Tertibkan KUPVA Ilegal
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Meluasnya virus Corona Covid-19 akan berdampak besar bagi pariwisata Bali. Ekonomi akan terpukul dan masalah kesehatan menjadi sangat rentan.

Peristiwa yang terjadi menjelang perayaan Nyepi ini, seakan-akan alam sedang mengingatkan kepada manusia Bali agar melakukan Tapa Brata sesungguhnya. Lupakan gemerincing dolar, selamatkan manusia Bali.

Sepertinya belum pernah terjadi ancaman terhadap sektor pariwisata seperti yang ada saat ini. Wabah virus Corona menyebar ketakutan bagi warga seluruh dunia. Membuat mereka yang hendak berwisata harus berpikir ulang untuk bepergian.

Baca juga:  Ribuan Naker Kapal Pesiar Asal Bali Dipulangkan Pascawabah COVID-19, Puluhan Ribu Orang Dikhawatirkan Bernasib Sama

Sementara pihak tuan rumah juga was-was, jika saja wisatawan yang datang ternyata membawa virus yang membahayakan. Strategi promosi pariwisata secara besar-besaran menjadi tidak efektif, atau justru malah bisa jadi boomerang.

Di tengah kondisi yang sangat dilematis ini, maka penyikapan yang paling logis adalah bersama-sama melakukan langkah pencegahan penyebaran virus, hingga wabah mereda.  Ini berarti, roda pariwisata kemungkinan besar tidak lagi diputar dengan kencang.

Karena menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Bali, maka pasti dampaknya adalah lesunya pendapatan dan daya beli yang menurun. Bali akan dihadapkan pada kondisi yang memaksa manusianya melakukan tapa berate, atau menahan diri untuk tidak mengobral pemenuhan keinginan-keinginan.

Baca juga:  Razia, Polisi Temukan Dua Harimau Diawetkan

Dalam Tapa Brata-nya, manusia bali akan dipaksa untuk memilah-milah mana yang namanya kebutuhan dan mana yang namanya keinginan. Kebutuhan meliputi hal-hal yang harus dipenuhi sebagai mahluk hidup yakni sandang, pangan dan papan. Sementara keinginan lebih bersifat hal-hal yang bisa dikesampingkan dahulu.

Dalam konteks makro peristiwa wabah Corona yang datang menjelang perayaan Nyepi menjadi momentum tepat melakukan introspeksi diri. Bali dengan derap pariwisatanya yang terlalu kencang, telah menyeret manusia lupa diri.

Baca juga:  Dorong Peningkatan 37 juta Penumpang, AP 1 Lanjutkan Reklamasi Seluas 107 ha

Meredupnya ekonomi Bali, juga akan menjadi momentum penataan ulang kebijakan-kebijakan menyangkut sektor pariwisata. Masa jeda, masa tanpa pariwisata akan memberikan kesempatan besar mendesain pariwisata Bali yang lebih berkualitas. Selama ini, pariwisata nampak tumbuh terlalu liar, tak terkendali dan nyaris telah membakar apa saja yang disentuhnya.  (Nyoman Winata/balipost)

Ulasan mengenai Tapa Brata akibat wabah Virus Corona dapat dibaca di Harian Bali Post, Rabu, 4  Maret 2020.

BAGIKAN