GIANYAR, BALIPOST.com – Desa Adat Padangtegal, Kelurahan Ubud sejak 2012 lalu telah mengelola rumah kompos. Uniknya tempat pengelolaan sampah organik menjadi kompos ini berada di kawasan Objek Wisata Monkey Forest Ubud.

Pengelolaan sampah organik ini dilakukan untuk menjaga kelestarian alam, khususnya di tengah gempuran sektor pariwisata. Hal ini diungkapkan Bendesa Adat Padangtegal, I Made Gandra ditemui usai sosialisasi Satu Juta Krama Bali dan Satu Juta Yowana Bali yang digagas Yayasan Dharma Naradha (YDN) pada teater edukasi Rumah Kompos Desa Adat Padangtegal, Ubud, Selasa (15/12).

Gandra mengatakan kebaradaan rumah kompos Desa Adat Padangtegal sudah didirikan sejak 2012. Tujuan kala itu memang ingin menjaga lingkungan kawasan Desa Adat Padangtegal, serta memenuhi kebutuhan kompos objek wisata Monkey Forest Ubud yang memiliki luas 12,5 hektare.

“Kita ingin menyelamatkan lingkungan, mengingat perkembangan pariwisata berdampak negatif khususnya pada banyaknya sampah masalah yang muncul, termasuk masalah sampah umum yang dikeluarkan wisatawan. Jadi satu sisi kita mengharapkan wisatawan sisi lain masalah sampah muncul,” jabarnya.

Baca juga:  Founder BPR Lestari Alex P. Chandra Raih Rotary Award

Dikatakan ancaman sampah dari perkembangan pariwisata tidak bisa dihindari. Sebab itu pihaknya berupaya mengambil langkah penanganan sampah, dengan melibatkan seluruh krama desa adat untuk memilah sampah di rumah masing-masing.

Bahkan upaya ini diperkuat dengan perarem yang sudah disahkan sejak 2015 lalu. “Rumah kompos ini diawali dengan edukasi masyarakat, agar memilah sampah di masing-masing rumah tangga, harus dipilah sampah itu, sehingga yang dikirim ke rumah kompos sudah dalam kondisi terpilah,” katanya.

Terobosan membangun rumah kompos di atas lahan seluas 40 are ini terbilang berani. Sebab tempat pengolahan sampah organik ini ada di kawasan objek wisata Monkey Forest, yang dikunjungi ribuan wisatawan setiap harinya. “Awalnya ini memang sedikit melawan tatanan, karena rumah kompos ini justru berada di kawasan objek wisata yang kami andalkan,” ucapnya.

Bendesa Adat Padangtegal mengatakan komitmen menjaga lingkungan menjadi poin penting dalam mendirikan rumah kompos ini. Ia pun berharap komitmen serupa dapat dimiliki seluruh desa adat di Bali.

Baca juga:  Dirancang Jadi Tempat Edukasi, Miliaran Rupiah Disiapkan Tata TOSS Center

“Untuk itu desa adat harus memiliki komitmen menyelamatkan lingkungan dengan cara pengelolaan limbah sampah atau daur ulang secara bersinambungan. Cuma tidak sedikit orang ingin bersih di tempatnya tapi bahan daur ulang dibawa ke tempat lain,” katanya.

Sementara itu Manager Rumah Kompos Padangtegal, I Dewa Gede Sathya Deva menjelaskan di rumah kompos tersebut menampung sampah organik yang diambil oleh petugas di kawasan Desa Adat Padangtegal. Pengambil sampah organik ini dilakukan setiap hari.

Namun petugas hanya akan mengambil sampah organik yang sudah dipilah. “Sesuai perarem, kalau tidak dipilah maka tidak akan diambil oleh petugas kami, jadi bisa dibayangkan terganggunya warga bila satu hari saja sampah tidak diambil, karena tidak dipilah,” ujarnya.

Ditambahkan dalam pengolahan sampah ini, pihaknya mempekerjakan 40 orang. “Dari puluhan petugas itu ada yang bertugas mengangkut sampah non organik mulai pukul 20.00 hingga pukul 00.00. Sementara yang mengambil sampah organik pukul 03.00 hingga pukul 07.00 WITA dengan pakaian hijau. Sampai di rumah kompos kembali dilakukan pencacahan bertujuan untuk mempercepat pengomposan,” tandasnya.

Baca juga:  Kesulitan Pakan Kera, Desa Padangtegal Tanam Ketela Rambat

Dikatakan sampah organik yang sudah diproses di rumah kompos, selanjutnya akan simpan pada bak penampungan. Di rumah kompos itu sendiri terdapat 57 bak pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Sedangkan sampah yang non organik juga dilakukan pemilahan mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak. Sementara yang tidak bisa didaur ulang akan dibawa ke TPA. “Melalui upaya ini volume sampah yang dibawa ke TPA akan menjadi lebih sedikit,” katanya.

Dikatakan untuk menghilangkan bau di bak penampungan kompos, pihaknya pun menyemprotkan bahan yang berfungsi sebagai mepercepat pengomposan dan pengurangan bau. Setelah jadi kompos akan dikemas dan ditimbang terlebih dahulu sebelum dijual. Pupuk kompos ini lantas dimanfaatkan untuk kebutuhan internal Monkey Forest dan juga dijual ke sejumlah akomodasi. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *