Sanggar Seni Saydanco yang berdiri di Desa Adat Banjarsayan, Desa Werdi Bhuwana, mendapat dukungan dari Wakil Ketua DPRD Badung I Wayan Suyasa, sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Seni dan budaya tidak dapat dilepaskan dari keberadaan desa adat di Bali. Terlebih, dari kehidupan masyarakat Hindu di Pulau Dewata. Karena itu, Desa Adat Banjarsayan, Desa Werdi Bhuwana, Kecamatan Mengwi mendukung masyarakatnya untuk mendirikan sanggar sebagai wadah dalam pelestarian seni.

Bendesa Adat Banjarsayan, Made Kartika mengatakan seni telah menjadi bagian dari keberadaan desa adat. Keberadaan pengiat seni ini turut memberikan kontribusi terhadap keberlangsungan kegiatan di desa adat.

Baca juga:  Desa Adat Kubu Bangli Ajak Krama Majukan LPD

“Saya sangat bahagia ada krama yang menekuni seni sebagai bagian dari kearifan lokal. Karena, ketika sebuah kegiatan adat dilaksanakan ada campur tangan seniman didalamnya,” ungkapnya.

Made Kartika mencontohkan ketika desa adat menggelar upacara agama, tentu perlu penari rejang, topeng, pendet, dan lainnya sebagai wali dari kegiatan tersebut. Bahkan, ketika tidak memiliki seniman, desa adat mencari seniman keluar dari desa adat. “Kalau sudah ada krama yang menekuni seni, setiap di desa adat ada upacara tidak ngupah atau mencari seniman keluar. Ini yang membuat saya senang dengan adanya pembentukan sangar-sangar di desa,” jelasnya.

Baca juga:  Desa Adat di Karangasem Tolak Sampradaya Non Dresta Bali

Namun demikian, Made Kartika berharap keberadaan sanggar tidak seperti jamur di musim hujan. Keberadaan sanggar sebagai salah satu wadah pelestarian seni ini mampu menjaga eksistensi dalam berkarya. “Jangan hangat-hangat tai ayam, tapi harus bisa eksis, kalau bisa ditingkatkan. Pemerintah kan juga mendukung lewat bantuan yang diberikan,” tegasnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *