Seorang warga di Denpasar, Bali, menerima suntikan vaksin COVID-19 dari tenaga kesehatan. Cakupan vaksinasi di Bali untuk dosis 2 sudah hampir 90 persen. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Vaksinasi terus digenjot untuk menciptakan herd immunity di Bali. Per 29 November 2021, vaksinasi di Bali untuk dosis satu mencapai 101,27 persen dan dosis kedua sebesar 89,08 persen. Ini artinya, masyarakat yang sudah menerima dosis lengkap hampir 90 persen dari target.

Menurut Sekretaris Satgas Penanganan COVID-19 Bali, Made Rentin, dari target vaksinasi 3.405.130, sudah divaksinasi dosis satu sebanyak 3.448.439 orang (101,27 persen) dan 3.033.392 orang untuk dosis dua (89,08 persen). “Sasaran vaksinasi yang telah terlayani adalah SDM kesehatan, petugas pelayanan publik dan lansia,” jelasnya, Selasa (30/11).

Ia pun meminta agar masyarakat selalu disiplin melaksanakan 6M, yaitu memakai masker standar dengan benar, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi bepergian, meningkatkan imun, dan menaati aturan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak berkerumun, dan membatasi kegiatan sosial sesuai dengan aturan yang berlaku.

Baca juga:  Buleleng Rawat Tiga Orang Suspek COVID-19

Dilihat dari data Kementerian Kesehatan, per 29 November, total cakupan vaksinasi dosis 1 secara nasional mencapai 139.119.962 orang atau 66,80 persen dari target 208.265.720 orang. Sedangkan vaksinasi dosis 2 mencapai 95.071.339 orang atau 45,65 persen.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, dalam keterangan persnya mengatakan pemerintah fokus untuk mengejar target dua dosis vaksin untuk seluruh target sasaran vaksinasi. Menurutnya, perluasan dan percepatan program vaksinasi terus dilakukan di sejumlah daerah dengan melibatkan seluruh elemen yang ada.

“Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah, khususnya yang capaian vaksinasinya masih rendah, untuk makin menggencarkan program vaksinasi,” kata dr. Nadia.

Dia pun mengimbau masyarakat tidak perlu perlu ragu dengan vaksin yang ada. Masyarakat juga diminta tidak memilih-milih merk vaksin, gunakan vaksin yang tersedia terlebih dulu saat ini.

Baca juga:  Jangkauan Vaksinasi COVID-19, Indonesia Naik ke Peringkat 4 Dunia

Pemerintah menjamin vaksin yang diberikan kepada masyarakat aman, bermutu, dan berkhasiat. dr. Nadia memastikan, vaksin membuat tubuh relatif lebih tahan serangan virus, bisa menghindarkan dari gejala, perawatan di rumah sakit dan mengurangi risiko kematian.

Akan tetapi memang tidak menjadikan seseorang kebal 100 persen terhadap infeksi virus, sehingga masih dapat tetap tertular dan menularkan. Karenanya, bagi yang sudah divaksin agar tetap menjalankan protokol kesehatan 5M,
memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

“Semua vaksin sama baik dan berkhasiatnya. Vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia apalagi saat ini sudah diumumkan adanya kembali varian baru dari COVID-19 yang lebih cepat menular dan dapat mengelabui sistim kekebalan tubuh kita,sehingga penting untuk kita segera memproteksi diri kita dan juga secara bersamaan membentuk benteng bersama untuk mecegah varian baru dan penyebarannya,” tegasnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Terus Motivasi Masyarakat Ikut Vaksinasi

Dalam kesempatan itu, dr. Nadia juga menyampaikan, adanya peningkatan kasus, meski kecil, seiring mulai longgarnya pembatasan mobilitas. Dilaporkan total 19 kabupaten/kota mengalami kenaikan kasus dengan lama waktu yang berbeda-beda.

Dua daerah yakni Fak-Fak dan Purbalingga dalam kurun waktu 4 minggu berturut-turut ada kenaikan kasus terkonfirmasi. Selanjutnya ada Lampung Utara yang sudah naik 3 minggu berturut-turut, dan 16 kota yang dua minggu naik.

Kendati presentasenya kecil, monitoring terus dilakukan agar tidak terjadi ledakan kasus. Semua pihak tetap harus menjaga disiplin protokol kesehatan.

Dia juga mengingatkan, munculnya gelombang ketiga di beberapa negara di dunia, menunjukkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah dan harus terus melanjutkan program vaksinasi yang diiringi dengan pelaksanaan protokol kesehatan. “Pelonggaran pembatasan mobilitas yang dilakukan hendaknya tidak diartikan bahwa pandemi telah
berakhir, tetap disiplin prokes dan segera divaksinasi,” tegas dr. Nadia. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN