Seorang WNA menikmati keindahan pantai di Jimbaran, Badung di tengah pandemi COVID-19. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Potensi digital nomad-staycation menjadi peluang untuk digarap pelaku pariwisata Bali. Hal ini sesuai dengan rencana menjadikan Bali sebagai lokasi kerja dan belajar bagi warga negara asing (WNA).

Keseriusan menggarap potensi ini, menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, sudah dilakukannya dengan merumuskan Long Term Visa bagi wisatawan mancanegara. Dikutip dari Kantor Berita Antara, Sandiaga mengatakan pihaknya saat ini sedang merumuskannya bersama Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Berbeda dengan visa kunjungan sebelumnya, long term visa menurutnya memiliki masa waktu lima tahun serta dapat diperbaharui. “Ini menjadi satu prasyarat utama agar lebih banyak masyarakat dunia digital nomad mempertimbangkan Bali sebagai second home (rumah kedua) dan semakin banyak orang yang bekerja di rumah,” ujar Menparekraf, Selasa (16/3).

Baca juga:  Bersinergi Mencintai Bali

Ia mengatakan, saat ini tren digital nomad atau seseorang yang bekerja tanpa terikat oleh waktu dan tempat tengah marak di seluruh dunia. Pandemi COVID-19 yang mengubah gaya hidup masyarakat yang semula harus bekerja di kantor menjadi bebas, tanpa terbatas ruang dan waktu dan tren tersebut dinilai Menparekraf sangat mungkin diterapkan di Bali.

Hal itu karena Pulau Dewata memiliki keindahan alam dilengkapi dengan infrastruktur telekomunikasi mumpuni. “Kita lihat trennya ini adalah digital nomad-staycation. Jadi kalau bekerja di Bali dan tidak terlalu jauh dari pantai, ini akan sangat menjadi daya tarik, apalagi dengan cuaca yang bagus, budaya yang sangat indah dan masyarakat yang sangat ramah,” ungkapnya.

Baca juga:  Tambahan Korban Jiwa COVID-19 Terbaru, Rentang Usianya di Bawah 50 Tahun

Menparekraf Sandiaga Uno menjelaskan, seiring dengan rencana pembukaan kembali Pulau Dewata lewat konsep travel bubble, program staycation pun harus direalisasikan agar geliat bisnis properti di Bali dapat kembali pulih kembali. “Bali menawarkan gaya hidup yang sehat, juga propertinya dalam kondisi yang baik dan tentunya kulinernya semakin terjangkau. Ini adalah afirmasi bahwa Bali segera bergerak dan bangkit kembali,” katanya.

Dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang menjadikan Bali sebagai ‘rumah kedua’, bisnis properti di Bali diyakininya akan tumbuh. Dengan begitu, ia yakin ekonomi Bali akan segera bangkit lewat penciptaan lapangan kerja serta penyerapan tenaga kerja seluas-luasnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.