Prof. Ratminingsih. (BP/Istimewa)

Oleh Prof. Dr. Ni Made Ratminingsih, M.A.

Covid-19 telah ada bersama kita sejak Maret 2020 dan kita belum tahu kapan virus ini akan hengkang dari muka bumi. Mungkin juga tidak akan pernah pergi dan bisa jadi akan menjadi bagian kehidupan kita, karena virus tersebut sama saja dengan virus-virus lainnya akan selalu ada. Keberadaannya pasti disebabkan oleh suatu alasan.

Dulu di awal virus ini menggejala dikatakan oleh para ahli bahwa virus tersebut ada karena ulah manusia yang sudah tidak terkendali dalam mengeksploitasi dan makhluk hidup lainnya di muka bumi. Akibatnya, banyak masyarakat yang terpapar virus di berbagai belahan dunia dan telah banyak pula korban jiwa berjatuhan. Rumah sakit sudah penuh, akhirnya hotel dan kereta api pun tak luput jadi tempat merawat pasien. Bukan hanya itu, banyak kuburan juga menjadi penuh dan pemerintah harus mencari lahan untuk kuburan baru.

Bencana alam juga belum kunjung berhenti, seolah terjadi bertubi-tubi mulai dari gunung berapi meletus, tanah longsor, banjir bandang, gempa, dan berbagai bencana lainnya. Tak terhitung jumlah kerugian bangunan,  harta benda, dan nyawa melayang. Adakah dari kita tersadar akan apa yang sedang terjadi?

Baca juga:  Katup Sosial Krama Bali

Tampaknya apa yang kita hadapi saat ini, baik itu penyakit dan bencana alam merupakan cara-cara Tuhan untuk menyadarkan kita akan makna cinta. Tuhan menghadirkan manusia dan semua makhluk lainnya yang ada di bumi termasuk bumi itu sendiri atas dasar cinta. Semua kreasi-Nya adalah buah dari cinta. Semua yang disediakan oleh alam agar makhluk hidup termasuk manusia bisa melanjutkan hidupnya juga merupakan representasi dari cinta Sang Pemelihara kehidupan. Bagaimana dengan penyakit yang dihadirkan dari Covid-19 dan bencana alam? Adakah itu karena Tuhan membenci umat manusia?

Manusia sering berasumsi dan memaknai Tuhan memberikan masalah dan cobaan disebabkan karena Tuhan sedang membencinya. Keterbatasan dan kelemahan manusia yang menyebabkan kita berpikir seperti itu, sebab kita semua sesungguhnya tidak siap bila diberikan masalah atau cobaan. Pada hakikatnya, Tuhan dengan kekuatan beliau merupakan Hyang Maha Pencipta, Hyang Maha Pemelihara, dan beliau pula adalah Hyang Maha Pelebur yang artinya bahwa beliau juga yang mengembalikan kita kepada-Nya. Tentu ini juga dilakukan-Nya karena cinta beliau kepada alam dan seluruh isinya. Kelahiran, kehidupan, dan kematian adalah sesuatu yang hakiki, yang diterjadikan Tuhan atas dasar cinta.

Baca juga:  PTM dan “Kutati”

Berbagai bencana dan pandemi Covid-19 yang kita hadapi hendaknya membuat kita belajar dan sekaligus merefleksi diri adakah manusia sudah kehilangan cinta kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada alam? Adanya Covid-19 dan bencana alam adalah sebagian besar dari tindakan manusia terhadap alam yang tidak didasari oleh cinta. Manusia telah menjadi serakah dalam memanfaatkan alam dengan segala isinya. Banyak perilaku menyimpang yang juga dilakukan manusia di jaman sekarang ini. Manusia rela untuk saling membenci dan membunuh atas dasar keserakahannya, bahkan berani mengatasnamakan-Nya untuk melakukan hal-hal yang kurang dan tidak baik. Yang lebih parah, manusia semakin jauh dari Sang Pemilik Kehidupan, yang memiliki alam dan beserta isinya ini. Kita lupa bersyukur bahwa apa yang kita dapatkan dan miliki adalah semua karena-Nya.

Ajaran agama telah menegaskan ketika kejahatan dan keserakahan merajalela di bumi, saat itulah Tuhan akan menunjukkan kuasa-Nya dengan penuh cinta untuk membasmi semuanya. Bagaimana cara beliau bekerja untuk melakukan ini? Tentu hanya beliau yang tahu. Apakah itu memang melalui perang, bencana alam atau penyakit yang dihadirkan via virus baru. Zaman dulu Tuhan hadir membasmi kejahatan via perang seperti perang Bharata Yudha, dimana musuh kelihatan dengan senjatanya, sehingga gampang mengenali musuh dan menumpas kejahatan. Zaman sekarang ini manusia juga sedang berperang dengan musuh, namun ini lebih sulit karena musuhnya tidak kelihatan. Bisa dibayangkan kekuatan yang dimiliki makhluk super kecil yang tidak kasat mata ini sungguh sangat mematikan.

Baca juga:  Berkesenian di Tengah Pandemi, Kreasi Tak Boleh Padam

Di balik semua yang terjadi, ada hikmah pembelajaran yang kita bisa petik, yakni agar kita kembali memahami makna kehidupan dan mengembalikan rasa cinta kita yang tulus kepada Tuhan, sesama, dan alam.

Manusia sebenarnya diciptakan Tuhan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Manusia dibekali dengan akal budi (idep) untuk dapat belajar memperbaiki diri. Dikotomi kata manusia dalam bahasa Bali jelema (jele melah/jelek baik) ada pada dirinya. Oleh karena itulah, manusia yang dibekali idep mestinya mampu mengasah dirinya yang ada pada sisi jelek untuk diubah lebih baik, agar esensi menjadi manusia tidak gagal. Hanya dengan menghadirkan cinta tulus itu kembali dan menjadikannya fondasi kehidupan, maka manusia akan dapat membuat hidupnya bahagia di dunia.

Penulis, dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *