Suka Arjawa. (BP/dok)

Oleh GPB Suka Arjawa

Persebaran virus Corona saat ini sudah merambah berbagai bidang. Setelah pasar tradisional, kemudian menyebar menuju kampus dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kini telah menyebar ke perkantoran. Moda transportasi pun sejak awal sudah dikhawatirkan menjadi salah satu wilayah penyebaran.

Padahal di saat yang sama, masyarakat sudah diimbau untuk selalu menggunakan masker, alat paling sederhana untuk menangkal dan menyebar terjangkitnya virus ini. Tidak saja Indonesia, fenomena ini juga terjadi di negara-negara lain, juga di negara maju.

Australia yang sebelumnya sudah sempat dipandang sebagai negara yang mampu mengendalikan, kini sudah mulai gelisah juga. Vietnam, negara berkembang yang paling sukses mengendalikan penyebaran virus ini, kembali terusik karena didapatkan belasan warganya yang kembali terjangkit. Apalagi yang harus dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus ini?

Menemukan vaksin, kiranya merupakan cara paling ampuh untuk mengendalikan virus ini. Tetapi di situlah persoalannya. Masyarakat dunia harus bersabar untuk menunggu ditemukannya vaksin pencegah Corona, meski beberapa percobaan tahap ketiga telah dilakukan oleh beberapa ahli di negara maju. Pencegahan secara sosial, secara rata-rata boleh dikatakan gagal.

Hanya sisa-sisa negara komunis sosialis yang lebih mampu mengendalikan pergerakan masyarakat. Negara demokrasi sudah kelihatan kegagalannya dan apalagi negara yang setengah-setengah menjalankan sistem pemerintahan itu.

Penelitian dan pengembangan vaksin virus ini, bagaimanapun juga terus dilakukan dan tetap memberikan harapan kepada masyarakat dunia. Beberapa peneliti dan perusahaan telah menyatakan bahwa harapan itu cukup tinggi, dan diperkirakan akhir tahun 2020 atau awal tahun 2021, vaksin sudah dapat ditemukan.

Baca juga:  Operasi Bina Kusuma, Polres Bangli Libatkan 38 Personil

Maka, sambil menunggu munculnya vaksin pencegah virus Corona, masyarakat tidak bisa lain kecuali harus mampu mengontrol sikap demi menunggu vaksin tersebut. Kita berharap agar benar-benar vaksin itu ditemukan dalam waktu tidak lama lagi. Ada beberapa pelajaran penting yang dapat ditarik dari masa lalu, baik dari sisi pemerintahan maupun dari praktik sosial yang berlaku pada masyarakat, termasuk masyarakat tradisional.

Di zaman Orde Baru, bagaimanapun stereotifnya dipandang pemerintahan ini, tetap ada yang mampu dipetik nilainya. Salah satunya adalah gerakan olahraga, dengan ‘’dipeloporinya’’ ada kementerian olahraga pada saat itu. Tidak ada sanggar senam yang mahal, mewah mentereng, dengan peserta bertatto saat itu (zaman Orde Baru orang khawatir bertatto), tetapi olahraga digalakkan dengan cara yang sistematis.

Sistematika ini dimulai dari titik paling bawah, yaitu diperkenalkannya senam kesegaran jasmani. Pertengahan dekade tujuh puluhan, senam ini diperkenalkan dengan iringan musik sederhana, sebuah fenomena sosial yang sebelumnya tidak dikenal oleh masyarakat. Maka, senam itu digerakkan mulai Sekolah Dasar, berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama sampai dengan Sekolah Menengah Atas.

Jelas senam ini tidak mempunyai tujuan utama untuk mencetak prestasi olahraga, tetapi untuk menyegarkan tunas bangsa. Meski demikian, bukan berarti senam ini tidak mampu memberikan prestasi. Inspirasi dari senam itu mampu membangkitkan semangat kecintaan kepada olahraga, dan kemudian tentu saja kesehatan.

Pesan dan makna dari senam kesegaran jasmani ini besar dan dalam. Bahwa olahraga itu jelas memberikan kesehatan, dan tidak perlu dilakukan secara mahal. Yang penting adalah kontinuitas. Dan pesan itu ditanamkan kepada tunas bangsa yang masih dalam taraf usia bermain (Sekolah Dasar), terus meningkat sampai Sekolah Menengah Atas. Senam kesegaran jasmani  mempunyai gerakan ringan dan dapat dilakukan pagi sebelum pelajaran dimulai. Dengan cara demikian, secara prinsipil praksis dan metode pemeliharaan kesehatan telah didapatkan masyarakat. Artinya telah tertangkap pemahaman, bahwa olahraga mencipta kesehatan dan senam bisa dilakukan di mana saja, termasuk di kamar dengan cara sederhana. Tidak harus mahal.

Baca juga:  Cegah Penyebaran COVID-19, Mal di Bandung Tutup hingga Akhir Mei

Ya, di zaman Orde Baru jelas ada kasus korupsi besar, dengan Pertamina pernah disorot tajam. Juga Freeport yang kontroversial itu juga mulai beroperasi di zaman Orde Baru. Tetapi praksis kesehatan yang lebih luas diwujudkan melalui  berdirinya puskesmas. Artinya di tengah kasus korupsi yang mendera itu, tetap kesehatan diperhatikan. Inilah tangan-tangan kesehatan yang masuk kampung. Gabungan antara inspirasi yang diberikan oleh munculnya senam kesegaran jasmani dan didirikannya puskesmas, boleh dikatakan secara teoretik, cakupan kesehatan dan sarananya yang paling sederhana dan dasar, telah tercapai.

Apa relevansinya dengan kasus Covid-19 di zaman sekarang? Sidang pembaca pasti sudah tahu jika sekarang ada ‘’ledakan’’ olahragawan, ‘’ledakan’’ pemakai sepeda dan barangkali juga ‘’ledakan’’ perilaku bertani. Bahwa sekarang tiba-tiba banyak orang berolahraga pagi juga yang memakai sepeda, fenomena itu memperlihatkan bahwa ada yang tidak pernah terperbaiki pada masyarakat Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi, sesuatu yang tidak terperbaiki itu ada di kota, wilayah yang konon terdiri dari orang-orang yang terdidik, intelek, lebih banyak membaca dan berpendidikan. Kesadaran untuk hidup sehat itu justru belum muncul pada masyarakat perkotaan, yang celakanya mereka-mereka itu telah mengalami masa-masa sosialisasi senam kesegaran jasmani saat mereka Sekolah Dasar dulu.

Baca juga:  "Sense of Crisis" LPD

Masyarakat terkesan sebagai masyarakat musiman, tidak mengenal makna dari sebuah perkembangan zaman. Mereka seolah musiman berolahraga karena ada penyakit membahayakan dan amat mungkin tidak akan melanjutkan kebiasaan olahraganya apabila Covid-19 ini telah hilang di masa depan.

Padahal, WHO dan sebagian besar ahli telah mengingatkan sejak sekarang bahwa kalaupun Covid-19 hilang, potensi virus baru yang lebih membahayakan akan muncul lagi. Manusia benar-benar berpotensi dalam ancaman bahaya di masa depan, yang seharusnya dipersiapkan sejak sekarang.

Jika boleh membandingkan, kebiasaan musiman adalah kebiasaan petani, merupakan kultur pertanian, dan boleh dikatakan sangat tradisional. Para petani secara positif akan menyesuaikan perilakunya sesuai dengan  berbagai musim yang dihadapinya di masa lalu. Bayangkan, Bali, Indonesia di kota-kota, jelas praktik alamnya tidak lagi menyediakan lahan untuk bertani. Tetapi perilaku masyarakatnya mirip dengan petani.

Lihat juga fenomena layangan yang menghiasi langit Denpasar dan Badung hari-hari ini. Jadi, pantaslah kemudian kebingungan menghadapi mereka saat menghadapi pandemi Covid-19 saat ini. Apalagi juga respons penguasa, tidak ubahnya seperti respons petani di pancaroba. Jadi, perbaiki perilaku ini agar terperbaiki juga respons kita menghadapi Corona.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.