Putu Arya Wisnawa. (BP/Istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Sudah menjadi tradisi setiap tahun sekali atau bertepatan tilem keenam, desa adat di Bali menggelar upacara Nangluk Merana yang diyakini sebagai sebuah prosesi menetralisasi hal-hal negatif. Begitupun di Desa Adat Jegu, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan yang saat ini tengah melakukan berbagai persiapan jelang pelaksanaan upacara yang akan digelar pada 4 Desember 2021 mendatang.

Untuk pertama kalinya, Tapakan Barong, Ratu Mas serta Ratu Ayu lunga di jalur jalan subak sepanjang daerah pertanian di Desa Jagu. Mulai dari Banjar Sigaran di bagian utara melalui jalur jalan subak sampai di Banjar Bendul.

Bendesa Adat Jegu, Putu Arya Wisnawa, mengatakan, upacara Nangluk Merana memiliki arti untuk memohon keselamatan serta hasil alam yang melimpah, terkhususnya bagi para petani atau masyarakat yang memiliki lahan persawahan. Dengan diselenggarakan Nangluk Merana ini diharapkan wabah atau penyakit persawahan seperti “paceklik” maupun hama dapat dihilangkan dan hasil panen alam melimpah. “Intinya untuk penetralisasi, meniadakan bencana, dan hal negatif di muka bumi khususnya di wewidangan desa adat Jegu. Termasuk salah satunya memohon agar hasil produksi pertanian bisa meningkat dan menjauhkan subak dari marabahaya. Termasuk juga agar masyarakat atau krama kami terhindar dari sifat atau pemikiran negatif,” terangnya.

Baca juga:  Membumikan” Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Krama Badung Antusias Belajar Olah Sampah

Untuk rangkaian upacaranya, diawali dengan prosesi pacaruan yang digelar di Pura Kahyangan kemudian Ida Betara turun keliling di seluruh wewidangan desa adat. “Tapakan Ida yakni Barong, Ratu Ayu dan Ratu Mas akan lunga ke subak dan semua wewidangan desa adat,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Pakaseh Subak Jegu, Wayan Sudiarta. Diterangkannya, 88 hektar luas lahan pertanian di Desa Jegu selama ini masih sangat produktif dan menjadi tumpuan krama adat setempat di masa pandemi. Apalagi sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling bisa bertahan ketika sektor pariwisata mulai lesu akibat wabah Covid-19. Meski diakuinya, serangan hama seperti tikus dan burung masih menjadi ‘musuh’ para petani, namun selama ini masih bisa dikendalikan. Itupun luas lahan yang diserang  sangat kecil tidak sampai skala besar.

Baca juga:  Begini Pengaturan Peringatan Idul Fitri di Denpasar

Berharap mendapatkan anugerah dari Ida Sesuhunan agar dijauhkan dari segala bentuk ‘merana’ dan mendapatkan hasil pertanian yang melimpah, untuk pertama kalinya dalam pelaksanaan upacara Nangluk Merana, Tapakan Barong, Ratu Mas serta Ratu Ayu lunga di jalur jalan subak. Dengan harapan tapakan bisa lunga melintasi areal subak, maka jalan subak yang selama ini hanya bisa dilintasi satu kendaraan roda dua atau selebar satu meter, sejak dua tahun telah dilakukan pelebaran menjadi dua meter, sehingga memudahkan tapakan ngelawang.

Baca juga:  Membangun Bali Secara Holistik

“Karena baru ada jalan subak, jadi ini untuk pertama kalinya Ida jagi macecingak tetanaman di sawah, semoga lahan pertanian di wewidangan Desa Jegu diberikan kesuburan dan dijauhkan dari serangan hama. Kalau tahun-tahun sebelumnya upacara Nangluk Merana, anggota subak yang menghaturkan upacara di soang-soang carik termasuk di Pura Subak dan Pura Ulun Suwi,” imbuhnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN