Viraguna Bagoes Oka. (BP/dok)

Oleh Viraguna Bagoes Oka

Krisis multidimensi yang datang bertubi-tubi dalam tiga tahun terakhir yang menimpa masyarakat dunia hingga datangnya wabah Corona saat ini telah meluluhlantakkan sendi-sendi perekonomian dunia tanpa mampu dibendung dan dihindari oleh hampir seluruh negara di dunia. Bencana dan ancaman kesehatan yang bersamaan dengan krisis ekonomi secara simultan tersebut telah mengakibatkan ambruknya sistem daya tahan perekonomian dunia termasuk Indonesia.

Krisis ekonomi yang mulai muncul sejak 2018 yang disebut dengan berbagai sebutan mulai dari disruption ekonomi, turbulensi ekonomi, krisis/ketidakpastian ekonomi, perang dagang AS dan China yang berkepanjangan hingga datangnya Covid-19 di awal tahun 2020 telah melengkapi kolapnya perekonomian global, regional dan lokal termasuk Bali.

Dampak dari kolapsnya perekonomian dunia tersebut telah melampaui akibat dari krisis ekonomi 1998, Bom Bali I dan II 2002 hingga krisis mortgage 2008. Akibatnya dunia saat ini telah menghadapi resesi terburuk yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak tahun 1930 sesuai catatan Bank Dunia. Sebagaimana diketahui bahwa resesi ekonomi yang berlangsung lama dapat menyebabkan depresi ekonomi.

Resesi sebagai kondisi di mana ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif atau ketika produk domestik bruto (GDP/PDB) mengalami penurunan selama dua kuartal berturut-turut atau lebih. Bahkan, IMF mengatakan bahwa ekonomi global tahun 2020 akan tumbuh negatif 4,9% yang lebih buruk dari laporan April 2020 yang tercatat minus 3%. Sementara OECD pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi minus 6-6,7, sementara Bank Dunia menyebutkan bisa minus 5% dan dianggap lebih buruk dari tekanan ekonomi masa depresi dahsyat tahun 1930.

Mengapa menimpa Bali? Pertama, era sebelum tahun 1998, Bali yang secara historis, filosofis dan geografis telah diberikan taksu keberkahan yang luar biasa oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan keindahan alam, kesuburan tanah pertanian dan keramahtamahan masyarakat serta budayanya yang adiluhung sebagai suatu nikmat yang tiada duanya di dunia , sehingga Bali sampai dengan tahun 1989 telah menjadi salah satu destinasi ‘’pariwisata holistik berkualitas’’ yang sangat digandrungi wisatawan mancanegara yang seringkali Bali dijuluki sebagai The Island of God karena nilai budaya dan spiritualitas masyarakatnya.

Baca juga:  Mitigasi Corona dan Ekologi Budaya

Kedua, seiring dengan perjalanan waktu, Bali dengan keindahan alam dan kesuburan tanahnya, telah membuat masyarakatnya terbuai dalam ‘’kenyamanan yang kebablasan’’ dan telah mengabaikan keunggulan pertanian Bali dengan sistem subaknya yang telah mendunia. Masyarakat Bali telah ‘’terjebak’’ dalam orientasi pariwisata yang semula berbasis ‘’pariwisata berkualitas holistik’’ bergeser secara pasti menjadi ‘’pariwisata bertarget kuantitas pragmatis semata’’, sehingga nilai-nilai Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha dan Catur Purusa Artha mulai terabaikan.

Ketiga, Bali dengan tatanan nilai budaya ber-taksu mulai terlihat mengalami pergeseran adalah setelah krisis ekonomi periode 1998-2008 (akibat kerusuhan etnis 98), Bali telah berubah total, seiring dengan telah dijadikannya Bali sebagai destinasi perpindahan penduduk besar-besaran dari seantero Nusantara dengan tujuan mengadu nasib, berinvestasi/berbisnis sekaligus bermukim di Bali, karena Bali dianggap sebagai daerah teraman dan terharmonis untuk hidup damai karena masyarakat Bali yang sangat bersahabat dan ramah terhadap krama tamiu.

Keempat, pada periode 2008-2018 dengan datangnya krisis mortgage (crash) 2008 di Amerika telah mengakibatkan bertambahnya lagi migrasi penduduk mancanegara ke Bali untuk mengadu peruntungan. Selanjutnya apa yang terjadi? Mudah ditebak, hukum ekonomi dan bisnis berlaku, supply dan demand bergerak cepat, serta transaksi/spekulasi menjamur di semua sentra wilayah Bali.

Bali telah berubah total masyarakatnya, berubah mindset atau cara pandangnya yang lebih berorientasi kepada materi dan dolar semata dan mengabaikan nilai-nilai kepatutan, budaya Bali yang berbasis nilai-nilai agama dan hukum karma. Properti dan tanah menjadi primadona dan ajang bisnis spekulasi utama, sehingga harganya meningkat fantastis tak terbendung sampai di luar asas kepatutan (over value).

Jual-beli properti, investasi hotel/vila, pariwisata massal hingga bisnis hiburan, bisnis kuliner dan MICE/prewedding dan sebagainya banyak pula dibiayai oleh lembaga keuangan dan perbankan tanpa mengindahkan prinsip kehati-hatian dan mitigasi risiko sesuai dengan nature-nya lembaga keuangan/perbankan.

Kelima, puncak antiklimaks badai mulai datang lagi di awal tahun 2018 dengan dimulainya perang tarif US-China, krisis Brexit Eropa hingga desrupsi perang dagang lanjutan US-China tahun 2019 yang tidak berkesudahan sampai akhirnya datanglah musibah terbesar di abad ini yaitu virus Corona yang lebih dikenal dengan sebutan COVID-19 yang mengancam nyawa manusia dan bersamaan datangnya krisis multidimensi terdahsyat yang mengakibatkan terjadinya resesi dan depresi yang telah melumpuhkan ekonomi dunia, termasuk Bali.

Baca juga:  Ini Jadwalnya, Umat Beragama di Bali Doa Serentak Mohon Wabah COVID-19 Cepat Berlalu

Krisis ekonomi yang dialami Bali telah membuat ekonomi Bali terpuruk akibat pukulan dahsyat terhadap industri pariwisatanya karena industri pariwisata adalah andalan utama rakyat Bali. Selain itu, masalah kebutuhan bahan pokok Bali juga sangat tergantung kepada pasokan logistik dari luar Bali, karena sektor pertanian Bali tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan pokoknya dari waktu ke waktu sebagai akibat menjamurnya pengonversian lahan pertanian produktif menjadi hotel/vila.

Akibatnya saat ini resesi ekonomi/bisnis Bali mendekati stadium depresi yang cukup mengkhawatirkan, apalagi dalam catatan resmi pemerintah terkini masih terdapat peningkatan penyebaran COVID-19 di beberapa wilayah antara lain Bali Utara dan zona merah di Bali Timur. Kendala lainnya yang dihadapi Bali adalah di bidang transportasi dan pelayanan publik yang mencerminkan situasi tidak kondusif.

Contoh terjadinya antrean panjang truk logistik di penyeberangan Ketapang, kewajiban rapid test mandiri berbiaya tinggi serta ketatnya pengawasan di Airport Ngurah Rai (dengan kewajiban rapid test dan swab) untuk jangka waktu yang tidak pasti berpotensi memperburuk derap langkah ekonomi Bali dan resesi Bali dapat menuju tingkat depresi yang belum pernah terjadi selama ini.

Hambatan terbesar yang dihadapi masyarakat dalam adaptasi kebiasaan normal baru antara lain masyarakat yang belum responsif, kurang kepedulian, kebiasaan buruk dan perilaku yang tidak disiplinnya masyarakat (low sense of urgency and low sense of sesitivity of public) sebagai akibat latar belakang dan beragamnya pemahaman/pendidikan sebagai kendala utama kita bersama. Resesi yang dihadapi Bali saat ini dengan pertumbuhan ekonomi yang tercatat negatif 1,49% pada kuartal pertama, diprediksi akan tetap stagnan bahkan berpotensi semakin buruk di kuartal kedua hingga kuartal ketiga 2020 jika rapid test dan swab belum bisa distop atau Bali belum bisa dinyatakan bebas Covid-19 oleh Pemerintah Provinsi Bali.

Baca juga:  Dicabut, Travel Advisory ke Bali dari Tiongkok

Menjawab tantangan dan hambatan atas kompleksnya permasalahan kronis dan resesi yang sedang dihadapi Bali, maka langkah-langkah yang dapat dilakukan dunia usaha, pelaku usaha dan masyarakat krama Bali antara lain: (1) Dunia usaha, pelaku usaha dan berbagai strata masyarakat desa adat dan krama Bali hingga keluarga terkecil wajib dan harus mampu untuk segera melakukan perubahan mendasar yang bernama mindset (cara pandang dan pola pikir kebiasaan normal baru yang terkait soft skill (sikap, perilaku, komitmen, displin, integritas dan karakter yang terpercaya) dan hard skill (keterampilan mekanis, menguasai IT dan perangkat komunikasi daring) berbasis asas dan nilai-nilai kepatutan untuk benar-benar bisa dijalankan secara nyata dan konsekuen sesuai tuntutan dan perkembangan zaman yang telah sering dicanangkan pemerintah bernama ‘’Nangun Sat Kerthi Loka Bali’’.

(2) Adaptasi penerapan kebiasaan baru (normal baru) secara konsisten dan konsekuen melalui komitmen tinggi untuk bekerja lebih disiplin, efisien dan produktif dengan protokol dan ketetapan sistem kerja yang berbasis kesehatan prima, konsistensi kebersihan diri, kerapian kerja dan kebiasaan berkarya berintegritas yang berorientasi kepada hasil (KPI = Key Performance Index). (3) Karakter mumpuni, kapasitas pengalaman teruji dan kemampuan berdaya saing tinggi serta etos kerja prima mulai dari keluarga, lingkungan sampai dengan masyarakat terkecil hingga masyarakat luas, sehingga bisa kembali ke khittah seni dan budaya Bali yang adiluhung.

(4) Kecerdasan intelelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan adversitas dan kecerdasan kreativitas adalah prasyarat dan kriteria untuk mampu bertahan. (5) Publik pelaku usaha dan masyarakat krama desa dengan semangat gotong royong diharapkan sudah mulai paham, menyadari, membiasakan dan membebaskan diri dari ketergantungan dan belas kasihan serta uluran tangan pemerintah semata, mengingat pemerintah memiliki SOP, birokrasi dan keterbatasan eksekusi di tengah persoalan multidimensi serta skala prioritas yang telah diagendakan pemerintah.

(6) Semoga leadership kepemimpinan Bali yang kompeten, kredibel, konsisten sebagai panutan (role model) yang terpercaya (trusted) diharapkan akan mampu dengan sabar dan tegar memberikan keteladanan nyata kepada masyarakat Bali.

Penulis, pemerhati masalah ekonomi, bisnis, dunia usaha

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.