I Made Sara. (BP/Istimewa)

Oleh : I Made Sara

Wabah Corona di sejumlah negara, khususnya Tiongkok, menjadi tekanan pada sektor pariwisata Bali. Sebab, jumlah wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali yang merupakan jumlah terbesar kedua setelah Australia. Dampak ini sangat dirasakan oleh pelaku usaha pariwisata.

Penurunan jumlah kunjungan wisatawan ini sudah pasti berdampak langsung pada penerimaan pajak hotel dan restoran (PHR) yang menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten/Kota se-Bali. Penurunan jumlah wisatawan tentu juga akan berdampak pada petumbuhan ekonomi Bali karena sektor pariwisata merupakan leading sector pembangunan Bali. Karena sektor pariwisata Bali memberikan kontribusi lebih dari 50% terhadap PDRB Provinsi Bali.

Kebijakan meniadakan pungutan pajak hotel dan restoran merupakan kebijakan yang sangat penting dan bijaksana dari pemerintah pusat dalam membantu pemulihan pariwisata dan perekonomian daerah. Pemerintah dan seluruh pelaku pariwisata hendaknya betul-betul memanfaatkan kebijakan ini dengan sebaik-baiknya karena ini akan berlaku selama enam bulan.

Baca juga:  Pascapandemi COVID-19, CHS Jadi Tagline Pariwisata

Kita menyadari bahwa Bali sementara ini sangat tergantung dengan pariwisata, dan dapat dipastikan akan terjadi tekanan bagi ekonomi Bali jika pariwisata melemah. Untuk itulah, ke depan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan tetap berupaya mendorong upaya-upaya antisipasi untuk tetap menggairahkan pariwisata dan Bali sudah saatnya benar-benar mempersiapkan diri membebaskan diri dari ketergantungan terhadap pariwisata.

Kita juga mengetahui bahwa setiap terjadi peristiwa yang mengancam pariwisata, selalu muncul wacana mencari alternatif lain sebagai penggerak ekonomi. Akan tetapi seiring dengan bangkitnya kembali pariwisata pasca-anjlok, wacana mencari alternatif lain hilang begitu saja.

Bali memiliki sejarah kuat di luar sektor pariwisata, sebelum pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian Bali, sektor pertanian menjadi sektor andalan karena manusia Bali adalah petani-petani tangguh dan ulet. Pertanian tidak saja dijadikan kehidupannya, tetapi juga jalan hidup, budaya agraris menjadi nilai jual utama pariwisata. Berdasarkan realitas itu, pariwisata idealnya ada di belakang pertanian atau paling tidak bersama saling mendukung dan berkembang.

Baca juga:  Di Januari 2020, Ini Posisi Kedatangan WN Tiongkok di Bandara Ngurah Rai

Kelebihan Bali dibandingkan dengan 10 destinasi wisata yang ingin dikembangkan oleh pemerintah pusat yaitu kita punya kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh daerah lain yaitu desa adat. Dengan pemberdayaan desa adat dalam pengembangan kepariwisataan dengan budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu dapat dipakai sebagai potensi yang paling dominan.

Desa adat mampu menghadapi berbagai tantangan yang berkembang bila potensi dan pemberdayaan desa adat diberikan peran dan dijaga keajegannya. Sehingga dalam kondisi apa pun Bali akan tetap mampu selamat dari ancaman yang terjadi.

Baca juga:  Mencari Benang Merah Data Pemilih

Kepariwisataan yang dalam perkembangan dan pengembangannya menggunakan kebudayaan daerah Bali yang dijiwai oleh agama Hindu yang merupakan bagian dari kebudayaan nasional sebagai potensi dasar yang paling dominan, yang di dalamnya tersirat satu cita-cita akan adanya hubungan timbal balik antara pariwisata dengan kebudayaan, sehingga keduanya meningkat secara serasi, selaras dan seimbang.

Desa adat sangat berperanan dalam pengembangan pariwisata budaya di daerah ini bilamana fungsi, peranan dan wewenang desa adat dapat berjalan dengan baik. Pada desa-desa adat yang berkembang seni budaya dan kehidupan masyarakatnya sejahtera, fungsi, peranan dan wewenang desa adat berjalan mantap.

Desa adat di Bali mampu menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi ini bila potensi dan pemberdayaan desa adat dapat sepanjang pelestarian kebudayaan Bali dan lingkungannya tetap dijaga keajegannya.

Penulis, Dosen FEB Unwar

BAGIKAN