Suasana di DTW Bedugul. (BP/Istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Keinginan untuk menata kembali DTW Bedugul, kecamatan Baturiti, Tabanan terus digaungkan sebelum masa pandemi COVID-19. Destinasi yang sempat berjaya di tahun 80-an ini sudah mangkrak puluhan tahun.

Penataan DTW Bedugul ini terus dilakukan, mulai areal parkir, dan pembangunan kios-kios kerajinan yang bersumber dari anggaran pusat. Begitupun perbaikan restoran juga sudah rampung.

Namun sayang, sejauh ini kelanjutan penataan kawasan masih belum dilakukan lantaran pemerintah memang masih dihadapi dengan urusan pandemi. Meski demikian, Dinas Pariwisata Tabanan masih akan terus berupaya memohonkan bantuan anggaran ke pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

Baca juga:  2019, Pemprov Bali Ambil Alih Pengelolaan PPI Sangsit

Kepala Dinas Pariwisata Tabanan, I Gede Sukanada mengatakan, saat ini untuk permohonan DAK ke pusat, pihaknya masih proses DED dulu. “Persyaratan ke DAK, harus ada DED dulu, tetapi dari pusat memang tak mengharuskan ada DED karena takutnya ketika DED rampung tidak memperoleh dana dari pusat,” terangnya, Kamis (18/2).

Selain itu mantan Camat Kerambitan ini juga menambahkan, pihaknya juga merencanakan tiga alternatif untuk pengelolaan di DTW Bedugul. Yaitu disewakan, dikerjasamakan, atau lelang investasi.

Baca juga:  Festival Cross Border Skouw Hadirkan Dhyo Haw dan Dave Solution

Untuk lelang investasi nantinya dengan sistem investor yang membangun di aset Pemkab setelah itu dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi milik Pemkab Tabanan.

Sementara disinggung tentang besaran anggaran yang diperlukan untuk melakukan penataan secara menyeluruh di DTW ini, Sukanada menyebut sekitar Rp 25 miliar. Dia mengakui, saat ini anggaran untuk pengelolaan atau penataaan DTW Bedugul sudah muncul secara umum di pusat. Hanya saja ia enggan membeberkannya lantaran anggaran tersebut belum pasti diperoleh.

Baca juga:  Angin Kencang dan Ombak Besar Ganggu Penyebrangan, Produksi Garam Macet

Sementara untuk potensi di kawasan tersebut diakuinya sangat bagus, dan grand design-nya  adalah wahana air, rest area, dan kuliner. Kemudian untuk ticketingnya nanti akan menerapkan sistem tiket terintegrasi atau semua saling berkait untuk membangun bersama. “Jadi bukan bersaing tapi bersinergi, misalnya satu tiket akan mengunjungi semua obyek yang ada di sekitarnya seperti Kebun Raya dan lainnya juga,” jelasnya. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *