebutuhan pokok penting yang tidak cepat rusak, diantaranya dupa, kopi, dan gula. “Dengan kebutuhan itu, minimal kebutuhan anggota bisa terpenuhi dulu. Kalau hanya menjalankan simpan pinjam bersaing dengan perbankan. Karena KUR bunganya kecil,” ujarnya. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN