Beberapa kendaraan melintas di Jalan Kartika Plaza, Kuta, Badung yang minim aktivitas, Rabu (3/2) kemarin. Kawasan yang banyak terdapat akomodasi wisata ini biasanya padat aktivitas para wisatawan dan warga, namun semenjak pandemi Covid-19 merebak kawasan tersebut terlihat sepi, bahkan banyak restoran dan toko sekitar yang tutup. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Dampak pandemi COVID-19 bagi sektor pariwisata Bali makin terasa. Bahkan saat ini, puluhan hotel dan vila di Bali telah berpindah investor karena lesunya industri pariwisata.

Berdasarkan data yang dihimpun, hampir 60 properti hotel dan vila yang ada di Bali telah berpindah tangan, karena ketidakpastian kapan pandemi berakhir. Dari 60 properti tersebut, ada yang milik orang lokal, ada pula yang merupakan milik investor dari luar Bali.

Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, Rai Suryawijaya, persentase beralihnya kepemilikan aset antara orang lokal dan investor luar hampir sama. “Banyak yang mempertimbangkan untuk jual aset karena belum tahu pasti kapan pandemi berakhir. Sementara kewajiban bank juga terus berjalan. Walaupun dikasi relaksasi, tapi belum bisa membantu. Makanya, pengusaha ingin sekali diselamatkan dan akan semakin banyak yang pailit ke depan,” ujar Rai, Rabu (3/2).

Baca juga:  Alot, Pembahasan Ranperda "Desa Wisata" Diperpanjang

Menurut Rai Suryawijaya, soft loan yang diajukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bali ini sangat dibutuhkan pengusaha lokal. Sebab, relaksasi dari perbankan tidak mampu menahan keterpurukan pelaku usaha di Bali. “Soft loan tujuannya untuk membantu pengusaha lokal dulu,” imbuhnya.

Ia menegaskan, soft loan yang diajukan Rp 9,9 triliun diutamakan untuk pengusaha lokal Bali karena Kadin pusat juga mengajukan permohonan bantuan ke Kementerian Keuangan senilai ratusan triliun rupiah. “Pengusaha dari luar juga bisa dapat bantuan dengan meng-apply dari Jakarta atau Kadin pusat,” jelasnya.

Baca juga:  Dijadikan Momen Mengenalkan Adat Bali

Ia sangat berharap bantuan soft loan ini karena menurutnya akan sangat membantu pengusaha lokal mempertahankan usahanya. Relaksasi dari perbankan dinilai tidak cukup karena pandemi berlangsung lebih dari 10 bulan. “Kalau kejadiannya 2,5 bulan tidak masalah. Tapi, pandemi ini sudah 10 bulan. Jadi, soft loan ini akan sangat membantu,” tegasnya.

Ia menambahkan, saat ini pelaku usaha pariwisata lebih banyak memilih tutup karena jika membuka usaha, biaya yang dikeluarkan cukup besar. Apalagi, okupansi hotel sangat minim dan tidak mampu menutupi biaya operasional

Baca juga:  Pelinggih Pura Beji Batan Duren Ditimpa Tiga Pohon

Dikonfirmasi terpisah, Ketua PHRI Kota Denpasar Ida Bagus Sidharta mengatakan, wajar jika pengusaha melakukan upaya untuk survive. “Lambat laun kita semua perlu memegang cash dan sangat wajar aset-aset pun akan tergadai untuk tujuan ini. Tidak peduli aset orang Bali atau bukan,” katanya.

Menurut Sidharta, Bali akan terkena dampak paling parah, karena ekonomi drop -12% plus tahun lalu. Ia memperkirakan akan banyak orang Bali melepas aset-asetnya pada tahun 2021 ini dan kemungkinan berlanjut kalau pandemi ini belum berakhir. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.