Petani memperoleh bibit kelor dalam pelatihan sistem biodynamic yang digelar di Pesraman Lumajang, Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Selasa (26/10). (BP/Febrian Putra)

TABANAN, BALIPOST.com – Bali kini sedang berupaya mewujudkan organic island. Sehingga, upaya pelatihan dan sosialisasi sistem pertanian biodynamic untuk kedaulatan pangan yang digelar Yayasan Dharma Naradha mendapatkan apresiasi dari Plt Kepala Dinas Pertanian Propinsi Bali, Ir. Ketut Lihadnyana.

Lihadnyana yang hadir dalam pembukaan pelatihan di Pesraman Lumajang, Desa Samsam, Kerambitan, Selasa (26/10) itu mengatakan melalui kegiatan ini yayasan telah membantu dan mendukung program pemerintah mewujudkan Bali Organic Island (pertanian organik di Bali secara massif). “Sehingga semacam gayung bersambut, pelatihan pada petani ini menyadarkan kita untuk membangun sektor pertanian melalui unsur-unsur alam. Karena sistem biodynamic ini adalah salah satu upaya memanfaatkan empat danau, atau sekala niskalanya jalan. Dan kami yakin kedepan pertanian organik bisa berjalan massif karena sentuhannya berbeda, tidak hanya teknis semata,” ucapnya.

Baca juga:  Bendesa Adat Terima Kalung Om Kara

Ditambahkan Lihadnyana, sinergitas pemerintah Provinsi Bali dengan Yayasan Dharma Naradha ini diharapkan bisa terus berkelanjutan. “Provinsi ada program pertanian organik, pasti akan menjadi satu kesatuan dengan apa yang dikembangkan oleh yayasam. Tentunya kami akan terus bergandengan dalam bidang pembangunan pertanian ke depan,” ucapnya.

Sementara itu Ketua KTNA Kecamatan Kerambitan, Gusti Nyoman Subagia mengaku apapun ilmu dan teknologi terbaru tentang pertanian, tentu saja dirinya bersama rekan-rekan petani lainnya ingin belajar dan mengetahui terlebih dahulu. Jika dirasa sangat baik untuk diterapkan di lahan yang mereka miliki tentunya sudah pasti akan diterapkan.

Baca juga:  Kasus Tak Terungkap Tabanan 2017, Dari Pembunuhan WN Jerman hingga Pembuangan Bayi

Apalagi, Subagia mengatakan, saat ini dirinya juga sudah secara bertahap mulai mengurangi kimia dan mengarah ke organik. “Organik murni belum, karena sambil memperbaiki unsur hara dan mempertahankan produktivitas, karena selaku petani bagaimanapun ingin meningkatkan penghasilan dan produktivitas, kalau ada ilmu baru minimal kami ingin tahu dan mengkaji apakah nanti cocok untuk diterapkan di lahan kami, kalau cocok pasti kami akan lakukan,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

Baca juga:  Pertanian Vs Pariwisata
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *