Suasana di Pantai Kuta yang masih sepi kunjungan. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 merupakan bencana yang sangat memukul sektor pariwisata di seluruh dunia. Bahkan, ada yang memprediksi situasi pemulihan pariwisata akan memakan waktu lama.

Hal ini pasti merugikan stakeholder pariwisata di Indonesia, termasuk Bali. “Setelah hampir tujuh bulan mengalami pandemi Covid-19, para pengusaha melakukan berbagai macam terobosan serta upaya-upaya untuk menyelamatkan bisnisnya atau sebagai upaya untuk bertahan hidup,” kata CEO Pramana Experience, Nyoman Sudirga Yusa, Senin (5/10).

Sudirga Yusa mengatakan, Pramana sebagai salah satu hotel management yang bergerak dalam usaha pariwisata melakukan evaluasi terhadap biaya operasional hotel. Seperti pengurangan payroll yang berdampak pada pengurangan jam bekerja, jumlah karyawan, serta jam operasional.

Baca juga:  Soal Villa Khusus Gay, Ini Kata Ketua BVA

Selain itu, melakukan analisis dan pelaksanaan penggantian bahan-bahan operasional dengan yang lebih murah, tanpa pengurangan aspek kualitas yang siginifikan. “Kami juga berupaya men-create usaha baru untuk bisa mendatangkan sedikit keuntungan bagi perusahaan, di antaranya usaha resto makanan dan minuman, properti, sekolah, dan kursus singkat,” ujarnya.

Ketua Bali Villa Association (BVA) Gede Nik Sukarta mengatakan, keran ekonomi pariwisata sudah dibuka untuk pariwisata di Bali. Bahkan, Menko Kemaritiman datang ke Bali.

Hal tersebut membuat kalangan industri pariwisata tertantang, sehingga menyiapkan diri dengan mematuhi protokol kesehatan dan sesuai dengan surat edaran dan pergub yang ada. Wisatawan domestik (wisdom) didominasi wisatawan dari Jakarta. Yakni 60% penerbangan datang dari Jakarta dan 30% dari Surabaya serta sisanya dari daerah lain di Indonesia.

Baca juga:  Desa Tembok Mulai Terpapar Abu Vulkanik Gunung Agung

Menurut Nik Sukarta, beberapa hotel, vila dan restoran serta DTW sudah diverifikasi, namun masih banyak yang belum siap diverifikasi dengan alasan belum adanya kedatangan wisatawan domestik. Apalagi, border international belum bisa buka dan para pengelola hotel, vila, restoran dan sejenisnya masih enggan diverifikasi.

Hal itu karena masalah working capital issue dan enggan melakukan karena belum siap lahir dan batin. “Kami kalangan industri sebagai pekerja hotel, vila, resto sangat terpukul dengan situasi kondisi ini. Kami tidak bisa berharap banyak, hanya berdoa kepada Tuhan. Pemerintah seyogianya lebih serius memikirkan rakyatnya khususnya dari kalangan industri pariwisata,” harap General Manager (GM) Villa Kayu Raja ini.

Baca juga:  Akibat Gempa, Sejumlah Warga di Klungkung Luka-Luka

Sementara itu, GM Bombora Medewi Wavelodge Jembrana, Supriadi, mengatakan untuk bisa bertahan dalam industri pariwisata, pihaknya melakukan inovasi yang gencar. Salah satunya berupa promosi kepada market lokal, sehingga harga juga disesuaikan.

Inovasi lain yaitu menambah menu-menu lokal dengan harga lokal pula. Hal terpenting melakukan kerja sama dengan pemerintahan yang masih memiliki agenda kunjungan. “Kami juga membuat package-package baru dengan harga yang sudah disesuaikan agar lebih menarik minat wisatawan,’’ ujarnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.