Suka Arjawa. (BP/dok)

Oleh GPB Suka Arjawa

Kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai di atas 180.000 orang. Kasus harian yang terjadi juga meningkat dan mencapai rekor dengan angka tiga ribuan. Tidak ada angka penurunan secara total sampai saat ini dan selalu naik. Sementara China yang berpenduduk 1,3 miliar, yang terjangkit berhenti pada angka sekitar 85.000.

Tentu saja kita khawatir dengan angka yang ada di Indonesia. Dengan alasan membangkitkan ekonomi, aktivitas sosial dibolehkan dengan batasan-batasan protokol ketat yang dianjurkan pemerintah. Dan sampai saat ini seperti yang kita lihat di jalan raya, sudah tidak ada bedanya lagi aktivitas apabila dibandingkan dengan masa sebelum Covid menyebar.

Di Bali kepadatatan itu terlihat di ‘’kota lama’’ sekitaran Jalan Gajah Mada dan sekitarnya serta yang menghubungkan jalan tersebut. Sedangkan daerah pariwisata seperti Kuta, termasuk di wilayah Gianyar masih sepi.

Di tengah demikian banyaknya kasus virus Corona tersebut, semakin jelas bahwa sebelum adanya vaksin maka yang paling layak untuk dipakai ‘’obat’’ adalah langkah-langkah sosial. Tetapi justru itulah yang paling sulit dilakukan di Indonesia. Maka, apabila pemerintah menginginkan adanya penurunan kasus, sebaiknya harus melakukan langkah-langkah sosial secara nyata, praktik.

Sebagai kasus nasional yang sulit dikendalikan, pemerintah sudah seharusnya melakukan pengendalian ini. Artinya, manakala sudah melihat secara nyata kelakuan dan disiplin masyarakat yang sangat lemah seperti ini, maka sekali lagi mau tidak mau pemerintah sebaiknya memakai segala upaya untuk mengendalikan masyarakat itu.

Polisi dan bila perlu tentara turun tangan saja. Apabila dilihat dari kenaikan kasus Covid yang muncul, maka sangat kelihatan antara bertambahnya angka itu dengan perilaku sosial masyarakat.

Baca juga:  Diusulkan, Seluruh PMI Dikarantina di Hotel

Ada tiga hal perilaku atau sikap sosial yang mampu meningkatkan wabah. Yang pertama adalah pengenalan terhadap wabah tersebut. Dari titik ini, sesungguhnya masyarakat sudah memiliki pengetahuan yang mencukupi terhadap bahaya dan cara menghindar dari wabah. Masyarakat sudah tahu bahwa penggunaan masker dan mengatur jarak antara satu sampai dua meter akan mampu menekan penyebaran ini.

Tetapi dalam hal masker ini, banyak yang meragukan kualitasnya yang beredar di pasaran. Pemerintah atau lembaga yang memahami soal ini tidak pernah mencoba mengungkap atau memeriksa, masker yang bagaimana yang benar dan pantas dipakai untuk umum.

‘’Kevakuman’’ informasi tentang kualitas itu justru jadi berkembang macam-macam. Orang ramai-ramai memakai masker berhias yang bergambar macam-macam. Kaum perempuan membuat masker yang sesuai dengan brokat yang dipakai. Apakah ini kemudian dapat dikatakan sebagaai masker yang mampu menghalangi droplet ‘’bervirus Corona’’ yang besarnya serambut tibagi tiga ratus? Apa artinya jika penampilan sok serasi tetapi kemudian menjadi lahan awal untuk menyebarkan penyakit.

Pemerintah sudah benar memberikan penjelasan bahwa masker haruslah diganti setiap empat jam sekali. Meski demikian, jika memang masker ‘’bikinan jalanan’’ itu mempunyai tanggung jawab terhadap penyebaran virus, maka haruslah ada edukasi untuk membuat masker yang benar agar dapat juga membantu menggerakkan ekonomi. Atau pemerintah menyediakan masker yang berkualitas bagi masyarakat. Tidak memperhatikan kualitas masker, pemerintah juga mempunyai tanggung jawab kesalahan karena membiarkan masker buruk dipakai masyarakat.

Kedua, masyarakat kita sering kali lalai melihat latar sebuah peristiwa. Seseorang yang sehat dan kebal terhadap penyakit, seringkali dipandang sebagai contoh dan patokan. Di bidang apa pun. Terhadap penyakit misalnya, seseorang pasti mempunyai kekebalan yang berbeda-beda berdasarkan genetis yang dimiliki, aktivitas yang dilakukan, disiplin diri yang ketat atau lingkungannya yang menunjang.

Baca juga:  Yang Hancur dan Hilang, Gelombang Gelap Perubahan Iklim

Bisa saja ada orang yang kebal terhadap virus meskipun dia tidak memakai masker. Kebanyakan turis yang lalu-lalang di jalan raya di Bali, terlihat tidak memakai masker. Tetapi jumlah bule yang meninggal di antara lebih dari 70 orang korban Covid di Bali, sangat sedikit. Sampai saat ini tercatat dua orang (?).

Meski demikian, tentu perilaku bule tersebut tidak bisa dicontoh. Bisa jadi genetiknya dia memang kuat, kemudian pola hidup teratur, makanan terjamin, istirahat cukup dan seterusnya. Jadi, orang yang tidak mampu menerapkan pola hidup teratur dan sehat (termasuk bule sekalipun), jangan coba-coba mencontoh perilaku tidak bermasker ini. Kesibukan orang Indonesia (Bali) di tengah Covid ini, sudah berjualan sampai tengah malam, kemudian ada odalan, makemit, ngayah, matulungan, terus madelokan lagi puluhan kilometer.

Jika sebagian saja dari kegiatan itu dilakukan, pasti fisik jebol, apalagi semuanya. Belum lagi tekanan psikologis yang mendera jika tidak mampu memenuhi satu kegiatan tersebut.

Ilustrasi ini menggambarkan bahwa beban hidup orang Indonesia (Bali) jauh lebih berat dibandingkan misalnya dengan bule yang diilustrasikan di atas. Jadi, sekali lagi tidak boleh mencontoh bule yang tidak memakai masker itu, juga tidak boleh melanggar jarak sosial saat berbicara.

Ramainya jalan raya, odalan yang seolah-olah sudah tidak kenal Covid, termasuk juga berbagai pesta kenduri yang ada, tidak lepas dari pemikiran di atas. Masyarakat Indonesia kurang memahami latar dari sebuah peristiwa yang kemudian menyimpulkan hal itu sesuai dengan dirinya. Dan yang paling berbahaya adalah kepercayaan terhadap nasib dan takdir yang berlebihan.

Baca juga:  TI sebagai Jangkar Kemajuan Lembaga Komunitas Adat

Soal nasib dan takdir memang banyak yang mempercayai, tetapi sebelum mencapai batasan itu harus juga dilihat usaha dan kondisi yang ada. Inilah yang disebut latar. Misalnya sesorang yang meninggal karena Covid dan berusia 67 tahun, harus dilihat bahwa yang bersangkutan mungkin mempunyai penyakit bawaan yang memang membebani asupan oksigen ke tubuhnya. Jadi, apabila memiliki informasi latar seperti itu, tentu saja masyarakat mampunyai usaha untuk menghindar dari Covid dengan menerapkan protokol maksimal berdasar latar tersebut.

Ketiga, tidak memahami pesan tradisional yang ada, abai terhadap pesan-pesan tradisional. Di Bali, sangat terkenal ujaran Tat Twam Asi. Banyak yang tahu mengucapkan, tetapi sangat tidak bisa menjalankan, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Padahal di Bali terkesan ngotot berupaya mempertahankan hal-hal yang berbau tradisionalitas.

Bila perlu dengan konflik fisik. Terhadap Tat Twam Asi, dari puluhan penafsiran yang dapat diturunkan diri prinsip itu, yang paling sederhana adalah solidaritas. Memakai masker adalah solidaritas kesehatan agar orang-orang tidak tertular. Diam di rumah adalah solidaritas agar tidak menyebarkan penyakit. Tidak membikin konflik adalah solidaritas agar masyarakat tidak tertekan. Bagaimana bisa dikatakan memahami Tat Twam Asi kalau semua yang disebutkan di atas dilanggar. Semoga sehat semua.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.