Alat berat dikerahkan membersihkan material longsor di Trunyan, Kintamani, Bangli. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Gempa bumi yang terjadi Sabtu (16/10), tak hanya mengakibatkan dua warga Trunyan meninggal. Namun juga menimbulkan kerugian material.

Pendataan sementara yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli mencatat kerugian akibat dampak gempa di Bangli mencapai Rp 7 miliar lebih. Gempa menyebabkan banyak bangunan mengalami kerusakan di 4 kecamatan.

Di kecamatan Bangli kerusakan terdata di 5 lokasi. kerusakan berupa bangunan Pelinggih milik warga. Di kecamatan Susut gempa mengakibatkan kerusakan rumah, bangunan suci, tembok penyengker hingga fasilitas umum puskesmas. Total 15 titik.

Baca juga:  Melbourne Diguncang Gempa 6 SR, KJRI Sebut Tak Ada Korban WNI

Di kecamatan Tembuku, kerusakan terdata di 83 titik. Berupa krrusakan sanggah, Pelinggih, rumah tinggal. Di Kecamatan Kintamani kerusakan akibat gempa terdata paling banyak yakni di 220 titik. Didominasi kerusakan rumah tempat tinggal di Desa Terunyan, Abang Batudinding dan Abangsongan.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bangli I Ketut Agus Sutapa mengatakan total kerugian material yang ditimbulkan akibat dampak gempa mencapai Rp 7.057.700.000. Saat ini penanganan dampak gempa masih fokus dilakukan di desa yang terisolasi akibat longsor. Khususnya untuk kecukupan logistiknya. “Untuk yang lain kita sudah lakukan pendataan untuk mendapatkan data-data kerusakan infrastruktur,” jelasnya.

Baca juga:  Di Karangasem, Puluhan SMP Belum Siap Gelar UNBK

Disampaikan Agus, mengenai kecukupan bahan logistik bagi 3 desa terdampak sudah aman. Penyalurannya lancar. Banyak dukungan datang dari para pihak yang berempati kepada warga terdampak baik dukungan SDM, dan bahan permakanan sendiri.

Mengenai akses jalan menuju tiga desa yang tertimbun longsor, kata Agus sudah tertangani. Namun untuk sementara waktu masih belum direkomendasikan untuk dilewati. Sebab kondisi tebing bukit abang di sskitarnya masih labil. “Kami lagi komunikasi dengan Tim PVMBG untuk sekiranya bisa dilakukan kajian potensi risiko adanya gerakan tanah yang bisa memicu kembali longsoran,” kata Agus. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Kawasan Eks Galian C Masuk “Zona Merah”
BAGIKAN