Wisatawan berjalan-jalan di kawasan Ubud. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Praktisi Pariwisata, Bagus Sudibya mengatakan ada sekitar 30 juta wisatawan mancanegara pergi ke Tiongkok setiap tahunnya. Untuk sementara, mereka tentu tidak akan bepergian ke negeri tirai bambu.

Potensi ini menjadi ceruk pasar yang bisa digarap oleh Bali. Sebab, biasanya para wisatawan itu tidak mengurungkan kepergiannya. Tapi hanya merubah destinasi yang dikunjungi.

Oleh karena itu, Bali harus bisa membuktikan aman dari wabah virus corona. Dibuktikan dengan tidak adanya satupun yang terpapar virus tersebut di Indonesia dan Bali khususnya.

Perlu juga mengundang pers internasional untuk bersama-sama membuktikan hal itu. “Sekarang bagaimana kita bisa meyakinkan mereka datang ke Bali, kita aman tidak ada indikasi virus corona yang terjangkit di Bali dan sebagainya yang didahului oleh tulisan para jurnalis dari luar itu untuk meyakinkan, ” ujarnya di Kantor Dinas Pariwisata Bali, Senin (10/2).

Bagus Sudibya menambahkan, lama tinggal atau length of stay wisatawan Tiongkok selama ini rata-rata 4-5 malam per sekali kunjungan. Jika Bali harus kehilangan sekitar 500 ribu wisatawan Tiongkok, sebetulnya bisa disubstitusi dengan 125-150 ribu wisatawan Eropa, Amerika dan Australia yang memiliki lama tinggal paling tidak 2-4 minggu.

Ditambah lagi, wisatawan mancanegara yang banyak datang ke Tiongkok juga berasal dari negara-negara itu disamping ada pula dari Jepang dan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Jumlah turis Indonesia ke China bahkan mencapai sekitar 300 ribu. “Katakanlah 1 persen saja kita dapat dari 30 juta itu berarti sudah 300 ribu. Itu sudah jauh lebih banyak kalau dilihat dari lama tinggalnya ketimbang (lama tinggal wisatawan) China,” terangnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN