Sugi Lanus. (BP/Istimewa)

Oleh Sugi Lanus

Apakah kemunculan pemimpin sebuah bangsa telah tertulis ‘takdirnya’ di atas sana?

Dalam suasana kampanye ini, Ganjar Pranowo — seorang kandidat presiden dalam Pilpres 2024 — dalam dua kampanyenya bicara takdir. Ia mengatakan bahwa “takdir itu tidak bisa diketahui hari ini. Takdir itu ketahuan nanti. Seperti hari ini saya tidak pernah tahu apakah kelak saya jadi presiden atau tidak. Yang tahu adalah, yang saya yakini adalah siapa yang jadi presiden besok sudah dicatat di sana, tinggal kita berikhtiar dan punya kemampuan lebih…”  (15/1/2024).

Hal senada disampaikan dua hari sebelumnya (13/1/2024): “Pilpres besok itu yang menang sudah kelihatan… Karena sudah digariskan di atas sana. Tugas kita semuanya adalah berikhtiar. Ada ikhtiar langit yang kita lalukan. Inilah spirit yang kita bawa untuk membawa kemenangan dengan penuh martabat…  Kita rapatkan barisan. Kita akan berjuang sekuat-kuatnya. Kita akan berjuang sejujur-jujurnya…”.

Apakah referensi budaya dan bawah sadar seorang Ganjar ketika bicara takdir?

Pemahamannya tentang takdir diakui berasal dari orangtuanya — yang kebetulan keduanya berdarah Jawa. Dalam budaya Jawa dan Bali ada sebuah kidung berbahasa Jawa Kuno (Kawi) bertutur tentang takdir secara sangat seksama. Kidung ini berjudul Kidung Harsa Wijaya, berkisah tentang kebangkitan Majapahit.

Di tengah kemelut dan penyerbuan-kudeta berdarah atas Raja Kertanegara yang menjadi raja Kerajaan Singasari, tidak terbayang siapa yang akan melanjutkan tampuk kekuasaan di Jawa.

Putri bungsu Kertanegara diculik oleh pasukan yang mengkudeta. Sementara putri sulungnya selamat berlari dengan Harsa-Wijaya atau Raden Wijaya. Ia mencari perlindungan ke Mpu Santasmrti, yang menasehatinya untuk menyeberangi selat Madura, meminta perlindungan pada Arya Wiraraja pemimpin rakyat Madura.

Dari data sejarah Kertanegara diperkirakan dikudeta pada tahun 1292 masehi. Trah raja-raja Kediri merasa bahwa merekalah yang lebih berhak atas tahta di Jawa. Mereka bersatu membentuk pasukan dan sepakat menjatuhkan raja yang berkuasa ketika pasukan kerajaan sedang melakukan ekspedisi ke Melayu dalam Ekspedisi Pamalayu.

Dalam Kidung Harsa-Wijaya semua tokoh jalan hidupnya terikat takdir. Pemimpin kudeta berdarah raja Kertanegara adalah Bupati Jayakatong penguasa Singasana Kediri. Nama Jaya Katwang juga sering disebut sebagai nama Sanjaya, Haji Katong, Jayakatyeng.

Baca juga:  Simulasi Dilakukan, Kandidat Capres Ini Tertinggi Elektabilitasnya

Berita Tiongkok menyebutnya sebagai Ha-ji-ka-tang. Jaya Katwang bernafsu membangkitkan kembali kerajaan leluhurnya, yaitu Kediri. Tetapi takdir berkata lain, tidak berselang setahun usai kudeta, ia disapu oleh takdir, ada pasukan kekaisaran Mongol datang menuju Jawa yang hendak menghukum Kertanegara yang sudah tewas, diboncengi oleh Raden Wijaya bergerak menuju istana Jaya Katwang dan membumi hanguskan pusat pemerintahannya.

Kakawin Nagarakretagama dan Kidung Harsa-Wijaya memberikan informasi bahwa Jaya Katwang adalah keturunan Kertajaya, raja terakhir Kediri. Naskah Pararton menjelaskan pada tahun 1222 Kertajaya dijatuhkan oleh Ken Arok. Kekalahan ini menyebabkan Kediri menjadi bawahan Singhasari, dengan bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya. Selanjutnya tahun 1258  Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Tahun 1271  Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Sebagai raja bawahan ia mencari peluang menguji takdir dengan menyerang istana raja Kertanegara yang pasukannya sedang dikirim ke Sumatera dalam ekspedisi Pamalayu. Oleh takdir Jaya Katwang berhasil pengepungan istana dan menewaskan raja Kertanegara. Oleh takdir pula ia tewas dalam serangan tentara Mongol yang diboncengi Raden Wijaya.

Istilah umum dalam bahasa Jawa Kuno dan Jawa Tengah untuk takdir adalah Widhi. Kata serapan dari bahasa Sansekerta, yang artinya aturan, hukum; takdir, takdir; sang Pencipta. Widhi dalam bahasa Jawa disamakan sebagai ketetapan adalah pangdan, yang diterjemahkan oleh Zoetmulder sebagai urutan, pengaturan, disposisi, sebab-akibat (Zoetmulder 1982: 358), atau  panitah (predestinasi), sesuai dengan kata kerja anitah mengandung arti mengatur (Zoetmulder, 1982: 2022).

Penulis Kidung Harsa-Wijaya menyebutkan memang takdir-nya Raden Wijaya menjadi pendiri Kerajaan Majapahit.  Stuart Robson, seorang peneliti mumpuni naskah Jawa Kuno — dalam artikelnya yang dimuat dalam Indonesia and the Malay World, Vol. 28, No. 82, Tahun 2000, Hal. 250’ — menilai bahwa Kidung Harsa-Wijaya adalah kidung Jawa Kuno yang memberikan ilustrasi takdir’ dengan sangat menarik: “Takdir adalah keputusan para dewa (atau surga), sesuatu yang tidak dapat diubah atau ditolak, sesuatu yang sulit dijelaskan. Kadang-kadang kelihatannya tidak berperasaan (lalis dalam Jawa Kuna), dan kadang-kadang menguntungkan kita. Kita hanya harus menerimanya.

Sejak awal sudah ditetapkan bahwa Wijaya akan menjadi raja, dan hal itu harus terjadi…. Raden Wijaya berhasil menjadi raja bukan karena haknya atau karena keahliannya, namun karena itu adalah takdirnya.”

Baca juga:  Zona Integritas, Mengukir Tujuan Kemaslahatan Bersama

Dalam percakapan dalam kidung, Kertanegara dan Jaya Katwang sadar akan dirinya jika terjatuh itu pasti karena Widhi, sebuah pangdan, ketetapan yang sudah tercatat di atas. Pada detik-detik terakhir hidupnya mereka memahami takdir telah menjemputnya. Mereka berikhtiar mati sebagai satria dengan gagah menjemput kematiannya. Kertanegara yang berpaham Siwa-Buddha memahami jalan takdirnya memasuki Siwa-Buddha-loka adalah kematiannya sebagai satria tanpa penyesalan dan kesedihan menghadapi kematiannya. Tarung sampai titik kesadaran akhir.

Raja Jaya Katwang yang banyak memiliki dukungan, merasa di atas angin, merendahkan Harsa-Wijaya yang sebatas pelarian. Disebutkan bahwa trah Raden Wijaya lebih rendah dari Jayakatwang. Tapi siapa sangka ketika Raden Wijaya meminta perlindungan dan bantuan dari Arya Wiraraja pemimpin Madura, datang pasukan Mongol yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan Jayakatwang? Jaya Katwang pun sebagai satria dengan kebesaran jiwa menyambut takdir kematiannya.

Pasukan Mongol datang ke Jawa untuk mencari dan menghukum raja Kertanegara yang telah menghina dan menyakiti utusan Mongol. Namun takdir berkata lain, pasukan ini malah mau diarahkan oleh Raden Wijaya untuk menyerang istana Jaya Katwang yang telah menggulingkan Kertanegara.

Kata Ganjar, “takdir telah ditulis di atas sana”, senada dengan isi Kidung Harsa-Wijaya. Bahwa memang sudah merupakan ketetapan panitah dan pangdan jika seseorang nantinya dilahirkan menjadi raja atau memimpin sebuah negara. Kidung ini menyebutkan bukan karena Raden Wijaya trahnya lebih tinggi, bukan karena ia lebih mahir memimpin pasukan. Jaya Katwang yang mampu menaklukkan Kertanegara yang terkenal kesaktiannya bertekuk lutut di depan takdir Raden Wijaya (Harsa-Wijaya). Ini panitah yang sudah ditulis di atas.

Takdir — ‘Panitah’, ‘Pangdan’, ‘Widhi’ — telah tertulis di atas. Mpu Santasmrti yang membantu pelarian Raden Wijaya dan putri Kertanegara melihat “ikhtiar langit” bahwa kelak Raden Wijaya akan menjadi raja besar.

Mpu Santasmrti menyembunyikan Raden Wijaya sementara waktu untuk selanjutnya diarahkan untuk mengungsi dan meminta perlindungan ke Arya Wiraraja, Bupati Madura. Di sana Raden Wijaya bukan hanya mendapat perlindungan tapi ia mendapat penasehat ulung.

Baca juga:  Dilaporkan IPW atas Dugaan Terima Gratifikasi, Ini Kata Ganjar Pranowo

Di pulau Madura ia menyusun siasat. Arya Wiraraja menasehati Raden Wijaya untuk memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menyerbu istana Jaya Katwang membalas kehancuran Singhasari.

Takdir mengantar Raden Wijaya mendirikan kerajaan Kerajaan Majapahit. Kebangkitannya atas bantuan Arya Wiraraja, pun dibalasnya dengan memberikan kekuasaan atas wilayah Lumajang ke timur sebagai wilayah yang dikola oleh Arya Wiraraja. Ini sebabnya sampai kini di wilayah Jawa Timur bagian timur banyak warganya asal dari Madura. Ini adalah perjanjian antara Raden Wijaya (Jawa) dan Arya Wiraraja (Madura) untuk berbagi kekuasaan ketika awal pendirian Majapahit.

Mpu Santasmrti yang mampu ‘mengintip suratan takdir yang di atas’ memberi petunjuk bahwa Raden Wijaya akan meraih kemenangan dengan menyatukan kekuatan Jawa dan Madura.

Perjalanan takdir Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit, dengan nama gelar ‘Sri Kertarajasa Jayawardhana’ adalah salah satu pondasi kultural kita dalam pendirian NKRI. Sayangnya, kita kurang rasa hormat pada kebesaran takdir’yang telah dijalani Raden Wijaya — pendiri negara Majapahit.

Di tengah diagung-agungkan kebesaran Kerajaan Majapahit, Candi Simping yang menjadi monumen suci untuk mengenang pendiri kerajaan Majapahit dibiarkan berserak tidak dipugar.

Dalam tradisi suci di Majapahit pendirian candi biasanya bertepatan dengan 12 tahun berpulangnya yang dimuliakan. Diperkirakan 12 tahun setelah berpulang bangunan candi suci di Simping didirikan dan diresmikan, yaitu tahun 1321 Masehi. Bertepat dengan itu dilangsungkan upacara ?raddha roh yang berpulang memasuki alam kedewataan.

Tahun 1363 Masehi lampau — seperti dikisahkan dalam manuskrip lontar Nagarakertagama — masyarakat Jawa memuliakan mendiang Raden Wijaya di Candi Simping dalam kemegahannya. Tahun 2023 saya menyempatkan diri 2 kali ‘nyekar’ ke Candi Simping dalam suasana lacur, duduk merenungi ‘takdir’ di antara serakan batu candi yang tidak terurus.

Apakah sebuah candi punya takdirnya? Apakah ketakmenentuan ini sudah ‘takdir final’ atau masih menunggu takdir lanjutan?

Saya yakin serakan tak menentu Candi Simping ini tidak final. Ini sementara. Saya yakin pada akhirnya akan muncul terang kesadaran dan muncul kebangkitan. Seperti membangunn kembali serakan candi, atas nama takdir atau apapun, diperlukan ikhtiar sungguh-sungguh untuk mampu berdiri tegak sebagai bangsa bermartabat.

BAGIKAN