Petugas kesehatan bersiap mengantar pasien COVID-19 menuju Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran di Puskesmas Menteng, Jakarta, Minggu (20/6/2021). (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Kasus COVID-19 secara nasional bertambah 14.536 orang pada Senin (21/6). Jumlah ini merupakan tambahan harian tertinggi sejak 5 bulan terakhir, namun belum memecahkan rekor kasus baru yang mencapai 14.581 orang pada 30 Januari 2021.

Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono merekomendasikan melakukan penguncian (lockdown) wilayah untuk menghentikan penyebaran virus Corona penyebab COVID-19 khususnya varian baru seperti varian Delta dari India.

“Ada upaya-upaya pencegahan penyebaran varian baru harusnya dilakukan penguncian atau lockdown untuk penyebaran varian baru ini baik itu di Kudus, Bangkalan, Madura, Jakarta, dan sebagainya,” kata Yunis, Senin (21/6), dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Ini Hasil Investigasi 5 Pasien Positif COVID-19 Tanpa Riwayat Penularan

Hari-hari ini dilaporkan jumlah kasus terinfeksi COVID-19 yang semakin meningkat. Itu tentu menjadi perhatian utama, apalagi ada penularan yang jauh lebih cepat dari varian baru seperti B1617.2 atau varian Delta dari India.

Yunis menuturkan varian virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang pertama kali muncul menularkan hanya ke dua orang. Namun varian baru sekarang ini bisa menularkan ke empat atau delapan orang sehingga potensi penularannya di tengah masyarakat makin tinggi dan berdampak pada peningkatan kasus.

Baca juga:  Hanya 1 Kabupaten Laporkan Nihil Tambahan Kasus COVID-19

“Oleh karena itu, harus dilakukan lockdown,” tuturnya.

Yunis mengatakan lockdown tersebut bukan hanya untuk menurunkan kasus COVID-19 semat. Tapi agar penyebaran varian baru yang sangat menular bisa dicegah meluas.

“Kalau ada ditemukan kasus baru dengan varian baru yang banyak kayak di Kudus maka harus dilakukan lockdown, di Bangkalan harus lakukan lockdown kabupaten, terus Jakarta apakah kota madya atau provinsi harus lihat sebarannya,” ujarnya.

Ketika ditemukan banyak muncul kasus dengan varian baru, Yunis menuturkan harus secepatnya dilakukan penguncian untuk menghentikan penyebaran varian baru tersebut di kota, kabupaten, provinsi. Jangan sampai varian tersebut lebih dulu menyebar ke kota, kabupaten atau provinsi lain. “Lockdown-nya lihat sebarannya kalau sudah banyak (kasus) kecamatannya maka lockdown-nya kabupaten,” tuturnya.

Baca juga:  Triwulan I, Dampak Corona ke PHR Badung Baru Bisa Terlihat

Dia menegaskan pemerintah perlu meningkatkan pembiayaan atau dana untuk penanganan COVID-19 diantaranya untuk melakukan percepatan pengujian untuk deteksi COVID-19 dan pengurutan genom menyeluruh (whole genom sequencing), serta subsidi kepada masyarakat ketika akan dilakukan lockdown. “Kalau kita masih seperti lama strategi perangnya,  tunggu saja pasti akan terjadi kewalahan dari pelayanan kesehatan,” ujar Yunis. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *