Kadiskes Bali, dr. Ketut Suarjaya. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Varian Delta yang selama ini diduga sudah masuk Bali, akhirnya dipastikan berdasarkan hasil uji whole genome sequencing dari Litbangkes, Kementerian Kesehatan RI. Data itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan, dr. Ketut Suarjaya, Kamis (15/7).

Menurut Suarjaya, varian Delta yang masuk di Provinsi Bali ini, ditemukan pada tiga warga. Dari hasil uji yang diterima, diketahui ada tiga varian Delta B.1.617.2 di Bali.

“Mereka yang terinfeksi di antaranya pasien laki-laki berusia 20 tahun dan 50 tahun, serta pasien perempuan berusia 48 tahun,” kata dr Suarjaya.

Dengan masuknya varian ini, pihaknya kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap taat pada protokol kesehatan (prokes). Karena menurutnya, prokes ini merupakan hal yang paling penting untuk memutus rantai penyebarCOVID-19.

Baca juga:  Fase Equilibirium, Gunung Agung Perlu Setahun Kembali Normal

Terpisah, Dokter spesialis Mikrobiologi Klinik RSUP Sanglah, dr. Luh Inta Prilandari. Sp.MK, menjelaskan varian Delta ini sebenarnya adalah virus COVID-19 yang sebelumnya dikenal dengan nama virus COVID-19 asal India dengan kode B1617. Nama Delta sendiri ditetapkan oleh WHO supaya mempermudah identifikasi dari virus COVID-19 itu sendiri.

Dr. Inta menyebutkan identifikasi virus COVID-19 ini sangat diperlukan untuk mengkategorikan penyebaran dan sifat dari virus COVID-19 ini. Untuk statusnya sendiri, dr. Inta menyebutkan varian Delta ini digolongkan sebagai virus yang penyebarannya perlu diperhatikan atau sering dikenal dengan nama varian of concern.

Baca juga:  Ini, Hasil Uji Swab Staf KPU Bali yang Rapid Test-nya Reaktif

Sebelumnya ada empat varian yang menjadi perhatian adalah virus asal Inggris (virus corona B.1.1.7) yang saat ini dikenal dengan nama virus COVID-19 varian Alfa, virus COVID-19  asal Afrika Selatan (varian B1.351) saat ini dikenal dengan nama varian Beta dan varian Brasil (varian B.1.1.28.1 atau P1) atau saat ini dikenal dengan nama varian gamma.

Menurutnya, tingkat infeksi dari virus Delta ini memang lebih cepat dibandingkan virus induknya yang ditemukan di Wuhan. Namun ditegaskan dr. Inta, infeksi yang disebabkan tidak dalam hitungan detik. “Virus ini memang memiliki kemampuan infeksi dan penyebaran lebih cepat karena karakter dari spike virus delta ini bersifat terbuka. Protein spike (bagian virus yang jika dilihat dengan alat berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan virus), ini sifatnya terbuka, sehingga memudahkan virus ini membentuk ikatan yang kuat dengan sel dalam tubuh manusia,” pungkasnya.

Baca juga:  Bali Laporkan Tambahan Pasien COVID-19 Meninggal

Ikatan yang kuat inilah yang membantu virus SARS-CoV2 untuk menginfeksi sel inangnya ke cakupan yang lebih luas. Sehingga daya sebar virus ini lebih cepat di dalam tubuh manusia sebagai inangnya dan bisa ditularkan melalui kontak droplet langsung. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *