I Ketut Swarjana. (BP/Istimewa)

Oleh : I Ketut Swarjana, S.KM., M.Ph., Dr.PH.

Sejak ditemukannya kasus pneumonia yang penyebabnya belum diketahui di Kota Wuhan, China, akhir Desember 2019 (akhirnya dinyatakan sebagai Covid-19) terus mengalami perubahan baik dari segi jumlah kasus baru, sembuh dan juga kasus yang meninggal.

Awalnya Covid-19 hanya dihadapi oleh Kota Wuhan, namun akhirnya menyebar ke seluruh daratan China dan akhirnya menyebar ke luar China, di mana kasus pertama ditemukan di Thailand. Selanjutnya WHO menetapkan Covid-19 sebagai wabah global, dan mengingat makin masifnya peningkatan kasus di hampir semua negara, maka WHO menetapkan Covid-19 sebagai global pandemic tanggal 11 Maret 2020.

Sementara itu, episentrum Covid-19 yang awalnya di Kota Wuhan, China lalu bergerak ke Eropa seperti di Italia, Inggris, Jerman dan lain-lain. Selanjutnya berpindah ke Amerika di mana New York sebagai episentrum baru. Negara yang superpower ini juga mengalami kewalahan luar biasa bahkan seperti frustrasi menghadapi Covid-19. Brazil pun saat ini juga mengalami lonjakan kasus luar biasa serta Rusia juga terkena dampak saat ini dengan lonjakan kasus yang luar biasa.

Khusus di negara-negara ASEAN, beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, termasuk Thailand telah melaporkan kasus Covid-19 lebih awal daripada Indonesia. Berdasarkan salah satu data global (ourworldindata.org) tanggal 13 Juni 2020 menyebutkan Indonesia memiliki angka fatalitas atau case fatality rate tinggi yaitu 5,6%. Sementara itu, beberapa negara ASEAN lainnya memiliki case fatality rate yang lebih rendah seperti Malaysia (1,4%), Brunei (1,4%), Thailand (1,85%), Singapura (0,06%), dan Vietnam mencatat tidak ada kasus kematian selama ini akibat Covid-19.

Bagaimana dengan Indonesia? Episentrum Covid-19 awalnya terjadi di Jakarta kemudian berlanjut ke Surabaya, Jawa Timur. Provinsi lainnya dengan lonjakan Covid-19 yang tinggi adalah di Sulawesi Selatan. Penularan Covid-19 yang awalnya lebih banyak imported cases sekarang telah jauh berubah menjadi local transmission. Di mana-mana local transmission terus mengalami peningkatan di Indonesia, demikian juga halnya dengan Bali beberapa hari belakangan ini.

Bali, awalnya hanya didominasi dengan kasus imported cases karena ribuan saudara kita balik dari pekerjaannya di kapal pesiar atau sektor lainnya. Bali cepat mengantisipasinya dengan melakukan rapid test, kemudian belakangan dengan swab test.

Langkah ini tepat karena telah terjadi kasus positif pada para pekerja migran baik yang melakukan karantina mandiri maupun setelah karantina dua minggu, bahkan beberapa kasus ada yang positif setelah karantina di tempat yang disediakan pemerintah dan lanjut karantina mandiri di rumah dan akhirnya positif Covid-19. Penanganan Bali terhadap Covid-19 selama ini bisa dibilang baik terutama antisipasi kasus Covid-19 pada pekerja migran, bahkan Bali mendapatkan sanjungan dari pemerintah pusat.

Namun, hal yang dikhawatirkan adalah local transmission yang selama ini telah terjadi banyak di provinsi lainnya. Bali saat ini didominasi bukan oleh kasus baru imported cases tetapi didominasi oleh kasus baru karena local transmission. Ini yang sangat kita cemaskan, karena bisa menjadi lonjakan kasus luar biasa apabila tidak diatasi dengan strategi yang cepat dan tepat. Saat ini kasus baru harian di Bali lumayan tinggi dengan kluster seperi pasar misalnya. Bahkan yang terkena tidak hanya beberapa pedagang pasar dan keluarganya, tetapi juga beberapa kasus justru mengenai petugas kesehatan seperti dokter maupun perawat serta petugas kesehatan lainnya yang selama ini berada di garis depan untuk deteksi dini dan penanganan Covid-19 di pelayanan kesehatan.

Selanjutnya, informasi tentang pelonggaran atau relaksasi PSBB, membuka pariwisata lebih awal, serta rencana untuk menerapkan a new normal makin kencang diembuskan oleh berbagai pihak di Indonesia yang mungkin tanpa didasari analisis secara epidemiologis yang akurat sebelum pengambilan atau perubahan kebijakan, walaupun dengan berbagai pertimbangan termasuk ekonomi.

Justru saat ini kita harus bersatu melakukan pencegahan sesuai anjuran pemerintah, dan bila telah memenuhi syarat maka pariwisata atau sektor lainnya bisa dibuka kembali secara bertahap, sehingga Bali dapat bangkit kembali seperti sebelumnya.

Secara teori, salah satu indikator dasar secara epidemiologis untuk menerapkan pelonggaran maupun new normal adalah menggunakan basic reproductive number (R0) yang dibaca ‘’R naught’’. R0 is the average number of secondary infections produced by an infectious case in a population where everyone is susceptible atau R0 adalah jumlah rata-rata infeksi sekunder yang dihasilkan oleh kasus infeksi pada populasi di mana setiap orang memiliki kerentanan.

Seperti halnya saat ini semua orang berisiko terkena Covid-19 akibat belum ada vaksin untuk mencegah Covid-19. Bila R0>1 artinya 1 orang dengan Covid-19 dapat menularkan >1 orang (cases increases over time). Jika R0 = 1 artinya 1 orang dengan Covid-19 akan menularkan ke 1 orang lainnya (cases stable over time), dan jika R0 <1 ini berarti 1 orang dengan Covid-19 akan menularkan ke kurang dari 1 orang (cases decreases over time).

Selain pertimbangan R0, ada beberapa syarat juga yang disebutkan oleh WHO jika suatu negara hendak mencabut lockdown atau menerapkan pelonggaran atau reaksasi di antaranya:

1. Memiliki kemampuan pengendalian penularan.

2. Sistem di suatu negara telah mampu melakukan deteksi, melakukan tes, isolasi, dan melakukan pelacakan kontak erat kasus positif.

3. Meminimalkan risiko epidemik atau wabah terutama pada fasilitas kesehatan dan panti jompo.

4. Sekolah, kantor, dan lokasi penting lainnya dapat dan telah mampu menerapkan upaya-upaya pencegahan.

5. Mampu menangani risiko kasus impor.

6. Masyarakat sudah teredukasi, terlibat dan diperkuat untuk hidup dengan kondisi normal yang baru.

Lebih lanjut, apakah yang perlu dilakukan oleh Bali untuk mengantisipasi risiko gelombang kedua (the second wave) Covid-19 maupun isu pelonggaran atau relaksasi atau adanya desakan untuk mulai membuka pariwisata secepatnya atau penerapan new normal di tengah situasi dominasi kasus transmisi lokal. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk mengantisipasinya:

1. Pemahaman apa yang disebut dengan Iceberg Phenomenon atau fenomena gunung es. Artinya, kasus yang selama ini terdeteksi belum tentu jumlahnya hanya sebesar yang ditemukan saat ini (di atas permukaan air). Bisa jadi kasus yang sebenarnya jumlahnya sekian kali lipat tetapi belum bisa terdeteksi karena keterbatasan early detection atau deteksi dini akibat keterbatasan dana, tenaga, waktu, atau ketidaktepatan dalam menentukan cluster.

2. Bali tetap fokus pada upaya pencegahan primer (keharusan penggunaan masker di luar rumah, physical distancing minimal 1,5 – 2 meter, rajin mencucui tangan, menjaga imunitas, dan upaya lainnya), serta pencegahan skunder berupa early detection seperti skrining termasuk rapid test maupun swab terutama menyasar tempat-tempat yang berisiko tinggi terjadi penularan, misalnya pasar yang sangat sulit menerapkan physical distancing dan banyak yang membandel tidak menggunakan masker atau masker hanya dipasang di dagu dengan berbagai alasan.

3. Perlindungan atau proteksi bagi petugas kesehatan yang langsung berada di garda terdepan dalam pencegahan maupun penanggulangan Covid-19 di pelayanan kesehatan maupun di tempat lain yang ditugaskan oleh pemerintah. Proteksi mereka misalnya dengan mewajibkan penggunaan masker bagi seluruh pengunjung pelayanan kesehatan, jika pengunjung menunjukkan tanda atau gejala yang mengarah kepada Covid-19, maka dilakukan rapid test secepatnya sebelum diberikan pelayanan kesehatan (kecuali dengan kasus emergency maka perlu ditangani langsung dengan protokol ketat kesehatan untuk mencegah risiko penularan).

4. Bagi petugas kesehatan di pelayanan kesehatan, wajibkan menggunakan APD sesuai ketentuan demi menjaga keselamatan mereka. Ini penting karena Bali memiliki keterbatasan jumlah tenaga kesehatan. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika makin banyak petugas kesehatan yang tertular Covid-19 karena banyak kasus OTG.

5. Sudah saatnya menerapkan sanksi lebih tegas seperti denda dan lain-lain bagi pelanggar, misalnya tidak menggunakan masker di luar rumah, serta kerumunan yang berpotensi terjadinya risiko penularan Covid-19.

6. Lebih memperketat pintu masuk Bali di tengah isu adanya oknum yang bermain, sehingga ada orang-orang yang bisa lolos bahkan sampai Denpasar tanpa dokumen yang dipersyaratkan, bahkan sampai muncul isu di masyarakat bahwa penduduk lokal sendiri susah ketika pulang kampung, tetapi beberapa penduduk luar justru bisa lolos masuk Bali tanpa mematuhi ketentuan yang berlaku, karena ulah dari oknum tertentu. Pengetatan pintu masuk Bali ini penting agar Bali bisa lebih fokus di internal untuk menangani kasus transmisi lokal yang mendominasi belakangan ini.

7. Terkait pemeriksaan di pintu masuk Bali terutama pelabuhan laut yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah provinsi maupun kabupaten perlu memikirkan dengan cermat terutama tentang perlindungan petugas kesehatan tersebut dengan APD yang sesuai. Selain itu pergantian shift atau jam kerja yang sesuai agar mereka tidak kelelahan dan berisiko tertular Covid-19 selama menjalankan pekerjaannya. Selain itu, pikirkan juga untuk mencari alternatif lain dengan merekrut relawan yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan. Hal ini penting agar petugas kesehatan yang bekerja di puskesmas maupun rumah sakit bisa fokus ke tugas pokok mereka masing-masing, sehingga pelayanan tetap optimal untuk melayani masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan.

8. Peningkatan sinergi antara pemerintah baik itu gugus tugas, aparat keamanan, Dinas Kesehatan, puskesmas, dengan desa adat harus lebih diperkuat lagi, sehingga memiliki kesatuan arah dalam penerapan di lapangan. Terutama terkait dengan penggunaan masker, cuci tangan, physical distancing, termasuk kegiatan di masyarakat yang melibatkan banyak orang agar ditunda atau sangat dibatasi.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.