Beberapa petugas BPBD Denpasar berusaha memotong pohon mangga yang menimpa bangunan di SDN 10 Sumerta, Denpasar Timur, Senin (7/12). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ruang perpustakaan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 10 Sumerta di Jalan Katrangan Denpasar Timur, Senin (7/12) rusak ditimpa pohon mangga. Pohon mangga yang berumur puluhan tahun itu patah akibat diterpa angin kencang.

Bencana tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 12.55 WITA. Dari keterangan saksi, I Kadek Heri Yulia Putra menerangkan bahwa, saat ia sedang duduk-duduk di teras depan rumahnya dan bertiup angin yang kencang.

Sekitar pukul 12.55 WITA, ia mendengar suara pohon yang patah dan menimpa bangunan di SDN 10 Sumerta. “Suaranya keras sekali saat pohon roboh. Kebetulan rumah saya di sebelah SD, jadi suaranya terdengar jelas,” terang Kadek Hery yang juga merupakan Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan di SD tersebut.

Baca juga:  Diduga Terpeleset, Subrata Hanyut di Sungai

Ditambahkannya, pohon mangga jenis harum manis yang tumbuh di halaman SD tersebut telah berumur puluhan tahun. Diperkirakan pohon itu ada sejak SDN 10 Sumerta berdiri, sekitar tahun 80-an.

Sementara itu, Plt Kepala SDN 10 Sumerta, Ni Wayan Swasdewi saat ditemui di lokasi menuturkan pada pagi hari sejumlah guru sempat beraktivitas di sekolah. Suasana saat itu masih tenang, tidak ada tanda-tanda akan ada bencana alam.

Baca juga:  Penyusunan Ranperda RPJPD Bali 2025-2045 Diharapkan Atasi Masalah Bali

“Padahal pagi harinya tenang-tenang saja. Semua guru pulang jam 12 lebih, termasuk saya. Begitu saya sampai di rumah, langsung ditelepon katanya pohon mangga di sekolah roboh,” tutur Swasdewi.

Pohon yang patah itu menimpa bangunan perpustakaan yang menjadi satu dengan ruang tata usaha. Dari yang terlihat, kerusakan terjadi pada atap bangunan, dan belum dapat memastikan jumlah kerugian akibat bencana angin kencang tersebut.

Baca juga:  Tujuh Lokasi di Jember Ditimpa Angin Kencang, Satu Orang Meninggal

Akibat kejadian ini, kedepan pihaknya akan melakukan perompesan sejumlah pohon yang ada di sekolah. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya kejadian yang serupa. (Ekq Adhiyasa/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *