Suasana sosialisasi Gerakan Satu Juta Krama Bali dan Satu Juta Yowana Bali di Aula Kantor Perbekel Desa Kesiman Kertalangu, Kamis (17/12). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com -Komitmen Gubernur Bali Wayan Koster dalam menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali yang sejahtera dan bahagia, mendapat dukungan dari semua komponen masyarakat. Hal ini terlihat dari program yang dijalankan masing-masing desa di Bali.

Tidak terkecuali di Denpasar. Salah satu contohnya, di Desa Kesiman Kertalangu.

Hal ini mengemuka dalam sosialisasi Gerakan Satu Juta Krama Bali dan Satu Juta Yowana Bali di Aula Kantor Perbekel Desa Kesiman Kertalangu, Kamis (17/12). Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan yang diikuti para yowana dan krama Bali ini, di antaranya Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, STP, M.Si., dan Perbekel Desa Kesiman Kertalangu, I Made Suena, ST.

Kegiatan ini diselenggarakan Yayasan Dharma Naradha bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Bali, Bali TV dan Bali Post.

Desa dengan 11 dusun ini telah berkomitmen dalam mewujudkan lingkungan yang besih melalui program penanganan pemilahan sampah yang berbasis rumah tangga.

Bahkan, kini desa yang berada di ujung timur Kota Denpasar ini sudah memiliki Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang dikelola untuk menjaga kebersihan lingkungan di desa setempat. Penanganan sampah yang tidak dikelola secara baik akan berdampak buruk terhadap lingkungan dan alam Bali.

Baca juga:  DFSK Gelar Test Drive DFSK Glory 560 di Bali

I Made Suena,ST., mengungkapkan dalam upaya mendukung kelestarian lingkungan, pihaknya sejak lama sudah merancang program penangan sampah berbasis rumah tangga. Program ini pada awalnya dilakukan di satu banjar, yakni Tohpati sebagai pilot project.

Berbagai hambatan dalam menjalankan program ini ditemui di tengah perjalanan, namun berkat komitmen yang kuat, serta konsistensi dalam mengawal program ini, akhirnya sampai bisa memiliki TPS 3R. Diakui, hambatan dalam mengubah prilaku masyarakat untuk bisa memilah sampah dari sumbernya cukup besar.

Karena sejak awal masyarakat sudah terbiasa membuang sampah sembarangan, tanpa ada pemilahan. “Ketika kita berikan sumbangan tempat sampah di masing-masing KK, banyak yang belum memanfaatkan secara maksimal. Ini yang perlu terus kita kawal, agar bersedia untuk melakukan pemilahan,” katanya.

Dikatakan, di Desa Kesiman Kertalangu produksi sampah mencapai 13 ton per hari. Jumlah sampah ini harus dikelola dengan baik, agar tidak sampai mencemari lingkungan yang ada.

Bersyukur sejak 2017 lalu, pihaknya sudah memiliki TPS 3R yang mengolah sampah untuk mengurangi pembuangan ke TPA Suwung.

Dikatakan, dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan menjadi tanggungjawab bersama. Karena itu, pihaknya selalu menggugah warganya untuk bisa memilah sampah dari sumbernya. “Ini tujuan kita. Memilah sampah dari sumbernya. Di mana? Ya rumah tangga. Karena dengan demikian, smapah yang dikirim ke TPS tidak lagi menjadi satu seperti sekarang. Semua sampah terpisah dari sumbernya, mana yang organis, mana yang an-organik serta residu,” ujarnya.

Baca juga:  Sambut Nyepi, Kepolisian Serentak Mareresik di Pura

Dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik, pihaknya juga menggandeng beberapa lembaga swadaya masyarakat yang peduli dengan sampah. Bahkan, beberapa waktu lalu, pihaknya sudah merancang program zero waste di Banjar Tohpati.

Sementara itu, Kabid Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Dinas Kehutan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani,STP,M.Si., mengungkapkan visi misi Pemerintah Provinsi Bali  Nangun Sat Kerthi Loka Bali pada intinya berharap adanya komitmen yang kuat dalam menjaga alam Bali, baik secara sekala niskala menuju kehidupan krama dan gumi Bali sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno,  Berdaulat secara Politik, Berdikari Secara Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan melalui pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana, terarah, dan terintegrasi  dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia Berdasarkan Nilai-Nilai Pancasila 1 Juni 1945.

Pihaknya sangat mengapresiasi Desa Kesiman Kertalangu telah memiliki TPS 3R untuk bersama-sama mewujudkan Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Karena saat ini lingkungan sudah mulai tercemar. “Danau kita lihat sudah mulai tercemar, begitu juga sungai kita mulai tercemar, laut juga seperti itu. Sampah juga bertambah akibat pertambahan penduduk. Hanya udara yang cukup baik. Ini masalah kita di Bali,” ujarnya.

Baca juga:  Cegah Jumlah Sungai Mati Bertambah, Koster Petakan Penghijauan Hulu ke Hilir

Dikatakan, keberadaan alam Bali tidak boleh terganggu, karena akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan kehidupan manusia di bumi ini. Karena itu, perlu adanya tindakan yang sama untuk mengelola sampah yang baik, sehingga alam dan lingkungan Bali tetap bisa terjaga dengan baik.

Berdasarkan data yang dimiliki, produksi sampah di Bali mencapai 4.281 ton per hari. Jumlah ini bersumber dari rumah tangga 51 persen, 21 persen non-rumah tangga, serta 12 persen dari sektor pariwisata (hotel dan restoran). Yang perlu menjadi perhatian, yakni keberadaan sampah plastik yang mencapai 20 persen dari total sampah yang ada. Karena itu, Gubernur Bali telah mengeluarkan Pergub tentang pembatasan penggunaan sampah plastik sekali pakai.

Di sisi lain, salah satu Yowana Komang Ayu Dewi dan Wika Anggara menyambut baik terselenggaranya kegiatan sosialisasi ini. Karena dengan kegiatan ini pihaknya tergugah untuk mulai melakukan penanganan sampah dari sumbernya. (Asmara Putera/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.