Erry Trisna. (BP/Istimewa)

Oleh Erry Trisna

Sejak Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi, kita membaca begitu banyak hoaks. Dari obat yang diyakini ampuh menyembuhkan virus Corona, jumlah kematian di suatu wilayah, kebijakan yang diambil pemerintah, dan sebagainya. Semua hoaks itu menegaskan satu hal, bahwa masyarakat mudah menelan suatu informasi yang belum jelas kebenarannya.

Informasi yang belum jelas, valid, atau akurat dapat menimbulkan misinformasi dan disinformasi. Misinformasi, sederhananya berarti salah informasi. Informasinya salah, tetapi orang yang menyebarkan percaya bahwa informasi itu benar. Penyebaran informasi itu biasanya dilakukan tanpa motif jahat atau membahayakan orang lain.

Sedangkan disinformasi memang informasi yang salah dan sengaja disebarkan. Penyebar informasi sengaja menyebarkan informasi yang salah dengan tendensi khusus, menipu, bahkan memecah-belah. Disinformasi inilah yang dapat menyebabkan kegelisahan dan kekacauan informasi, terlebih lagi bila si penerima informasi tunawacana atau suka menelan mentah-mentah informasi tersebut.

Dua hal itu jamak terjadi di masyarakat karena kita tidak terbiasa mengunyah informasi secara cermat. Kita perlu juga belajar memahami suatu gagasan secara utuh, tidak parsial. Buku, dengan kenyataan itu menjadi penting, karena tidak sedikit yang dibuat untuk menyajikan informasi secara utuh tentang suatu hal. Buku hadir dalam kehidupan manusia melalui sejarah yang panjang.

Baca juga:  Merayakan Kebangkitan Pendidikan Bali

Awalnya, buku berbentuk gulungan. Karena tidak efisien, hanya bisa ditulis satu sisi, gulungan itu diubah menjadi tumpukan kertas. Manusia terus belajar, mencari upaya agar tumpukan itu bisa dilepas. Tumpukan kertas itu pun dirajut dan dijilid hingga menjadi buku seperti yang kurang lebih tampak pada masa kini.

Tulisan dalam beberapa buku abadi, pemikiran di dalamnya dirawat manusia lintas zaman lewat ulasan, rujukan, dialog, dan bahkan kritik. Seperti buku ‘’The Origin of Species’’ karya Charles Darwin yang terbit tahun 1859, mengungkap tentang evolusi makhluk hidup. Buku itu mengundang kontroversi, menyuburkan kritik tentang asal-usul manusia, melibatkan pakar di bidang sejarah, arkeolog, bahkan teologi untuk beradu gagasan.

Kritik, kontroversi, dan berbagai pembicaraan yang berpusar pada teori evolusi pun menghadirkan babak baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Buku yang dulunya ada di perpustakaan-perpustakaan di Inggris, tempat Charles Darwin berasal, kini telah menyebar ke seantero dunia. Perpustakaan adalah tempat merawat gagasan-gagasan penting.

Dulu, jika seseorang ingin membaca buku dan tak memiliki uang untuk membelinya, ia pergi ke perpustakaan. Orang-orang dari kalangan akademisi mencari informasi yang akurat dengan membaca buku. Pada era tertentu, perpustakaan menjadi tempat berkumpul bagi banyak orang, bukan hanya ‘’kutu buku’’. Orang-orang mencari hiburan dengan membaca buku-buku serial, seperti cerita silat Kho Ping Hoo, komik, dan sebagainya.

Baca juga:  Menyoal Kampanye Hitam dalam Demokrasi

Meskipun tidak semua buku terdigitalisasi, alias bisa diakses melalui internet, eksistensi perpustakaan memudar di masyarakat. Hal ini pun menjadi tantangan bagi pengelola perpustakaan. Berbagai upaya harus dilakukan, seperti menambah koleksi dengan beragam genre, atau mungkin menyulap perpustakaan menjadi ‘’tempat hiburan’’ pikiran.

Membaca dan Berpikir Kritis

Membaca perlu digalakkan kembali, termasuk dalam dunia pendidikan. Di beberapa sekolah, membaca lima belas menit sebelum memulai pembelajaran telah dilakukan. Agar kegiatan membaca lebih bermakna, di sekolah bisa dilakukan kegiatan lain untuk mendukung kegiatan membaca, misalnya membuat resensi atau ulasan buku. Resensi atau ulasan buku, yang berisi pendapat siswa tentang suatu buku dan sinopsis buku tersebut, mau tidak mau membuat mereka membaca. Tentu saja, tugas meresensi perlu disesuaikan dengan tingkatan siswa. Menulis resensi tampaknya lebih pas dilatihkan pada siswa tingkat menengah, yaitu SMP dan SMA.

Di tingkat SD, lain ceritanya. Mereka bisa diajak membaca cerita yang cukup banyak mengandung gambar; karena mereka cenderung lebih mudah diajak berimajinasi dengan gambar. Setelah membaca, mereka diminta menceritakan kembali isi cerita dengan bahasa sendiri. Dari situ bisa diketahui pemahaman mereka tentang isi bacaan. Membaca dengan cermat juga membuat siswa bisa lebih berpikir kritis, tidak menelan mentah-mentah informasi yang dibaca. Siswa perlu dilatih untuk menguji suatu bacaan, terutama pada informasi yang disampaikan lewat berita. Informasi dalam sebuah berita sangat rawan diselewengkan, disusupi informasi yang keliru, bahkan mengandung fitnah dan ujaran kebencian. Saat membaca berita, mereka juga bisa diajak untuk melihat apakah sumber berita itu kredibel dan terpercaya. Terakhir, mereka diajak menemukan data, bukti, dan fakta dalam suatu berita.

Baca juga:  Giatkan Budaya Baca, Bali Post Dianugerahi Nugra Jasadarma Pustaloka

Hal ini sesuai dengan apa yang sering disosialisasikan belakangan, yaitu soal-soal yang berorientasi pada HOTS (High Order Thinking Skill). HOTS selama ini mendatangkan keluhan dari guru dan siswa karena dinilai memberatkan. HOTS bisa tidak memberatkan siswa manakala mereka sudah biasa dilatih untuk berpikir kritis — mencerna, menguji, mempertanyakan, bahkan membuktikan — dalam menghadapi suatu wacana atau berita.

Penulis, guru dan pemerhati pendidikan, tinggal di Denpasar

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.