Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Ngurah Weda Sahadewa

Ketika beberapa waktu lalu terjadi polemik dalam konteks keagamaan tertentu, terlihat bahwa adanya suatu kegagapan dalam suatu masyarakat dalam menanggapi kejadian demi kejadian di tengah situasi dan kondisi pandemi seperti saat ini. Sepertinya perlu suatu kejernihan dalam berpikir dan berperasaan sebelum mengungkapkan segala sesuatunya ke permukaan, sehingga akan tampak bahwa yang muncul itulah sebagai bentuk dari pengakumulasian kejernihan dharma.

Semua orang tentu ingin memperoleh kejernihan tersebut mengingat tujuan salah satu dari adanya agama adalah agar tercapainya suatu kesatuan yang utuh antara bayu, sabda, dan idep. Terlebih kemudian dapat terejawantahkan dalam Tri Kaya Parisudha, yaitu antara pikiran, perkataan, dan perbuatan (tindakan) terjadi suatu kolaborasi yang seimbang berdasarkan dharma.

Ketika Hare Krishna diperdebatkan sebenarnya tidak ada yang keliru ataupun salah, jika itu diperbincangkan dengan hati-hati dan jernih, termasuk dari pihak Hare Krishna dapat memberikan argumentasi yang meneduhkan dan melembutkan hati dan pikiran manusia sejauh ini. Sanatana dharma sebenarnya tidak terlalu mempersoalkan terkait adanya berbagai sampradaya, sehingga menunjukkan keragaman yang memang sudah menjadi akarnya.

Meski demikian, patut untuk dipertimbangkan segala sesuatunya secara bijaksana, sehingga dalam beragama tidak tercermin adanya suatu paksaan melainkan adanya suatu kesadaran terhadap kehadiran Tuhan secara lembut dan murni. Itulah kemudian yang menjadikan ajaran Sanatana Dharma menjadi abadi.

Baca juga:  “Super Deduction Tax” untuk Pengembangan SDM

Sebagai bentuk dari keabadian dalam nilai-nilai Sanatana Dharma itu sendiri sebenarnya menjadikan Hindu yang sekarang berkembang tidak terlepas dari akarnya itu yaitu Sanatana Dharma itu sendiri. Oleh karena itu patut pula untuk disadari bersama sembari merenungkan lebih jauh bagaimana ke depan dari keagamaan Hindu itu sendiri yang dahulu disebut dengan Sanatana Dharma, bukan Hindu.

Sebenarnya hal yang hendak disampaikan dalam kehidupan beragama adalah membangun kebersamaan dan toleransi, namun ada lagi yang lebih dalam yaitu persaudaraan, bahkan persaudaraan semesta. Ketika manusia sudah berhasil dikotak-kotakkan oleh agama yang bersifat rigid maka sebenarnya tujuan dari agama itu sendiri menjadi kabur, karena agama ada untuk mencerahkan hidup bukan untuk menjadikan hidup semakin gelap.

Pada saat ini sudah saatnya kembali ke jalan dharma dengan ketekunan yang luar biasa terhadap bagaimana menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Oleh karena itu penting bagi kita semua dalam menyikapi berbagai persoalan terutama terkait dengan beradanya suatu agama dan kaitannya dengan budaya agar menjadi hal tersebut (agama dan budaya) sebagai salah sumber yang mampu untuk menuntun kita semua di jalan yang benar (satya) bukan sebaliknya.

Baca juga:  Memelihara Nasionalisme di Tengah Krisis

Di mana pun berada mungkin sekali pengaruh budaya perlu ada di samping adanya agama, oleh karena itulah maka agama menjadi fleksibel. Akan tetapi setiap agama pastilah memiliki suatu aturannya sendiri, yang ini perlu untuk dielaborasi secara cermat dan sungguh-sungguh serta disertai oleh kemurnian dan kesucian pikiran dan hati. Akibatnya nanti adalah beragama itu adalah untuk menyucikan dan memurnikan hati dan pikiran manusia, bukan sebaliknya.

Keagamaan dan budaya merupakan dua faktor yang seharusnya saling mendukung bukan sebaliknya saling mengalahkan satu dengan yang lain terkait dengan keberadaan hidup manusia di muka bumi ini. Oleh karenanya diperlukan kebijaksanaan tertinggi dari keberadaan manusia untuk menyikapi hal tersebut, sehingga satu sama lain dapat saling menghormati di mana pun berada.

Bukan menjadikan agama dan budaya sebagai produk politik untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Demikianlah keberadaan agama dan budaya untuk menjadi manusia sebagai manusia yang semakin meningkat kualitas dirinya sebagai manusia, yang dalam konteks Hindu, menjadikan dirinya kelak mencapi Moksa ataupun kesempurnaan tertinggi, baik semasih hidup ataupun setelah meninggal dunia (Jiwan mukti ataupun Videha Mukti).

Kemudian faktor yang terpenting lainnya adalah kemudahan dalam beragama, sehingga menjadikan manusia dapat menjadikan agama itu sebagai faktor yang membuat dirinya semakin ringan dalam menjalani hidup, bukan sebaliknya. Hal ini tergantung dari faktor manusianya juga selain faktor sistem yang diberlakukan dalam masing-masing agama.

Baca juga:  Tengahi Polemik Wisata Ceking, Pengelola dan Pemilik Lahan Dimediasi

Sistem yang diberlakukan itulah dapat sangat mungkin juga dipengaruhi oleh budaya tertentu di negara manapun agama itu berada. Oleh karenanya menarik untuk diperbincangkan lebih lanjut perihal agama ataupun keagamaan dan budaya ini ke dalam ranah yang menyentuh eksistensi ataupun keberadaan hidup manusia, sehingga semakin jernih apa yang dituju oleh agama itu dan apa yang dituju oleh budaya itu termasuk eksistensi dari kehidupan laki-laki dan perempuan termasuk dalam kehidupan suami dan istri serta kedudukan perempuan dalam berumah tangga serta bagaimana tangggung jawab laki-laki ataupun suami terhadap istri dan keluarga.

Ini semua patut menjadi pertimbangan lain sembari memperbincangkan segala eksistensi sampradaya dan semacamnya sembari pula melihat bahwa ketiadaan sampradaya adalah tidak mungkin terjadi, mengingat itu sebagai bentuk dari perihal keagamaan. Sekarang tinggal bagaimana faktor budaya menjadi pelengkapnya sedemikian rupa, sehingga terjalin suatu jalinan yang saling menentukan hidup manusia di kemudian hari dan di masa yang akan datang tentunya.

Penulis, staf Pengajar Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.