Menjelang Nyepi Çaka 1942 tentu ada banyak kegiatan yang biasanya dilakukan, baik kegiatan pamelastian, pacaruan dan pengarakan ogoh-ogoh. Perayaan ritual ini sudah sering kita lewati dengan ketulusan dan bahkan ada yang dilakukan dengan sedikit jor-joran.

Di antaranya saat kita membuat ogoh-ogoh yang menelan dana sampai Rp 50 juta lebih. Kini ketika situasi lagi sulit dan ancaman virus Corona merebak di mana-mana, hal-hal yang bisa kita hemat mestinya bisa kita lakukan.

Baca juga:  Kesadaran Menjaga Kawasan Geopark Batur

Mulai dari pembuatan ogoh-ogoh termasuk pengarakannya. Sebagai umat Hindu saya berharap jika hal-hal ini bisa dihemat tanpa mengurangi makna ritualnya, tentu penting  kita lakukan.

Bisa juga kita sederhanakan dengan melakukan prosesi nyomia  bhuta kala dengan pendekatan yang lebih simpel tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak. Artinya, ritual perayaan Nyepi tahun ini kita maknai sebagai introspeksi untuk menjaga bumi dan mengendalikan diri. Terlebih kini banyak orang mulai merasakan dampak virus Corona, sehingga hemat dan membatasi pengeluaran yang tak perlu disa dilakukan.

Baca juga:  Kualitas Jalan di Kota Budaya

I Kadek Rajendra

Gianyar, Bali

BAGIKAN