Ganjar Pranowo. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 menimbulkan ketidakpastian dan dampak sosial yang perlu dicarikan solusi yang tuntas dan segera. Sebab, ternyata banyak masalah rumit yang ada di dalamnya. Seperti terkait bantuan dana.

Tidak semua warga bisa mendapatkan bantuan karena keterbatasan anggaran negara. Hal itu diungkapkan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Kagama Ganjar Pranowo dalam webinar bertajuk “Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa” yang digelar, Kamis (2/7).

Menurut Ganjar, selain menyangkut keterbatasan bantuan, problem yang muncul di lapangan adalah soal distribusi bantuan yang tidak merata. Ini terjadi karena belum tersedia data penerima bantuan yang valid.

Data yang valid ini amat dibutuhkan untuk memastikan bantuan sosial merata dan tepat sasaran. “Sekarang ini kita mikir-mikir kalau bantuannya terbatas dan tidak merata serta pandeminya tidak segera berakhir, tentu saja ini menimbulkan ketidakpastian. Lalu (kekuatan) apa yang ada? Saya mikir yang ada adalah kekuatan desa, kekuatan komunitas, dan ekosistem yang sudah terbangun di sana,” ujar Ganjar

Baca juga:  Gerakan Pramuka Kwarda Bali Gelar Rakerda

Kata Ganjar, dengan pendekatan sosiologis yang bagus, kultural yang bagus, relasi antarkelompok kepentingan di level desa dapat menyusun konsensus sendiri. “Karenanya, kita butuh pendamping di desa. Saya senang sekali kemarin diminta untuk melepas mahasiswa KKN UGM ke lapangan. Inklusivitas di desa bisa kita dorong,” imbuh Ganjar.

Gubernur Jawa Tengah ini bercerita, di Jawa Tengah pihaknya menginisiasi adanya Jogo Tonggo yakni gerakan gotong-royong yang dilakukan masyarakat untuk saling menjaga satu sama lain dalam hal penerimaan bantuan dari pemerintah. Keterlibatan masyarakat desa secara aktif juga dirasakan Ganjar pada program canthelan yang diinisiasi Kagama.

Baca juga:  Cek Keanggotaan Ganda, KPU Lakukan Penelitian Administrasi Parpol

Gerakan ini sudah mulai ditiru di tingkat desa. “Kemarin saya temukan di Temanggung, seorang ibu, beliau asisten rumah tangga yang bosnya jualan sayuran. Yang bikin saya terenyuh itu si ibu nyumbang kacang panjang, bayem, kangkung, kubis, lombok. Semua disumbangkan. Lalu si ibu saya undang, kenapa ibu mau nyumbang? Mohon maaf, apa ibu tidak butuh? Beliau jawab, kasihan Pak kalau ada yang lapar. Ini pahala. investasi akhirat,” kata Ganjar menirukan percakapan.

Baca juga:  Korban di Gedung BEI Dievakuasi

Menurut Ganjar, nilai-nilai yang berkembang di desa tersebut sangat penting dan perlu terus didorong menjadi modal sosial untuk kebaikan bersama. “Maka kawan-kawan pendamping desa, pendamping lokal, tokoh masyarakat, karang taruna, ini kekuatan yang sangat dahsyat,” ujarnya.

Di samping itu, Ganjar menyebut bahwa dunia saat ini sudah mulai menghentikan ekspor bahan makanan. “Ini sebenarnya lonceng buat kita. Yuk kita gerakkan ketahanan pangan di level desa, kedaulatan pangan di level desa,” ajaknya.

Ganjar juga mengajak masyarakat untuk mulai menggalakkan kebiasaan baru dalam mengatur menu makanan. Yakni dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekeliling. Misalnya, nasi bisa dipadukan dengan umbi-umbian, sagu dengan beras, dan seterusnya. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.