John de Santo. (BP/Istimewa)

Oleh John de Santo

Selama pandemi COVID-19, setiap hari kita meng-update berita dan menghitung jumlah kematian orang lain. Teknologi internet memungkinkan kita memuaskan rasa ingin tahu tentang berita ini. Kita cukup menjadi pengamat.

Kematian menjadi urusan orang lain. Ia jauh dari kita. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Kematian bisa mendatangi kita kapan saja, di mana saja, melalui cara apa saja. Mungkin kita beruntung bakal menjadi penyintas COVID-19. Namun, kita memiliki alasan untuk merenungkan dan membicarakan kematian sendiri. Mengapa?

Tak mengherankan bila dunia menggambarkan tahun 2020 sebagai annus horribilis, tahun yang mengerikan. Penduduk dunia yang terjangkit COVID-19 telah mencapai angka 4.100.599 dan meninggal sebanyak 280.431 orang, Worldometer (9/5).

Di tengah pandemi COVID-19 ini, Indonesia juga kehilangan sejumlah tokoh masyarakat seperti Ashraf Sinclair, Glenn Fredly, Arief Budiman dan yang terakhir Didik Kempot. Kematian mereka semakin mendekatkan kita kepada peristiwa kematian. Begitu dekatnya kematian dengan kita.

Meski demikian, umumnya kita menolak membicarakan kematian. Kita bahkan berpikir kematian itu urusan orang lain. Ia bukan urusan kita. Kalaupun menjadi urusan kita, ia masih jauh. Mengapa? Karena topik kematian menimbulkan rasa takut, amarah dan keputusasaan. Dan sesuatu yang tidak menyenangkan, sedapat mungkin dijauhkan.

Thomas Fleischmann, dokter sekaligus Direktur Emergency Medical Unit di Jerman dan Swiss, melakukan riset jangka panjang terhadap lebih dari 2.000 pasien dengan penyakit mematikan (terminal illness) menyimpulkan empat cara manusia meninggal dunia. Pertama, sudden death. Orang yang tadinya sehat walafiat, tiba-tiba meninggal dunia mendadak. Peralihan dari kehidupan menuju kematian terjadi mendadak, sehingga baik yang bersangkutan maupun keluarganya tak siap menghadapi kenyataan ini. Kematian mendadak umumnya terjadi pada orang yang mengalami serangan jantung atau kecelakaan lalu lintas.

Kedua, terminal illness. Meninggal dunia akibat penyakit berat. Orang yang sebelumnya sehat, tiba-tiba terserang penyakit mematikan. Ia menjalani terapi, tetapi kondisi kesehatannya terus memburuk dan akhirnya meninggal dunia. Para penderita leukimia, kanker paru, kanker pangkreas masuk dalam kategori ini. Ketiga, organ failure. Orang meninggal karena mengalami disfungsi organ. Orang yang tadinya sehat, terkena penyakit tertentu, menjalani terapi, sembuh tetapi kemudian sakit lagi, menjalani terapi lagi dan sembuh, tapi kondisinya tak pernah pulih sepenuhnya, jatuh sakit lagi dan akhirnya meninggal dunia. Pasien dengan penyakit hati, gagal jantung atau gagal ginjal masuk dalam kategori ini.

Keempat, frailty. Orang yang rentan terhadap penyakit. Kondisi fisiknya lemah dan mudah terkena sakit. Ia sering keluar-masuk rumah sakit. Hidupnya ibarat bunga yang layu sebelum berkembang. Dirinya selalu dekat dengan penyakit sebelum meninggal dunia.

Menurut Fleischmann, umumnya orang ingin meninggal dunia melalui cara pertama kematian mendadak (sudden death). Tetapi menurut penelitiannya, tak sampai sepuluh persen pasien meninggal dunia dengan cara pertama. Umumnya orang meninggal dunia melalui cara ketiga, yakni organ failure.

Terhadap pertanyaan apakah terdapat tanda-tanda yang jelas dari orang akan meninggal dunia dalam waktu dekat? Fleinchmann menjelaskan bahwa tanda-tanda itu bisa diidentifikasi melalui diagnosis atau hasil laboratorium. Selain itu masih ada sejumlah gejala yang terbaca. Dalam kurun waktu dua hari sebelum meninggal dunia, pasien merasakan nyeri dada (22%), sesak napas (15%), sakit tertentu (7%). Sedangkan 25% pasien tidak memperlihatkan gejala apa-apa.

Keinginan kita untuk meninggal dunia berbeda dengan bagaimana kita akan meninggal dunia. Tetapi membicarakan atau merenungkan kematian sendiri adalah sesuatu yang baik dan perlu, karena membuat kita sadar akan rentang kehidupan dalam dimensi waktu yang terbatas. Keterbatasan yang disadari itu akan mengubah lanskap kita tentang kehidupan.

Ia mendorong kita untuk merumuskan tujuan hidup dan bagaimana meraihnya berdasarkan skala prioritas menolak. Dengan cara itu kita menolak kebiasaan hidup menurut naluri semata. Sederhananya, orang menjadi lebih bijak untuk mengatur hidup, ketika menyadari kematiannya sendiri sebagai nasib yang tak terelakkan.

Penulis, Dosen Prodi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta, Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.