Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi. (BP/ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemprov Bali mengucurkan dana sebesar Rp 50 miliar, untuk biaya kontingen PON Bali saat berlaga pada PON Papua Oktober mendatang. Sementara, tiap atlet dijatah Rp 75 juta untuk biaya pemusatan latihan try in dan try out.

Hingga kini, atlet yang lolos sekitar 300 orang, belum ditambah pelatih dan ofisial yang mencapai 30 sampai dengan 50 persen dari jumlah atlet.

Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi, di Denpasar, Rabu (5/2) mengemukakan, jatah tiap atlet Rp 75 juta sangat minim. Ia membandingkan tuan rumah PON XIX Jabar pada 2016 silam tiap atlet PON dialokasikan dana Rp 200 juta, sedangkan pada PON di Jabar tiap atlet Bali hanya disiapkan dana Rp 50 juta.

Kendati demikian, kata Suwandi, Bali mampu mengoleksi 20 keping emas, 21 perak dan 35 perunggu posisinya di peringkat keenam. Dua provinsi yang membayangi posisi Bali, yakni Riau yang meraup 18 emas, 26 perak dan 27 perunggu, serta tuan rumah PON XX/2020 Papua yang meraih 18 emas, 18 perak dan 32 perunggu yang menempati peringkat kedelapan.

Suwandi menyebutkan, daerah provinsi kaya seperti DKI, Jatim, Jateng, Riau, Kaltim dan Papua, anggaran tiap atlet PON mencapai Rp 200 juta lebih. Yang membanggakan, muncul kabar angin segar bagi Bali bahwa 10 cabor yang awalnya dicoret karena tuan rumah Papua belum siap dengan venue, ternyata tetap dipertandingkan hanya mengambil lokasi di Jatim. “Kesepuluh cabor yang digelar di Jatim merupakan andalan Pulau Dewata, seperti dancesport dan woodball,” terang Suwandi.

Hanya, dirinya mengingatkan tidak seluruh atlet PON akan berlaga, mengingat keterbatasan dana ditambah pemantauan prestasi atlet selama menjalani pemusatan latihan. Oleh sebab itu, para atlet juga harus siap tidak diberangkatkan ke Bumi Cendrawasih jika prestasinya yang melorot. “Kami akan berkonsultasi dengan pengprov cabor saat Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada Rabu (12/2) nanti dan atlet harus tahu diri kalau namanya dicoret,” ucapnya.

Alasannya, Bali hanya menurunkan atlet yang berpeluang mendulang medali, sehingga PON merupakan ajang serius untuk bertanding, bukan lagi uji coba. Selama pemusatan latihan, atlet yang melakukan try out pada level nasional, prestasinya akan di evaluasi. “Saya kira wajar jika atlet dipulangkan dari pemusatan latihan. Hal ini juga dilakukan atlet Pelatnas SEA Games yang tidak berpeluang merebut medali otomatis dipulangkan,” ungkapnya. (Daniel Fajry/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.