Prof. Ratminingsih. (BP/Istimewa)

Oleh Ni Made Ratminingsih

Alam adalah tempat terbaik bagi manusia bukan hanya untuk hidup, tetapi untuk belajar. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari alam. Terlebih dalam setahun terakhir ini, tampaknya alam semakin kurang bersahabat dengan manusia. Kita bisa lihat dari semua fenomena yang terjadi. Sejak Maret 2020, umat manusia di hampir seluruh belahan dunia dibelajarkan dengan kasus COVID-19.

Bukan hanya belajar tentang mengapa hal ini terjadi, apa yang telah kita lakukan, tetapi bagaimana memecahkan masalah, agar umat manusia bisa bertahan hidup. Para ilmuwan sedang sibuk intensif belajar untuk membuat vaksin untuk membantu manusia mencegah terinfeksi dan berusaha menemukan obatnya.

Belum tuntas dan lulus dalam pembelajaran tentang kasus virus, sebab kegiatan vaksinasi belum terlaksana merata di seluruh daerah dan belum berhasil menemukan obatnya, kita kembali lagi dibelajarkan secara bertubi-tubi melalui kasus bencana alam, seperti gunung meletus, gempa, banjir, dan tanah longsor di berbagai tempat. Alam benar-benar tampak murka kepada umat manusia.

Adakah diri kita pernah berpikir dengan berbagai fenomena alam ini? Sudahkah kita bersahabat dengan alam? Dosa apakah yang telah kita perbuat mengapa alam bereaksi seperti ini?

Pembelajaran yang kita petik dari berbagai musibah dan bencana alam adalah bahwa kita patut hidup harmonis dengan alam, seperti yang sering dikumandangkan dalam konsep Tri Hita Karana (Tiga Penyebab Kebahagiaan). Salah satunya adalah hidup harmonis dengan alam.

Baca juga:  Kepemimpinan Tradisional dan Pemberantasan Korupsi

Hidup harmonis mengindikasikan hidup yang seimbang, saling menguntungkan, dan saling menghormati, bukan sebaliknya mengeksploitasi dan mememanfaatkan dengan cara-cara tidak bersahabat apalagi tidak benar. Pelanggaran-pelanggaran yang kita perbuat terhadap alam, membuat kita harus menanggung akibat dari aksi kita sendiri.

Hukum Karma Phala (buah dari perbuatan) juga sedang berlaku. Hukum ini bersifat universal bahwa ketika kita berbuat baik, maka kebaikan akan datang, namun sebaliknya ketika perbuatan kita kepada alam tidak baik, maka bencana akan datang.

Di saat kondisi semakin memprihatinkan seperti ini, dimana korban sudah semakin banyak berjatuhan oleh virus maupun bencana alam, satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah berdoa untuk meminta perlindungan dan keselamatan serta dijauhkan dari marabahaya. Kita pasrahkan semuanya kepada yang memiliki kehidupan ini, karena sesungguhnya beliaulah Hyang Maha menentukan takdir kita.

Mungkin selama ini kita sudah terlalu banyak disibukkan oleh masalah-masalah dunia, sehingga kita lupa mendekat kepadaNya. Oleh karena itulah, beliau menghadirkan bencana dan masalah agar kita menjadi sadar untuk merefleksi diri dan kemudian dilanjutkan dengan bertobat akan semua perbuatan kita yang kurang bersahabat kepada alam.

Baca juga:  Mengevaluasi "Full Day School"

Permohonan maaf atas semua dosa yang telah kita perbuat karena telah berlaku tidak baik pada alam hendaknya dilakukan dengan setulus-tulusnya dan sesering mungkin, yang tentunya diikuti dengan ikhtiar berubah. Perubahan terhadap pola pikir (mind set) dan perilaku.

Pola pikir yang perlu diubah adalah pola pikir egois yang mementingkan dan menguntungkan diri sendiri atau kelompok, and pola pikir yang menganggap enteng atau bahkan mengganggap COVID-19 itu tidak pernah ada.

Pendidikan yang kita dapatkan di bangku sekolah telah mengajarkan kita untuk memiliki rasa kasih sayang, toleransi, dan tepo saliro bukan hanya antar umat manusia, tetapi juga mestinya kepada alam. Alam yang telah memberikan kita tempat hidup dan membuat kita bisa melanjutkan hidup mestinya disayang dan dikasihi seperti kita juga menyayangi diri kita sendiri.

Pun halnya dengan pembelajaran yang telah diberikan oleh pemerintah dan para ahli dalam berbagai media cetak ataupun digital tentang COVID-19 sudah membuktikan bahwa virus memang ada dan kita perlu mencegah atau menyetop rantai penularannya.

Mengubah pola pikir saja belum cukup. Selanjutya diperlukan aksi nyata, berupa perbuatan-perbuatan yang merealisasikan perubahan pola pikir tersebut. Hal ini terkait dengan apa yang ditegaskan oleh Thomas Lickona, bila kita tahu dan paham sesuatu itu tidak baik (bermoral), maka kita mestinya menghindar atau mencegah berbuat itu.

Baca juga:  BUM Desa sebagai Penggerak Perekonomian Masyarakat

Perbuatan bermoral jauh lebih diutamakan daripada pengetahuan dan pemahaman hakikat moral itu semata-mata. Kita harus mulai dari diri kita sendiri untuk berubah dibandingkan dengan mengubah orang lain. Karena mengubah diri sendiri jauh lebih mudah daripada mengubah orang lain.

Mari mulai dengan hal-hal kecil, mengubah diri untuk tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak alam, taat melaksanakan aturan yang berlaku, dan disiplin tinggi dengan protokol kesehatan.

Bila semua dari diri kita ini segera berubah dalam berperilaku yang baik dan bermoral kepada alam termasuk berlaku yang patuh dan taat pada aturan, dan disiplin melaksanakannya, maka niscaya alam akan memperlakukan kita dengan lebih baik dan kita akan terhindar dari marabahaya dan kehancuran, sebab penyesalan selalu datang terlambat. Sebelum terlambat mari kita berusaha mencegah dan berubah.

Semoga harmonisasi antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam dapat menjadikan kita semua hidup dalam kelimpahan kebahagian dan kedamaian.

Penulis Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.