Ilustrasi. (BP/Tomik)

Wabah virus Corona telah nyata-nyata menghantam pariwisata Bali. Di beberapa kawasan pariwisata, pengusaha bahkan telah merumahkan karyawannya. Di sisi lain, pemerintah pusat dan daerah mengambil ancang-ancang untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari imbas anjloknya kunjungan wisatawan.

Perekonomian Bali sudah sejak lama bergantung pada pariwisata. Masyarakat dan pemerintah juga sudah lama terlena, sehingga menganakemaskan sektor ini. Sekarang di tengah kelesuan pariwisata, Bali lagi-lagi tersadar bahwa sektor ini sangat rentan dengan berbagai isu, sehingga perlu dipikirkan skema terburuk Bali harus bersiap hidup tanpa pariwisata.

Netizen yang menanggapi pemberitaan tersebut di akun Facebook @balipost, menyampaikan keresahannya atas kondisi Bali saat ini. Sebagian netizen berpendapat, Bali tak bisa hidup tanpa pariwisata mengingat sumber dayanya sangat terbatas.

Tidak mungkin ada industri skala besar di luar pariwisata yang bisa berkembang di Bali. Apalagi, pembangunan akomodasi pariwisata sudah banyak menyerobot tata ruang. Tidak sedikit pula netizen yang optimis Bali bisa hidup tanpa pariwisata.

Mereka menawarkan gerakan Swadesi seperti yang dipopulerkan Mahatma Gandhi atau dalam bahasa Soekarno disebut berdikari. Dalam hal ini, produk-produk lokal Bali dikonsumsi orang Bali, sehingga terjadi perputaran ekonomi lokal yang dinamis.

Terlepas dari dua pandangan berbeda di atas, sejatinya netizen sama-sama berharap Bali bangkit dari keterpurukan. Semua komponen diharapkan bersinergi, memperkuat komitmen dan meneguhkan langkah untuk berbenah demi Bali yang lebih baik di masa mendatang.

Baca juga:  Mengawal Visi Gubernur Bali

Wayan Ajust

Dari dulu pariwisata Bali diuji dengan berbagai macam, entah itu Bom Bali 1 dan 2, bencana alam, sekarang virus. Saya yakin tidak ada tempat selain Bali yang taksu-nya luar biasa. Saya sudah membuktikan ke negara-negara lain di belahan dunia yang lebih luar biasa berasa seperti di planet lain, tapi hanya Bali yang punya taksu yang tidak dimiliki di negara lain. Taksu-nya Bali membuat orang-orang jadi ingin bolak-balik datang ke Bali. Saya seyakin-yakinnya Bali tidak ada habisnya.

Suryawan Putra

Kesempatan pemerintah untuk menata ulang industri andalan pulau kita, rapikan satu per satu yang amburadul, Bali jangan dijual murah. Dulu kita manusia Bali terkenal ramah tamah, sekarang? Terkenal marah-marah karena macet di mana-mana. Dulu orang Bali terkenal murah senyum, sekarang? Saling pasang muka masam, karena saling berebut. Mari kembalikan Bali kita seperti dulu lagi.

Putu Muliawan

Taksu, keramahtamahan, senyum, budaya, alam, semua komplit ada di sini. Tapi perlahan-lahan ambisi, uang, membuat kita tidak peduli lagi. Mari bersama-sama kembalikan semua itu.

Gusti Arik

Tidak apa-apa telat sadar, lebih baik daripada enggak sama sekali. Risiko nina bobo pariwisata terlalu lama. Bukan cuma virus yang bikin Bali sepi, Bali tidak seperti dulu yang tidak ada saingan. Sekarang pariwisata yang lebih baik dari Bali banyak. Lebih baik maksudnya lebih aman, lebih terjangkau, lebih rapi dan bersih. Jadi kalau ingin ramai lagi, perbaiki diri sendiri. Kita sudah terlalu asal-asalan sekarang menyikapi gelombang pariwisata.

Baca juga:  Hati-hati, Modus Minta Pulsa lewat Akun FB Palsu

Arya Prana

Bali astungkara selalu sejalan dengan pariwisata. Hanya, tolong hasil pajaknya dimeratakan. Jangan dimakan daerah tertentu saja. Jika pariwisata adalah pilar utamanya, dimohon pemda mau membantu sektor lain agar ikut berkembang sejalan pembangunan pariwisata. Sang Tarka butuh waktu panjang jika Bali tidak menggantungkan diri dari pariwisata. Bali tidak punya sumber daya alam. Lahan pertanian juga sangat minim.

Kadek KS

Waktunya rehab pembaruan rumah, lingkungan, tempat wisata, dan lain-lain. Nanti di saat musibah sudah reda, wajah baru lebih indah berseri.

Buda Yasa

Sangat setuju, pertanian harus diprioritaskan. Bali harus bisa mandiri, bebas dari ketergantungan. Ketergantungan akan membuat Bali lemah dan pariwisata telah membuat masyarakat dan pemerintah lupa diri.

Ibg Surya Peradantha

Agrarisnya digarap, subak diperkuat. Aturan tentang sawah, subak dan ruang terbuka hijau direvisi supaya lebih pro-lingkungan.

Igedemade Arta Suyasa

Pertanyaan, apa sektor lain selain pariwisata? Hotel, restoran, dll. sudah menjamur, mau dikemanakan? Pariwisata mesti jalan terus, pertanian, kerajinan, dan lainnya sebagai penunjang pariwisata terus dikembangkan. Astungkara bisa ekspor dan membuka lapangan kerja lebih banyak.

Baca juga:  Tanggapan UD Putri

RahDedy Arjun

Pemerataan daerah wisata ke semua kabupaten agar tak jenuh hanya daerah itu-itu saja.

Ida Bagus Leny

Swaha, Bali tanpa turis biar Bali kembali seperti sediakala, tidak usah ruwet.

Wahyudi Abi Faris

Bisa dicoba seperti apa yang telah dilakukan Bupati Kulonprogo, Yogyakarta. ‘’Rakyat Bali membeli Bali’’. Mulai dari pangan sampai pakaian dan industri dimaksimalkan milik pribumi, belanja di toko atau warung pribumi maka Bali akan sejahtera rakyatnya. Selama ini di Bali banyak pengusaha dari luar Bali, bahkan luar negeri yang hanya mengambil keuntungan saja di Bali, hasilnya dibawa ke luar Bali. Mari kita budayakan belanja di warung dan toko atau apa pun yang milik tetangga terdekat dan pribumi. Saya yakin Bali, rakyat Bali bisa sejahtera walau tanpa pariwisata.

Triasa Poleng

Bali terlalu terbuai dengan pariwisata sehingga lahan hijau beralih fungsi, tanah diperjualbelikan, kawasan pura sebagai tempat suci jadi wisata dan sebagainya. Ketika Bali ditinggalkan pariwisata, Bali hanya tinggal nama.

Yayuk Eka Rahayu Pramono

Krisis dunia, jangan Bali selalu disalahkan terus sekarang Lombok ditawarkan. Bandara dunia banyak ditutup. Mumpung sepi, yuk bersihkan Bali dari sampah. Ayo bangkit Baliku. *

BAGIKAN