Ni Luh Ketut Nurani, A.Ma, S.Pd. (BP/Istimewa)

Oleh Ni Luh Ketut Nurani, A.Ma, S.Pd

Perubahan signifikan sedang terjadi di dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) saat ini. Perubahan ini mentransformasikan peran perpustakaan ‘tradisional’ sebagai penyedia jasa layanan penunjang belajar dan penelitian. Banyak dari perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi dan informasi semakin berlimpahnya isi (content) elektronik berkat penerbitan elektronik, proyek digitalisasi besar-besaran, dan internet.

Volume informasi berupa full text yang dapat ditelusuri, dilihat-lihat dan dicetak sambil duduk dengan nyaman di perpustakaan sudah tak terbayangkan besarnya. Begitu pula pilihan yang tersedia: pengguna perpustakaan telah berubah menjadi konsumen informasi yang dalam sekejap dapat beralih dari mesin pencari komersial, ke situs jejaring sosial, wiki, daftar link ke situs terpilih dan jasa elektronik yang disediakan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi para pengguna.

Dengan kecanggihan dan terus berkembangnya  teknologi informasi dan komunikasi dalam jangka waktu yang relatif singkat maka tentunya tantangan yang akan dihadapi oleh perpustakaan ‘tradisional” sungguh besar sekali. Iskandar (2020:117) menyatakan salah satu tantangan perpustakaan adalah merealisasikan perpustakaan digital.

Perpustakaan digital memilki banyak definisi, tetapi inti dari perpustakaan digital adalah perpustakaan yang mengoleksi semua koleksinya dalam bentuk file elektronik, sehingga mudah dalam pemyimpanan, penelusuran, penemuan kembali, dan menggunakan jaringan komputer. Sebagai pemilik dan pengelola koleksi bahan tercetak perpustakaan ini harus mengubah falsafah dasarnya.

Baca juga:  Mitigasi Ekonomi Kebudayaan Bali

Koleksi buku yang besar tampaknya mulai semakin mubazir ketika pengguna berpaling dari perpustakaan sebagai suatu ruang fisik yang dianggap’kuno’ dan ‘antik’. Kesan ini perpustakaan yang seperti ini ke depannya akan semakin jauh ditinggalkan oleh penggunanya.

Perpustakaan harus dengan segera  menyesuaikan diri dengan suatu kemyataan dan fenomena yang baru, yaitu keharusan berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari kelompok-kelompok pengguna, khususnya pengguna remaja dan pemuda, yang menghendaki isi yang dinamis, interaktif dan bisa diberi sentuhan pribadi, isi yang dapat diambil tanpa harus datang ke perpustakaan. Membangun perpustakaan yang mengkuti selera dan gaya hidup remaja dan pemuda, diantaranya dengan membuat perpustakaan digital.

Perpustakaan digital adalah organisasi yang melakukan kegiatan memilih, mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan koleksi digital. Perpustakaan digital menjadi sebuah keniscayaan yang patut untuk dipikirkaan dan diwujudkan dalam waktu yang akan datang sehingga perpustakaan yang selama ini menjadi tempat yang ‘wajib’ disinggahi untuk mencari buku yang berkualitas tetap menjadi alternatif pilihan utama oleh kalangan remaja dan pemuda karena wajah dan layanan perpustakaan yang beradaptasi dengan perkembangan zamannya.

Baca juga:  Transformasi Pendidikan Indonesia

Remaja dan pemuda adalah kaum muda yang dinamis dan aktivitas mereka perlu diapresiasi oleh semua pihak agar tidak menjurus ke arah negatif, terlebih lagi di perkotaan. Perpustakaan dapat mengambil peran yang lebih dari sekedar tempat membaca, tetapi melalui berbagai kegiatan kreatif yang dirancang perpustakaan dapat menarik remaja dan pemuda untuk datang ke perpustakaan.Kegiatan perpustakaan perlu segera dibenahi agar dapat  menampung aktivitas dan kreativitas remaja dan pemuda yang beragam dan bervariasi.

Kenyataan yang terjadi hari ini di perpustakaan sepi dari kegiatan yang sesuai dengan selera remaja dan pemuda. Rutinitas yang  berjalan dari tahun ke tahun kurang mendapat  tanggapan dari kalangan mereka sehingga seolah-olah perpustakaan hanya untuk orang yang tua dan para kutu buku yang jumlah mereka sangat terbatas. Sementara itu ada banyak remaja dan pemuda yang secara kasat mata kita lihat ‘berkeliaran’ di jalan-jalan dan di mal  yang asyik dengan hobi dan kesenangan mereka.

Kehidupan dan gaya hidup remaja dan pemuda yang senang hiburan, mendengarkan konser musik, dan segala macam kegiatan lainnya yang nyaris tidak ada hubungannya dengan dunia perpustakaan, buku, dan membaca. Peran dan fungsi perpustakaan dengan segala koleksi buku dan bahan bacaan lainnya dari waktu ke waktu akan mengalami perubahan atau bahkan pergeseran karena adanya kebutuhan pengguna perpustakaan itu sendiri.

Baca juga:  Ekonomi Bali Menuju Keseimbangan Baru     

Oleh sebab itu, perpustakaan perlu merefleksi kembali peran dan fungsi dirinya agar jangan sampai ditinggalkan oleh penggunanya  karena semakin mudahnya mereka mendapatkan informasi dari perpustakaan digital melalui internet tanpa harus mendatangi dan membaca buku perpustakaan. Hadapi tantangan yang ada dengan segera berbenah diri  melalui peningkatan kualitas, aktivitas, dan sebagainya sehingga perpustakaan tidak ketinggalan zaman.

Gagasan dan pemikiran banyak pihak, khususnya remaja dan pemuda , patut diapresiasi dan diwujudkan oleh perpustakaan guna memicu dan memacu semangat remaja dan pemuda untuk membaca dan mencari informasi di perpustakaan kembali bergairah. Sementara itu, tidak kalah pentingnya adalah pola pelayanan di perpustakaan perlu juga untuk menyesuaikan dengan kehidupan dan gaya remaja dan pemuda saat ini dan yang akan datang. Kenyataan yang kita lihat dan rasakan selama ini, pola pelayanan di perpustakaan masih bersifat tradisional dan terkesan kurang peduli dengan pengguna perpustakaan itu sendiri.

Penulis Pustakawan Ahli Muda SMAN 1 Tabanan

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *