Suasana Pantai Kuta yang sepi pengunjung di tengah pandemi COVID-19. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Seluruh dunia merasakan dampak pandemi Covid-19. Tidak terkecuali Bali yang mengandalkan sektor pariwisata. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi Bali yang minus sebesar 1,14 persen pada triwulan I dan 10,98 persen pada triwulan II 2020.

Pertumbuhan yang lambat ini disebabkan oleh penurunan tajam pendapatan dari pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian Bali. “Jumlah wisatawan mancanegara di Bali telah menurun sejak awal pandemi hingga 99,97 persen pada Mei 2020. Bali mengalami kerugian sekitar Rp 9,7 triliun setiap bulan dari sektor pariwisata saja,’’ ungkap Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dalam acara webinar terkait pariwisata, Sabtu (3/10).

Baca juga:  Wisman Duduk di Pelinggih Siap Ikuti "Guru Piduka"

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Provinsi Bali, lanjut pria yang akrab disapa Cok Ace ini, sebanyak 71.313 tenaga kerja sektor formal di-PHK. Juga 2.570 orang kehilangan pekerjaan.

Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan penurunan konsumsi dan produksi produk kreatif, serta berdampak negatif pada 98 persen pekerja industri kreatif. “Ini memang sangat disayangkan. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen mendukung langkah-langkah yang diperlukan untuk pemulihan perekonomian Bali, termasuk sektor industri kreatif,” imbuhnya.

Baca juga:  Penuhi Panggilan, Bendesa Tanjung Benoa Diperiksa 5 Jam

Cok Ace menambahkan, pemerintah tidak bisa memprediksi kapan pariwisata untuk wisatawan mancanegara (wisman) akan kembali dibuka. Pasalnya, hal tersebut masih melihat perkembangan kasus yang terjadi.

Baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namun, pihaknya memastikan bahwa ke depan pariwisata Bali akan berbasis pada kualitas (quality) dengan tidak mengesampingkan kuantitas (quantity). “Quality dan quantity diharapkan bisa berjalan beriringan,” jelasnya.

Cok Ace mengaku sedang gencar meminta kalangan industri pariwisata untuk mempersiapkan protokol kesehatan secara matang pada setiap destinasi wisata yang ada di Bali. Selain itu dukungan masyarakat juga tidak kalah pentingnya, di mana masyarakat harus bisa menunjukkan kepada dunia luar bahwa protokol kesehatan sudah diterapkan dengan disiplin. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.